Menjaga Ekuilibrium Kota: Mengurai Pro-Kontra CFD dan CFN Palembang

Loading

 

Oleh:  

Mgs. MIF (Evad Arifin) 

Ketua ASPPI DPD Sumsel. 

06.14.00008 

Setiap aksi pasti menimbulkan reaksi. Dalam hukum alam maupun dinamika kebijakan publik, reaksi tersebut hampir selalu terbelah menjadi dua: pro dan kontra. Namun, satu hal yang perlu kita garis bawahi bersama, tidak mengambil aksi sama saja dengan jalan di tempat alias tidak bergerak. Bagi sebuah kota yang sedang berkembang seperti Palembang, diam adalah kemunduran. Oleh karena itu, mencari kesetimbangan (ekuilibrium) antara inovasi kebijakan dan dampak sosialnya adalah kunci utama kesuksesan pembangunan.

Siapa yang tidak mengenal Sungai Musi dengan Jembatan Amperanya? Dua ikon ini sudah melekat kuat dan dikenal luas secara nasional maupun internasional. Setiap pendatang atau wisatawan yang menginjakkan kaki di Bumi Sriwijaya pasti memiliki keinginan kuat untuk mengabadikan momen di bawah tower “kembar” utama Jembatan Ampera, serta mengeksplorasi kawasan terintegrasi di sekitarnya secara santai. Sayangnya, hal tersebut sangat sulit dilakukan pada hari-hari biasa akibat padatnya volume kendaraan. 

Kehadiran Car Free Day (CFD) setiap hari Minggu pagi hadir sebagai jawaban konkret atas aspirasi masyarakat. Agenda mingguan ini sukses bertransformasi menjadi panggung promosi efektif untuk icon dan landmark pariwisata Kota Palembang. Apakah CFD berjalan tanpa penolakan? Jawabannya jelas: cukup banyak yang kontra, terutama terkait pengalihan arus lalu lintas dan kenyamanan pengguna jalan raya. Namun, program ini tetap bertahan karena kemanfaatan publiknya jauh lebih dominan. 

Keberhasilan CFD inilah yang kemudian melahirkan inovasi baru, yaitu Car Free Night (CFN) di Jalan Kolonel Atmo. Langkah berani ini tentu tidak diambil secara gegabah oleh Pemerintah Kota Palembang. Pemilihan lokasi didasari pada karakteristik Jalan Kolonel Atmo yang cenderung sangat lengang di malam hari. Lebih dari itu, kebijakan ini memiliki landasan ilmiah yang kuat karena telah melalui pengkajian akademis mendalam yang menjadi bagian dari disertasi Bapak H. Isnaini Madani, Asisten II Pemkot Palembang. 

Indikator keberhasilan kebijakan ini dapat dilihat dari antusiasme pengunjung CFN yang memadati lokasi setiap malam Minggu. Dampak instannya sangat positif: sektor UMKM Kota Palembang langsung bergeliat dan naik kelas. Tidak berlebihan jika kita katakan bahwa CFN telah menjadi ruang publik baru yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Palembang maupun warga Sumatra Selatan secara luas. Tentu saja, riak kontra tetap ada di lapangan, meskipun skalanya tidak sebesar pada pelaksanaan CFD. 

Secara makro, baik CFD maupun CFN terbukti mampu menaikkan “tingkat kebahagiaan (happiness index) dan perekonomian masyarakat”. Keuntungan bonus (multiplier effect) yang tidak kalah penting adalah akumulasi exposure gratis bagi pariwisata Palembang lewat unggahan digital para pengunjung di media sosial. 

Di sisi lain, kita juga harus bersikap realistis dan objektif. Setiap intervensi kebijakan di suatu kawasan pasti akan menimbulkan bangkitan dan tarikan transportasi baru, serta memicu perubahan tatanan sosial-ekonomi masyarakat sekitar. Hal ini mencakup tantangan pengelolaan kantong parkir, manajemen rekayasa lalu lintas yang presisi, hingga zonasi pedagang agar tetap tertib. 

Kita meyakini, pemerintah daerah tidak akan menutup mata. Pemkot Palembang akan selalu membuka mata dan telinga selebar lebarnya atas semua reaksi yang terjadi, aktif merumuskan solusi solutif atas dampak yang muncul, serta terus mengutamakan kemaslahatan masyarakat luas demi menjaga kesetimbangan kota yang berkelanjutan. 

Editor: Markopik

Redaksi Detiknews.tv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori Berita

BOX REDAKSI