![]()

Detiknews.tv – Palembang | Untuk pertama kalinya, pelaksanaan qurban di kampung tersebut dikelola dan dipublikasikan secara lebih terorganisir menggunakan identitas sosial “Kampung Ngajee”. Mulai dari poster ajakan berqurban, dokumentasi kegiatan, hingga publikasi media sosial dilakukan secara serius oleh para pemuda dan penggerak kampung.
Padahal, tradisi qurban di kampung itu sejatinya sudah berlangsung sejak lama.
“Tahun-tahun sebelumnya tetap ada qurban. Tapi memang masih mengalir alami saja dari masyarakat. Belum ada nama sosialnya, belum ada ajakan terbuka, dokumentasi, ataupun pengelolaan bersama seperti sekarang,” ujar panitia, Rabu (27/05/26)
Tak disangka, pendekatan sederhana namun lebih rapi itu justru mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Tahun ini terkumpul 7 ekor kambing dan 2 ekor sapi untuk disembelih dan didistribusikan kepada masyarakat sekitar.
Mayoritas hewan qurban berasal dari warga kampung sendiri. Namun mulai tumbuh pula kepercayaan dari luar daerah. Satu ekor kambing dititipkan dari Jakarta, sementara satu kambing lainnya berasal dari Sakatiga Seberang khusus untuk Kampung Ngajee.
Salah satu pequrban, Guru Ahmad Huazi, menyampaikan bahwa sapi qurban yang ia amanahkan tahun ini diniatkan untuk keluarga besar Sanal bin Nasalik beserta beroyot dan juga keluarga besar Kampung Ngajee.
Di tengah proses penyembelihan, suasana sempat menghangat ketika hadir salah satu tetua kampung yang akrab dipanggil Kek Ngah Kamil.
Dengan wajah teduh, ia menyampaikan harapan sederhana yang diAaminkan warga sekitar.
“Semoga kampung ini diberkahi Allah SWT,” tuturnya.
Ucapan singkat itu menjadi pengingat bahwa qurban di Kampung Ngajee bukan sekadar soal pembagian daging, tetapi juga tentang menjaga denyut kebersamaan dan semangat kebaikan di tengah masyarakat.
Selain hewan qurban yang dikelola mandiri, Kampung Ngajee juga menerima bantuan lebih dari 60 kantong daging sapi qurban dari PT Pupuk Sriwidjaja Palembang atau PT Pusri.
Founder Kampung Ngajee, Guru Saiyid Mahadhir, mengatakan bahwa daging qurban diprioritaskan untuk masyarakat yang memang berhak menerima.
“Mayoritas warga di sini merupakan kaum fakir dan miskin. Selain itu, penerima juga Insya Allah mereka yang rutin ikut dalam agenda-agenda kebaikan di Kampung Ngajee, seperti pengajian, kegiatan sosial, dan yang turut meramaikan musollah,” ujarnya.
Meski jumlah qurban tahun ini meningkat dibanding biasanya, panitia mengaku masih ada sebagian masyarakat yang belum kebagian.
Karena itu, mereka berharap tahun depan semakin banyak masyarakat yang mempercayakan qurbannya melalui Kampung Ngajee agar manfaatnya bisa menjangkau lebih luas.
“Harapannya tahun depan lebih banyak lagi yang berqurban dan menitipkan qurbannya di sini. Supaya lebih banyak masyarakat yang bisa merasakan juga,” kata panitia.
Sementara itu, co-founder Kampung Ngajee, Anas Roiyan, mengaku sempat tidak menyangka antusiasme masyarakat akan sebesar ini.
“Awalnya saya ragu. Melihat kondisi ekonomi sekarang, saya pikir daya beli qurban menurun. Ternyata Allah kasih kejutan,” tuturnya.
Anas mengaku ikut terlibat langsung sejak proses penyembelihan, distribusi hingga dokumentasi kegiatan.
“Memang penat. Ikut motong, mendistribusikan, bikin dokumentasi dan video juga. Tapi ini capek yang membahagiakan,” ujarnya sambil tersenyum.
Perlahan, Kampung Ngajee mulai tumbuh bukan hanya sebagai nama, tetapi sebagai ruang kebaikan yang hidup di tengah masyarakat Desa Tanjung Seteko.
Dan dari kampung kecil itulah, semangat berbagi terus dijaga agar tetap menyala dari tahun ke tahun. (Yulia).



