![]()

Oleh daeng supriyanto SH. MH Sekretaris Jenderal Komite Sepakbola Mini Indonesia
“Sepakbola bukan sekadar permainan bola yang ditendang dua puluh dua orang di atas lapangan rumput. Ia adalah cermin peradaban, medan pertempuran kekuasaan, dan panggung tempat nilai-nilai, kepentingan, serta sejarah saling bertabrakan dan menyatu menjadi satu narasi besar yang menghubungkan bangsa-bangsa di dunia.”
Begitulah kalimat yang pernah diucapkan oleh seorang pemikir olahraga terkemuka, dan kini maknanya terasa semakin nyata ketika kita menyimak narasi luar biasa yang disusun oleh Erwiantoro Cocomeo dalam seri tulisannya Road to World Cup 2026 Jilid 4: Manchester City Raja Sumbangan Pemain. Cerita yang diungkapkan bukan sekadar data statistik atau berita sehari-hari yang mudah terlupakan, melainkan sebuah kisah yang mengungkapkan struktur kekuasaan, dinamika politik, serta transformasi mendasar yang sedang mengubah wajah sepakbola dunia menjelang ajang empat tahunan paling bergengsi tersebut. Piala Dunia 2026 yang akan digelar di tiga negara Amerika Utara – Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat – tidak hanya akan menjadi panggung pertunjukan bakat terbaik dunia, tetapi juga menjadi saksi bisu atas pergantian tatanan kekuasaan yang telah lama bergemuruh di balik layar dunia sepakbola.
I. MANCHESTER CITY: SIMBOL KEKUASAAN BARU DAN TRANSFORMASI NILAI SEPAKBOLA
Ketika data menunjukkan bahwa Manchester City akan menyumbangkan sebanyak 18 pemain ke berbagai negara peserta Piala Dunia 2026, hal ini bukan sekadar angka yang mencatat rekor baru, melainkan sebuah simbol dari pergeseran fundamental dalam cara kita memahami sepakbola modern. Dulu, sepakbola seringkali dianggap sebagai ekspresi identitas lokal, cerminan budaya suatu daerah, serta hasil dari pembinaan bakat yang tumbuh dari akar rumput. Namun kini, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kekayaan modal, strategi bisnis yang terstruktur, serta akses terhadap sumber daya ekonomi yang melimpah telah menjadi faktor penentu utama dalam membentuk kekuatan sepakbola global.
Manchester City, yang berada di bawah kepemilikan Sheikh Mansour serta Abu Dhabi United Group dengan kekayaan yang mencapai angka luar biasa yaitu 5,3 miliar dolar AS atau setara dengan 85 triliun rupiah, telah membuktikan bahwa sepakbola di era modern adalah industri besar yang bergerak sesuai dengan hukum ekonomi global. Klub ini tidak hanya membangun tim yang mendominasi kompetisi domestik maupun Eropa, tetapi juga menjadi pusat penyebaran bakat terbaik ke seluruh penjuru dunia. Dari James Trafford yang membela Inggris, Ruben Dias yang menjadi tiang pertahanan Portugal, hingga Omar Marmoush yang membawa harapan bagi Mesir dan Abdukodir Khusanov yang menjadi kebanggaan Uzbekistan – nama-nama ini membuktikan bahwa Manchester City telah menjadi “pabrik bakat dunia” yang melampaui batas negara maupun benua.
Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan filosofis yang mendalam: apakah sepakbola masih tetap menjadi milik rakyat, ataukah kini telah berubah menjadi milik kekuatan modal yang mampu membeli bakat, membangun sistem, serta mengatur arah perkembangan olahraga ini? Di satu sisi, dominasi klub kaya seperti Manchester City memberikan dampak positif berupa peningkatan kualitas permainan, kemajuan teknologi pelatihan, serta akses bagi bakat muda dari berbagai negara untuk berkembang di tingkat tertinggi. Namun di sisi lain, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya keberagaman gaya permainan, serta terganggunya keseimbangan persaingan di mana klub dengan sumber daya terbatas semakin sulit untuk bersaing dan menciptakan sejarah sendiri. Manchester City sebagai raja sumbangan pemain adalah bukti nyata bahwa sepakbola kini berada di persimpangan jalan antara nilai-nilai tradisional yang menghargai identitas dan budaya, dengan nilai-nilai modern yang mengutamakan efisiensi, kekayaan, serta pencapaian prestasi semata.
II. DRAMA SPANYOL: POLITIK SEPAKBOLA SEBAGAI CERMIN DINAMIKA SOSIAL DAN KEKUASAAN
Salah satu bagian yang paling menarik sekaligus penuh makna dalam narasi ini adalah keputusan Luis de la Fuente yang mencoret seluruh pemain Real Madrid dari skuad timnas Spanyol untuk Piala Dunia 2026. Keputusan ini menimbulkan kehebohan di kalangan penggemar sepakbola dan pengamat, terlebih jika kita melihat kualitas pemain yang dimiliki oleh klub asal ibu kota Spanyol tersebut – mulai dari Thibaut Courtois, Jude Bellingham, Kylian Mbappe, hingga Vinicius Junior, semua adalah nama-nama yang diakui sebagai pemain kelas dunia dengan kemampuan luar biasa. Ketika Toni Kroos menyatakan bahwa pemilihan ini mengandung unsur masalah pribadi, dan Zinedine Zidane melihat adanya unsur politik sepakbola yang tersembunyi di baliknya, kita menyadari bahwa di lapangan hijau, pertarungan tidak hanya terjadi antara dua tim yang berhadapan, tetapi juga melibatkan pertarungan kepentingan, sejarah, serta hubungan kekuasaan yang telah terjalin selama puluhan tahun di dalam struktur sepakbola Spanyol.
Sepakbola di Spanyol bukan sekadar olahraga – ia adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah, budaya, serta dinamika politik negara tersebut. Persaingan antara Real Madrid dan Barcelona telah lama menjadi simbol dari perbedaan identitas, pandangan hidup, serta kepentingan yang berbeda di dalam masyarakat Spanyol. Keputusan Luis de la Fuente bukan sekadar keputusan teknis yang didasarkan pada kemampuan sepakbola semata, melainkan sebuah pilihan yang sarat dengan makna politik dan sosial. Ia mengingatkan kita bahwa timnas tidak hanya merupakan kumpulan pemain terbaik dari seluruh negara, tetapi juga sebuah entitas yang harus mampu menyatukan berbagai kepentingan yang berbeda, atau sebaliknya, menjadi medan pertempuran untuk menegaskan kekuasaan dan pengaruh tertentu.
Hal ini membawa kita pada pemahaman yang lebih luas: politik sepakbola adalah cermin dari politik masyarakat itu sendiri. Di dalamnya terdapat pertarungan antara kekuatan lama dan kekuatan baru, antara kepentingan kelompok tertentu dengan kepentingan bersama, serta antara nilai-nilai yang telah lama dipegang teguh dengan perubahan zaman yang terus berjalan. Keputusan Luis de la Fuente mungkin akan menimbulkan perdebatan yang panjang, namun ia juga memberikan pelajaran berharga bahwa dalam dunia sepakbola, tidak ada keputusan yang benar-benar netral – setiap pilihan selalu membawa serta beban sejarah, kepentingan, serta konsekuensi yang akan dirasakan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah seorang pelatih harus memprioritaskan prestasi semata dengan memilih pemain terbaik tanpa memandang latar belakang klubnya, ataukah ia juga memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan dinamika sosial dan politik yang ada di dalam masyarakat sepakbola negaranya? Jawabannya tidak pernah tunggal, dan itulah yang membuat sepakbola menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar permainan.
III. DOMINASI LIGA INGGRIS: BISNIS SEBAGAI PENGGERAK UTAMA PERUBAHAN
Data yang disajikan oleh mBah Coco mengenai perkembangan jumlah pemain yang disumbangkan oleh klub-klub besar dunia sejak Piala Dunia 2018 hingga 2026 menunjukkan satu pola yang sangat jelas: dominasi klub-klub dari Liga Utama Inggris atau Premier League. Jika pada tahun 2018 Tottenham Hotspur menjadi penyumbang terbanyak dengan 16 pemain, pada tahun 2022 Manchester City dan Bayern München sama-sama menyumbangkan 14 pemain, dan pada tahun 2026 Manchester City, Arsenal, serta Paris Saint-Germain berada di posisi teratas. Fenomena ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari perkembangan bisnis sepakbola yang telah mengubah Premier League menjadi pasar sepakbola terbesar dan paling berpengaruh di dunia.
Dengan kekayaan yang luar biasa, akses terhadap pasar global, serta sistem manajemen yang profesional, klub-klub Inggris mampu membeli bakat terbaik dari seluruh penjuru dunia, membangun infrastruktur yang canggih, serta menciptakan lingkungan yang memungkinkan pemain untuk berkembang mencapai potensi maksimalnya. Arsenal yang dimiliki oleh Stan Kroenke dengan kekayaan mencapai 6,16 miliar euro atau sekitar 164,4 triliun rupiah, serta Paris Saint-Germain yang sebagian besar dimiliki oleh penguasa Qatar dengan kekayaan 6,3 miliar dolar AS, adalah bukti nyata bahwa modal besar telah menjadi kunci utama untuk membangun kekuatan sepakbola yang mendunia. Bahkan klub seperti Slavia Praha dari Republik Ceko yang menyumbangkan 11 pemain dari skuad lokalnya menjadi pengecualian yang langka di tengah dominasi klub-klub kaya tersebut – sebuah bukti bahwa masih ada ruang untuk sistem pembinaan tradisional, meskipun ruang itu semakin menyempit seiring dengan arus globalisasi sepakbola.
Dominasi bisnis sepakbola ini membawa kita pada pemikiran mendalam mengenai hubungan antara ekonomi dan olahraga. Di satu sisi, perkembangan ini telah meningkatkan kualitas sepakbola secara keseluruhan, memberikan kesempatan bagi pemain dari negara berkembang untuk berkembang di tingkat tertinggi, serta menghubungkan bangsa-bangsa melalui bahasa sepakbola yang universal. Namun di sisi lain, ia juga menciptakan kesenjangan yang semakin lebar antara klub kaya dan klub miskin, serta antara negara yang memiliki sumber daya ekonomi melimpah dengan negara yang memiliki keterbatasan. Pertanyaan filosofis yang muncul adalah: apakah kemajuan sepakbola harus selalu dibayar dengan hilangnya keberagaman dan kesetaraan? Apakah kita harus menerima bahwa di masa depan, sepakbola akan semakin didominasi oleh segelintir kekuatan ekonomi besar, sementara klub dan negara kecil hanya akan menjadi penonton atau pemasok bakat semata?
IV. TANTANGAN DAN HARAPAN MENJELANG PIALA DUNIA 2026
Narasi yang disusun oleh Erwiantoro Cocomeo juga mengungkapkan berbagai tantangan praktis yang akan dihadapi menjelang ajang Piala Dunia 2026, seperti kasus pemain Arsenal dan Paris Saint-Germain yang baru akan bergabung dengan timnas mereka sehari sebelum pertandingan dimulai setelah bermain di final Liga Champions UEFA. Hal ini menunjukkan adanya pertentangan kepentingan antara klub dan timnas yang semakin sering terjadi di era sepakbola modern. Klub menginginkan pemainnya tetap tersedia untuk setiap pertandingan penting, sementara timnas membutuhkan waktu yang cukup untuk membangun kerjasama tim, strategi, serta semangat kebersamaan yang menjadi kunci keberhasilan di ajang Piala Dunia.
Selain itu, kita juga melihat cerita menarik seperti Liverpool yang tidak menyumbangkan satu pun pemain untuk timnas Inggris namun menjadi pilar utama bagi kekuatan timnas Belanda, atau Bayern München yang hampir menjadi “tim nasional kedua” bagi Jerman. Semua hal ini menunjukkan bahwa batas antara klub dan negara semakin kabur, dan sepakbola kini telah menjadi sebuah sistem yang saling terhubung secara kompleks di mana setiap perubahan yang terjadi di satu tempat akan memberikan dampak di tempat lain.
Namun di balik semua dinamika, persaingan, serta perubahan yang terjadi, satu hal yang tetap tidak berubah adalah makna mendasar dari Piala Dunia itu sendiri. Ajang ini tetap menjadi panggung di mana mimpi bangsa-bangsa diwujudkan, di mana sejarah baru ditulis, dan di mana nilai-nilai seperti persatuan, persahabatan, serta semangat juang diuji dan dipertahankan. Meskipun struktur kekuasaan mungkin berubah, meskipun pemain-pemain terbaik dunia mungkin berasal dari klub yang sama, dan meskipun politik serta bisnis semakin banyak memengaruhi jalannya pertandingan – sepakbola akan tetap menjadi bahasa yang menyatukan kita semua, serta sumber harapan dan kebanggaan bagi jutaan orang di seluruh dunia.
Cerita yang disampaikan oleh mBah Coco bukan sekadar berita atau data, melainkan sebuah pengingat bahwa di balik setiap gol, setiap kemenangan, serta setiap keputusan yang diambil, terdapat kisah yang jauh lebih besar – kisah tentang manusia, tentang kekuasaan, tentang perubahan, serta tentang nilai-nilai yang kita pegang teguh sebagai bagian dari komunitas sepakbola dunia. Piala Dunia 2026 bukan hanya akan menjadi ajang untuk menentukan siapa tim terbaik di dunia, tetapi juga menjadi momen bagi kita semua untuk merenungkan makna sebenarnya dari sepakbola, serta arah mana yang ingin kita tempuh bersama dalam perjalanan panjang peradaban olahraga ini.
(Bersambung…)




