Saat Sains dan Islam Berjalan Beriringan Menjaga Jiwa dan Merawat Bumi

Loading

Oleh: Kiai Mahmudi, S.Ag, M.Si – Sekretaris Umum MUI Sumatera Selatan

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah kehidupan manusia secara luar biasa. Apa yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari kini dapat dilakukan dalam hitungan detik. Teknologi membantu manusia bekerja, belajar, berkomunikasi dan memperoleh informasi dengan lebih mudah. Namun kemajuan itu juga menghadirkan tantangan baru. Pola hidup semakin cepat, waktu istirahat berkurang, makanan semakin beragam, tekanan hidup meningkat, dan persoalan lingkungan semakin nyata.

Dalam menghadapi perubahan tersebut, Islam memiliki prinsip yang tetap relevan. Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjauhi kemajuan, tetapi memberikan pedoman agar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan secara bijaksana serta membawa kemaslahatan.

Salah satu persoalan penting adalah kesehatan. Islam mengajarkan konsep halalan thayyiban dalam memilih makanan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2):168, “Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi.”

Halal bukan satu-satunya perhatian. Makanan juga harus baik, bersih, aman dan memberikan manfaat bagi tubuh. Karena itu, masyarakat modern perlu semakin sadar terhadap apa yang dikonsumsi. Makanan yang enak belum tentu baik apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Allah SWT menegaskan dalam **QS. Al-A’raf (7):31), “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” Prinsip sederhana ini sangat relevan dengan gaya hidup masa kini. Menjaga porsi makanan, memperhatikan gizi, mengurangi kebiasaan berlebihan serta menjaga kebersihan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah tubuh.

Kesehatan juga membutuhkan istirahat yang cukup. Kehidupan modern sering membuat seseorang tidur terlalu larut karena pekerjaan, hiburan atau penggunaan gawai. Padahal Allah SWT berfirman dalam **QS. An-Naba’ (78):9), “Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat.”

Tidur bukan kemalasan. Tidur merupakan kebutuhan manusia agar tubuh dan pikiran memperoleh kesempatan untuk memulihkan diri. Islam juga mengajarkan adab sebelum tidur, seperti berwudhu, berdoa dan berdzikir. Dengan demikian, kehidupan seorang Muslim idealnya memiliki keseimbangan antara bekerja, beribadah, beraktivitas dan beristirahat.

Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga perlu mendapatkan perhatian. Tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, masalah keluarga, kesepian dan derasnya informasi media sosial dapat membuat manusia mengalami kelelahan batin.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan harapan. QS. Ar-Ra’d (13):28 menyatakan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Dzikir, doa, sabar dan tawakal dapat menjadi sumber kekuatan spiritual.

Namun, ikhtiar menjaga kesehatan mental juga harus dilakukan secara nyata. Berbicara dengan keluarga, sahabat, ulama, maupun tenaga profesional ketika menghadapi masalah berat merupakan bagian dari ikhtiar. Agama dan ilmu pengetahuan tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama dalam membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Islam juga mendorong manusia menggunakan akalnya untuk mempelajari alam. QS. Ali ‘Imran (3):190–191 mengajak manusia memperhatikan penciptaan langit dan bumi. Ini menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang yang besar bagi manusia untuk berpikir, mengamati dan mencari ilmu.

Al-Qur’an memang bukan buku teks ilmu pengetahuan. Namun Al-Qur’an memberikan dorongan agar manusia membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Sains membantu manusia memahami berbagai proses alam, sedangkan iman memberikan kesadaran bahwa ilmu harus digunakan secara bertanggung jawab.

Tanggung jawab tersebut semakin penting dalam persoalan lingkungan. Manusia diberi amanah sebagai khalifah di bumi sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah (2):30. Kekhalifahan bukan berarti manusia bebas mengeksploitasi alam, melainkan memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangannya.

Allah mengingatkan dalam QS. Ar-Rum (30):41 bahwa kerusakan di darat dan di laut telah tampak akibat perbuatan tangan manusia. Karena itu, menjaga sungai, hutan, udara, tanah dan lingkungan sekitar bukan hanya persoalan pemerintah atau lembaga tertentu. Ini merupakan tanggung jawab bersama.

Pada akhirnya, Islam mengajarkan keseimbangan: menjaga tubuh, menjaga pikiran, mengembangkan ilmu dan merawat lingkungan. Semakin maju kehidupan manusia, semakin besar pula tanggung jawab moralnya.

Ilmu pengetahuan memberi manusia kemampuan untuk melakukan banyak hal. Iman memberikan arah tentang bagaimana kemampuan itu digunakan. Keduanya dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang sehat, beradab dan bermanfaat.

Menjaga diri adalah amanah. Menjaga sesama adalah kepedulian. Menjaga bumi adalah tanggung jawab. Jika ketiganya berjalan bersama, kemajuan modern tidak hanya menghasilkan manusia yang semakin pintar, tetapi juga manusia yang semakin bijaksana dan bertanggung jawab.

Redaksi Detiknews.tv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori Berita

BOX REDAKSI