![]()

Oleh:
Daeng Supriyanto SH MH alumni pondok pesantren sufi Baron Nganjuk Jawa Timur
Di dalam peta pemikiran filsafat yang luas dan mendalam, pertanyaan paling mendasar dan abadi yang senantiasa menggema dari zaman ke zaman adalah pertanyaan tentang diri sendiri: “Apakah hakikat manusia itu? Apa makna menjadi manusia seutuhnya?” Pertanyaan ini bukan sekadar teori kosong di ruang kelas atau debat para ahli, melainkan merupakan kunci utama yang menentukan arah seluruh kehidupan sosial, budaya, dan peradaban kita. Dari sana, lahirlah sebuah kesadaran yang sangat penting namun sering kali terabaikan: bahaya terbesar yang mengancam dunia ini, bahaya yang jauh lebih dahsyat daripada bencana alam atau wabah penyakit, adalah keberadaan seorang manusia yang hidup, bergerak, dan memegang peran di tengah masyarakat, namun tidak mengenal, tidak memahami, dan tidak menyadari sisi kemanusiaan yang ada di dalam dirinya sendiri. Fenomena ini bukan sekadar ketidaktahuan biasa, melainkan sebuah buta hakiki, sebuah kekosongan makna yang perlahan namun pasti akan meluluhlantakkan segala nilai kebaikan, keadilan, dan kasih sayang yang menjadi pondasi keberadaan kita bersama. Ketika seseorang lupa atau tidak tahu apa itu kemanusiaan, ia tidak hanya kehilangan jati dirinya sebagai manusia, tetapi juga berubah menjadi ancaman nyata bagi manusia lain, bagi tatanan sosial, dan bagi kelangsungan hidup peradaban yang beradab.
Secara ontologis, kemanusiaan bukanlah sekadar ciri biologis atau fisik yang membedakan kita dengan makhluk lain. Kemanusiaan adalah esensi, adalah kumpulan nilai, potensi, dan martabat yang melekat pada diri setiap insan. Dalam pandangan Aristoteles, manusia didefinisikan sebagai zoon politikon—makhluk sosial yang hanya dapat mewujudkan kemanusiaannya dalam kebersamaan. Ia juga menyebut manusia sebagai makhluk yang berakal (homo sapiens), yang memiliki kemampuan berpikir, membedakan benar dan salah, serta memiliki kesadaran moral. Kemudian, Immanuel Kant menegaskan prinsip mutlak bahwa manusia adalah tujuan itu sendiri, bukan sekadar alat atau sarana bagi orang lain. Martabat manusia bersifat mutlak, tak terukur harganya, dan harus dihormati oleh siapa pun. Inilah inti dari sisi kemanusiaan: kesadaran bahwa diri sendiri dan orang lain sama-sama memiliki nilai luhur, memiliki perasaan, memiliki hak, dan memiliki kewajiban untuk saling menghargai. Oleh karena itu, ketika seseorang dikatakan tidak tahu dengan sisi kemanusiaannya sendiri, artinya ia hidup tanpa menyadari esensi tersebut. Ia memiliki tubuh manusia, tetapi hidupnya tidak dijiwai oleh nilai-nilai yang membuat manusia menjadi mulia. Ia berjalan di muka bumi ini dengan kehampaan batin, di mana akal budinya tidak digunakan untuk kebijaksanaan, dan kebebasannya tidak diarahkan pada tanggung jawab.
Bahaya pertama dan yang paling mendasar dari ketidaktahuan ini adalah hilangnya batas antara yang boleh dan yang tidak boleh, antara yang suci dan yang hina. Dalam pemikiran filsuf moral seperti Sokrates, diyakini bahwa kejahatan lahir dari ketidaktahuan. Tidak ada orang yang berbuat jahat dengan sadar dan mengetahui sepenuhnya bahwa itu jahat; mereka berbuat jahat karena mengira hal itu baik atau menguntungkan bagi dirinya. Jika kita tarik pemikiran ini lebih jauh, seseorang yang tidak memahami sisi kemanusiaan dirinya tidak akan pernah bisa memahami makna kebaikan sejati. Bagaimana mungkin ia bisa berbuat baik kepada sesama, jika ia bahkan tidak tahu apa itu “manusia” dalam makna yang luhur? Bagi orang semacam ini, nilai-nilai seperti kasih sayang, keadilan, kejujuran, empati, dan pengorbanan adalah konsep asing, kosong, atau bahkan dianggap kelemahan. Akibatnya, moralitas bagi mereka hanyalah aturan main semata yang dipatuhi hanya karena takut dihukum, bukan karena kesadaran hati. Ketika ketakutan itu hilang atau ketika kekuasaan sudah di tangan, maka apa pun boleh dilakukan. Ia akan mudah sekali menginjak hak orang lain, menyakiti perasaan sesama, atau bahkan merenggut nyawa dan kehormatan orang lain tanpa merasa bersalah, karena di dalam kesadarannya yang sempit itu, ia tidak melihat orang lain sebagai sesama manusia yang bermartabat, melainkan hanya sebagai benda, alat, atau penghalang bagi keinginannya. Inilah asal mula segala kejahatan besar di dunia: dari penindasan, perbudakan, korupsi, hingga perang dan genosida, semuanya berakar dari manusia yang telah kehilangan cermin kemanusiaan di dalam dirinya.
Bahaya kedua yang tak kalah mengerikan adalah penyalahgunaan akal dan kekuasaan menjadi senjata pemusnah. Manusia dibekali akal pikiran yang jauh lebih hebat daripada makhluk lain, namun akal itu ibarat pedang bermata dua. Jika akal itu dijiwai oleh kesadaran kemanusiaan, ia akan menjadi alat penemuan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, dan kesejahteraan bersama. Namun, jika akal itu ada pada orang yang tidak tahu kemanusiaannya, maka akal itu berubah menjadi alat kecerdikan untuk berbuat jahat. Ia akan menggunakan kepintarannya untuk menipu, memanipulasi, merancang penipuan yang canggih, atau menciptakan cara-cara licik untuk menindas orang lain tanpa ketahuan. Pemikir Hannah Arendt pernah memperkenalkan konsep “kejahatan yang biasa saja” atau the banality of evil, di mana kejahatan besar sering kali dilakukan oleh orang-orang biasa yang tidak memiliki kedalaman pemikiran moral, orang yang hanya menjalankan perintah atau aturan tanpa bertanya apakah itu benar atau salah, orang yang tidak mampu membayangkan penderitaan orang lain karena mereka buta akan sisi kemanusiaan itu sendiri. Bahayanya adalah: semakin tinggi jabatan, semakin besar kekuasaan, atau semakin cerdas otak seseorang, maka semakin besar pula kerusakan yang ditimbulkan jika orang itu kosong dari nilai kemanusiaan. Seorang pemimpin yang tidak manusiawi akan memimpin rakyatnya menuju kehancuran; seorang hakim yang tidak manusiawi akan menjadikan hukum sebagai sarana balas dendam; dan seorang ilmuwan yang tidak manusiawi akan menciptakan teknologi yang menghancurkan peradaban.
Lebih jauh lagi, ketidaktahuan akan sisi kemanusiaan diri sendiri menimbulkan keruntuhan relasi sosial dan kehancuran rasa kebersamaan. Dasar dari kehidupan bermasyarakat adalah rasa empati, yaitu kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain, kemampuan menempatkan diri di posisi orang lain. Empati ini hanya bisa tumbuh subur jika seseorang sadar bahwa dirinya dan orang lain memiliki hakikat yang sama. Jika saya tahu bahwa saya adalah manusia yang butuh dihargai, maka saya otomatis paham bahwa orang lain pun butuh hal yang sama. Jika saya tahu saya adalah makhluk yang rapuh dan bisa terluka, maka saya akan berhati-hati agar tidak melukai orang lain. Namun, bagi mereka yang tidak mengenal sisi kemanusiaan, rasa persamaan itu tidak ada. Dunia bagi mereka terbagi menjadi dua saja: “Saya” dan “Bukan Saya”. Yang penting adalah kepentingan diri sendiri, keinginan sendiri, dan keuntungan sendiri. Sisanya dianggap sekadar latar belakang, objek, atau pesaing yang harus dikalahkan. Hubungan antarmanusia pun tidak lagi didasari rasa saling mengasihi atau saling membutuhkan, melainkan berubah menjadi hubungan transaksional, penuh kecurigaan, persaingan mati-matian, dan saling memakan. Di sini kita melihat mengapa masyarakat kita sering kali dihinggapi kekerasan, keributan, dan ketidakadilan: karena banyak di antara kita yang hidup berdampingan, tetapi tidak hidup sebagai manusia yang berjiwa manusiawi. Kita hidup seperti kumpulan makhluk yang cerdas tapi tidak berhati, yang hidup di tempat yang sama namun hati dan pikirannya saling terasing.
Ditinjau dari kacamata filsafat eksistensialisme yang digagas oleh tokoh seperti Jean-Paul Sartre, manusia adalah apa yang ia buat dirinya sendiri. Tidak ada hakikat manusia yang sudah jadi begitu saja, melainkan hakikat itu dibangun melalui kesadaran dan tindakan sehari-hari. Oleh karena itu, ketidaktahuan akan sisi kemanusiaan adalah sebuah kegagalan eksistensial yang fatal. Ia adalah kegagalan untuk menjadi manusia seutuhnya. Orang yang tidak tahu sisi kemanusiaannya hidup dalam keadaan “kehidupan yang tidak otentik”, hidup seolah-olah hanya sekadar ada, berjalan, makan, dan bekerja, tetapi kehilangan makna terdalam dari keberadaannya. Bahayanya, kekosongan makna ini sering kali mereka isi dengan hal-hal yang semu: kekayaan yang tak terbatas, kekuasaan mutlak, kemewahan, atau ketenaran. Mereka mengejar hal-hal itu dengan gila karena mereka berpikir itulah tujuan hidup. Namun, karena pondasi kemanusiaannya tidak ada, maka pencapaian-pencapaian itu tidak akan pernah membuat mereka bahagia atau tenang. Sebaliknya, hal-hal itu justru menjadi bahan bakar yang semakin memperbesar kejahatan dan kesombongan mereka. Seperti kata filsuf Seneca, “Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada manusia yang memiliki segalanya, tetapi tidak memiliki dirinya sendiri.” Dan manusia yang tidak memiliki dirinya sendiri—yakni sisi kemanusiaannya—adalah manusia yang paling berbahaya bagi dirinya sendiri dan bagi dunia.
Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah: Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin manusia tidak tahu sisi kemanusiaannya? Jawabannya terletak pada kurangnya refleksi diri, kurangnya pendidikan karakter, dan kegagalan memahami sejarah serta nilai-nilai luhur. Di zaman modern ini, kita terlalu sibuk mengajarkan anak-anak kita segala ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan, tetapi sering kali lupa mengajarkan mereka tentang “seni menjadi manusia”. Kita sibuk mengasah akal, tetapi membiarkan hati menjadi tumpul. Kita mengajarkan cara mencari untung, tetapi kurang mengajarkan cara menjaga kehormatan. Padahal, seperti yang diajarkan oleh para pemikir besar Islam seperti Al-Ghazali atau Ibnu Miskawaih, pendidikan sejati adalah pemurnian jiwa, penanaman akhlak, dan pengenalan diri sendiri. Siapa yang tidak mengenal dirinya, tidak akan mengenal Tuhannya, dan tidak akan mengenal sesamanya.
Pada akhirnya, kita harus menyadari kebenaran yang pahit namun mutlak ini: Bahaya terbesar bagi dunia bukanlah binatang buas, bukan pula kekuatan alam, melainkan manusia yang berakal tetapi tidak berperasaan, manusia yang kuat tetapi tidak tahu belas kasihan, manusia yang cerdas tetapi kosong dari kemanusiaan. Manusia semacam ini adalah paradoks hidup; ia disebut manusia secara nama dan wujud, tetapi tindakan dan jiwanya jauh di bawah martabat kemanusiaan.
Maka dari itu, tugas terberat dan terpenting bagi kita semua, sebagai individu maupun sebagai bangsa, bukanlah sekadar mengejar kemajuan materi atau kekuasaan, melainkan melakukan perjalanan panjang penemuan diri: kembali mengenali, memahami, dan menumbuhkan sisi kemanusiaan yang ada di dalam hati sanubari kita masing-masing. Sebab, hanya manusia yang sadar akan kemanusiaannya sajalah yang bisa menjaga kedamaian, menegakkan keadilan, dan memastikan bahwa peradaban manusia tetap berjalan di jalan yang lurus, beradab, dan penuh kasih sayang. Jika kita mengabaikan hal ini, jika kita membiarkan diri kita atau orang lain hidup tanpa memahami hakikat dirinya, maka kita sedang membiarkan benih kehancuran tumbuh di tengah-tengah kita sendiri. Dan ketika benih itu tumbuh menjadi pohon besar, maka tidak ada lagi keamanan, kebenaran, atau kebaikan yang bisa kita harapkan di dunia ini.




