Asap Akibat Karhutla Semakin Memekat, Pemuda Buka Suara dan Ambil Aksi Nyata

Loading

Detiknews.tv – Palembang | Kabut asap di awal Oktober semakin memekat, terpantau kualitas udara di Kota Palembang – Sumatera Selatan berada pada tingkat berbahaya akibat dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan IQAir mencatat angka ekstrem di level berbahaya menembus angka 1.010 Sulit mencari akar masalahnya, karena memang penyabab karhutlat disamping cuaca ekstrim dan karakteristik tanah gambut dalam wilayah Sumatera Selatan, namun disisi lain dalam rilis data BNPB di anggka 99% Karhutla disebabkan oleh tindakan manusia, baik dalam pembukaan lahan, kelalaian, hingga konflik lahan yang disinyalir sebagian besar diduga dilakukan oleh koorporasi dan perusahaan yang bergerak di wilayah perkebunan
Terlepas dari itu, sebelum wabah asap memapar kesehatan warga dan ekonomi warga, upaya penanggulangan bencana Karhutla secara kuratif harus terus diintensifkan.
Dalam menghadapi ancaman kabut asap di tengah puncak musim kemarau, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan secara terpadu tengah berupaya melakukan pendekatan komprehensif mulai dari strategi promotif, preventif, hingga rehabilitatif.
Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Provinsi Sumatera Selatan, saat ini resmi menggandeng aliansi mahasiswa Cipayung Plus untuk memperkuat taktis penanganan di lapangan.
Kolaborasi strategis lintas sektor ini dibentuk sebagai upaya partisipatif dan responsif atas meluasnya sebaran titik api (hotspot) di sejumlah wilayah rawan. Sinergi ini dinilai menjadi kunci krusial mengingat kompleksitas penanganan karhutla yang membutuhkan pengawasan ketat, baik melalui aksi pemadaman darat, operasi pemadaman udara (water bombing), hingga pendekatan edukasi pencegahan langsung ke pemukiman warga.

Keterlibatan aktif elemen pemuda ini mendapat sambutan hangat dari jajaran Satgas di lapangan. Erik Agusdiansyah, perwakilan Satgas Karhutla Cipayung Plus sekaligus kader Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Sumsel, menegaskan bahwa keikutsertaan mahasiswa merupakan bentuk komitmen moral dan aksi nyata pemuda bagi masyarakat.
“Langkah ini adalah bentuk komitmen konkret dari gerakan pemuda. Mahasiswa hadir tidak hanya untuk menyampaikan kritik maupun aspirasi terkait dampak buruk kabut asap bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga membawa solusi nyata dengan terjun langsung bergotong royong menangani karhutla di lapangan,” tegas Erik.
Melalui konsolidasi dan sinergi yang makin kokoh antara BPBD, Damkar, dan kelompok pemuda, diharapkan secara kuratif potensi bencana kebakaran hutan dapat ditekan secara signifikan sehingga risiko paparan kabut asap yang mengancam kesehatan serta aktivitas ekonomi masyarakat dapat diantisipasi sejak dini.
Namun, kembali lagi penegakan hukum dan kesadaran akan keseimbangan ekosistem adalah kunci agar asap tebal Karhutla tidak kembali lagi menjadi bencana alam dan kemanusian, peran partisipatif dan kontrol pemuda serta komponen masyarakat lainnya adalah kuncinya, tanpa itu bencana asap Karhutla akan terus terjadi disepanjang musim kemarau di Indonesia.

Laporan : Tio

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Breaking News

Kategori Berita

BOX REDAKSI