![]()

OPINI FILOSOFIS: oleh Daeng Supriyanto SH MH selaku ketua lestari Indonesia
Dalam kerangka pemikiran filosofis yang mempertemukan epistemologi ilmiah dengan ontologi alam semesta, prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kedatangan musim kemarau di Sumatera Selatan pada bulan Mei 2026, yang diperkirakan akan meluas hingga lima bulan lamanya hingga Oktober mendatang, bukan sekadar serangkaian angka dan tanggal yang dicatat dalam lembaran analisis. Ia adalah manifestasi dari upaya manusia untuk menjembatani jurang antara ketidakpastian yang inheren pada tatanan alam dengan keinginan mendasar akan pemahaman dan kontrol atas lingkungan yang menjadi pijakan eksistensinya.
Secara filosofis, fenomena peramalan cuaca dan iklim mengemukakan pertanyaan mendasar mengenai hubungan antara pengetahuan yang dibangun melalui pengamatan berulang, pengukuran sistematis, dan model matematis – yang menjadi landasan kerja BMKG – dengan sifat alam yang esensialnya dinamis dan tidak dapat direduksi sepenuhnya ke dalam kerangka kuantitatif. Kepala Stasiun Klimatologi yang menyampaikan bahwa peralihan musim sudah mulai terwujud melalui penurunan curah hujan secara bertahap sejak akhir Maret hingga April, menjadi bukti konkret bagaimana pengetahuan ilmiah tidak hanya bersifat prospektif namun juga retrospektif; ia melihat ke depan sambil terus mengkonfirmasi dan menyesuaikan diri dengan realitas yang sedang berlangsung di hadapan mata.
Dalam pandangan filsafat ilmu, BMKG sebagai institusi yang berwenang dalam bidang ini mewakili institusionalisasi dari keinginan manusia untuk mengatasi rasa takut akan yang tidak diketahui. Musim kemarau yang akan datang bukanlah sekadar peristiwa alamiah yang netral, melainkan fenomena yang membawa muatan makna bagi setiap lapisan masyarakat Sumatera Selatan – dari petani yang mengandalkan siklus hujan dan kemarau untuk menanam tanamannya, hingga pemerintah yang harus menyusun kebijakan antisipatif terkait ketersediaan air dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Di sinilah kita melihat bagaimana pengetahuan ilmiah tidak hidup dalam isolasi akademis, melainkan terjalin secara intrinsik dengan struktur sosial, ekonomi, dan budaya suatu komunitas.
Konsep “prediksi” sendiri memiliki dimensi filosofis yang mendalam. Ia tidak hanya menyatakan apa yang akan terjadi, melainkan juga membentuk cara kita melihat dan merespons masa depan. Ketika BMKG menyatakan bahwa musim kemarau akan berlangsung cukup panjang, ia sedang menciptakan ruang makna di mana masyarakat dapat melakukan persiapan, melakukan penyesuaian, dan membangun strategi adaptasi. Ini adalah contoh nyata bagaimana wacana ilmiah mampu membentuk realitas sosial – sebuah premis yang dikembangkan oleh berbagai pemikir filsafat kontemporer yang melihat hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan, antara representasi ilmiah dan konstruksi kenyataan yang kita alami sehari-hari.
Perubahan curah hujan yang mulai terlihat sejak akhir bulan Maret adalah bukti bahwa alam tidak pernah diam dalam keadaannya; ia adalah entitas yang terus bergerak, berevolusi, dan berinteraksi dalam jaringan hubungan yang kompleks tak terhitung jumlahnya. Para ilmuwan di BMKG yang mengamati dan menganalisis perubahan ini sedang terlibat dalam upaya untuk memahami pola-pola yang tersembunyi di balik keragaman fenomena alam. Dalam hal ini, pekerjaan mereka sejalan dengan gagasan filsafat yang melihat alam sebagai sebuah teks yang terus diinterpretasikan, di mana setiap pengamatan baru memberikan dimensi baru pada pemahaman kita akan tatanan yang mengatur kehidupan di planet ini.
Selain itu, prediksi musim kemarau juga mengajak kita untuk merenungkan konsep waktu dalam perspektif ilmiah dan filosofis. Lima bulan lamanya musim kemarau – dari Mei hingga Oktober – bukanlah periode waktu yang netral, melainkan sebuah jendela yang memungkinkan kita untuk melihat bagaimana tindakan dan keputusan yang diambil saat ini akan memiliki implikasi yang luas bagi kondisi masa depan. Ini mengingatkan kita akan filosofi kausalitas yang menyatakan bahwa setiap peristiwa memiliki akar dan dampak, bahwa kita hidup dalam dunia yang saling terhubung di mana tindakan kita hari ini akan membentuk realitas kita besok.
Kehadiran lembaga seperti BMKG juga mengangkat pertanyaan mengenai peran otoritas pengetahuan dalam masyarakat modern. Mengapa kita mempercayai prediksi mereka? Apa yang membedakan pengetahuan ilmiah dari bentuk pengetahuan lain yang juga mencoba menjelaskan fenomena alam? Jawabannya terletak pada metodologi yang digunakan – sebuah sistem yang berbasis pada pengamatan, verifikasi, replikasi, dan koreksi terus-menerus. Namun, sebagai makhluk yang memiliki dimensi budaya dan spiritual, masyarakat Sumatera Selatan juga mungkin memiliki cara sendiri untuk membaca tanda-tanda alam yang mengindikasikan kedatangan musim kemarau, yang berasal dari tradisi dan pengalaman turun-temurun. Di sinilah terjadi perjumpaan antara pengetahuan ilmiah dan pengetahuan lokal – dua bentuk pemahaman yang tidak harus saling bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi dalam upaya untuk menghadapi tantangan yang diberikan oleh siklus alam.
Secara ontologis, musim kemarau yang akan datang adalah bagian dari ritme alam yang telah ada jauh sebelum manusia muncul di muka bumi. Ia adalah bagian dari keteraturan yang juga menyertai dengan unsur ketidakpastian – meskipun BMKG dapat memprediksi dengan tingkat akurasi tertentu, selalu ada kemungkinan variasi yang tidak terduga yang dapat mengubah jalannya peristiwa. Ini adalah pengingat bahwa meskipun manusia telah mencapai kemajuan yang luar biasa dalam memahami alam, kita tetap merupakan bagian dari alam itu sendiri, yang tunduk pada hukum-hukum yang lebih luas yang belum sepenuhnya kita kuasai.
Dalam konteks Sumatera Selatan khususnya, prediksi musim kemarau ini juga membawa makna filosofis terkait dengan hubungan antara manusia dan lingkungan yang menjadi rumahnya. Musim kemarau bukanlah musuh yang harus dilawan secara total, melainkan bagian dari keseimbangan alam yang perlu dipahami dan dihormati. Upaya untuk mengantisipasinya – baik melalui kebijakan pemerintah, inovasi teknologi pertanian, maupun penyesuaian pola hidup masyarakat – adalah bentuk dari kesadaran bahwa kita hidup dalam simbiosis dengan alam, di mana kelangsungan hidup kita tergantung pada kemampuan kita untuk beradaptasi dan hidup berdampingan dengan ritme yang telah ditetapkan oleh tatanan alam semesta.
Pada akhirnya, prediksi BMKG mengenai musim kemarau di Sumatera Selatan adalah lebih dari sekadar informasi teknis. Ia adalah cermin dari perjuangan manusia untuk memahami dunia di sekitarnya, untuk menemukan makna dalam kekacauan yang tampaknya ada, dan untuk membangun fondasi yang kokoh bagi masa depan yang lebih baik. Ia mengajak kita untuk merenungkan hubungan antara pengetahuan dan keyakinan, antara keteraturan dan ketidakpastian, dan antara manusia dan alam yang menjadi wadah eksistensi kita. Dalam setiap angka, setiap grafik, dan setiap pernyataan yang dikeluarkan oleh para ahli di BMKG, terdapat cerita tentang upaya manusia untuk menemukan tempatnya dalam skema besar alam semesta – sebuah cerita yang terus ditulis seiring dengan setiap langkah yang kita ambil menuju masa depan yang tidak pasti namun penuh dengan harapan.




