![]()

Oleh Daeng Supriyanto Alumni Pondok Pesantren Sufi Baron Nganjuk Jawa Timur
Setiap tarikan napas yang kita hembuskan, setiap detak jantung yang berdenyut, adalah bukti keagungan Tuhan yang maha menentukan waktu dan takdir. Waktu bukan sekadar deretan angka atau pergantian siang dan malam, melainkan wadah ilahi yang di dalamnya tersimpan peluang emas untuk mengangkat derajat hamba, membersihkan noda jiwa, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Di antara momen paling mulia dalam kalender Islam adalah hari-hari agung di bulan Dzulhijjah, khususnya tanggal 8 dan 9 yang dikenal sebagai hari Tarwiyah dan hari Arafah. Tahun ini, dua hari istimewa itu jatuh pada hari Senin dan Selasa, tanggal 25 dan 26 Mei 2026—sebuah anugerah waktu yang patut kita sambut dengan hati yang jernih, niat yang tulus, dan usaha yang sungguh-sungguh.
Secara filsafat, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah latihan spiritual yang mendalam. Ia adalah proses penyucian diri, pemisahan hakikat dari kepura-puraan, serta perwujudan ketaatan yang menjembatani keterbatasan manusia dengan keagungan Allah SWT. Puasa Tarwiyah dan Arafah memiliki makna yang sangat dalam: hari Tarwiyah mengajarkan kita tentang persiapan dan kesabaran, seolah kita sedang mengisi jiwa dengan air iman sebelum menghadapi puncak perjalanan spiritual di hari Arafah—hari yang disebut sebagai hari penyempurnaan agama, hari pengampunan yang luas, dan hari di mana doa-doa terangkat menuju langit tanpa penghalang.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang mulia:
“Dan ingatlah ketika Kami berikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan berfirman): ‘Janganlah kamu persekutukan sesuatu dengan-Ku dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang berdiri, orang-orang yang rukuk dan orang-orang yang sujud. Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai unta yang kurus, yang datang dari setiap jalan yang jauh, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditetapkan…”
(QS. Al-Hajj: 26-28)
Hari-hari yang ditetapkan itu meliputi hari Tarwiyah dan Arafah, waktu di mana rahmat Allah dilimpahkan dengan segenap kelimpahan-Nya. Rasulullah SAW pun memberikan kabar gembira yang menggugah hati kita semua:
“Puasa hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah) saya harap Allah menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Dan puasa hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), saya harap Allah menghapuskan dosa dua tahun: satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.”
(HR. Thabrani dan Ibnu Majah)
Hadis mulia ini menjadi bukti nyata betapa besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang mau berusaha mendekat. Penghapusan dosa selama dua tahun—baik yang telah kita lakukan maupun yang belum kita jalani—adalah rahmat yang tak ternilai harganya. Secara filsafat, ini mengajarkan kita bahwa amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas tidak hanya memperbaiki masa lalu, tetapi juga menjamin masa depan spiritual kita. Ia menjadi tameng yang melindungi kita dari kesalahan dan dosa yang mungkin terlintas atau terperbuat karena kelemahan diri kita sendiri.
Selain itu, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada hari di mana Allah membebaskan lebih banyak hamba-Nya dari api neraka selain hari Arafah.”
(HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa hari itu adalah pintu keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari kehinaan menuju kemuliaan. Setiap detik yang kita lewati dengan puasa, dzikir, dan doa pada hari itu adalah langkah nyata untuk membebaskan diri dari belenggu dosa dan ancaman siksa neraka.
Allah SWT juga berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Hari Arafah adalah hari di mana doa-doa diangkat dan dikabulkan. Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”
(HR. Tirmidzi)
Ini adalah momen emas untuk memohon segala kebaikan: ampunan, kesehatan, rezeki yang halal, keselamatan dunia dan akhirat, serta kebahagiaan yang abadi. Jangan biarkan waktu itu berlalu begitu saja tanpa kita isi dengan permohonan yang tulus dan harapan yang besar.
Para ulama juga menjelaskan bahwa pahala amal pada bulan Dzulhijjah dilipatgandakan berkali-kali lipat, sebagaimana firman Allah SWT:
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat dari semisalnya…”
(QS. Al-An’am: 160)
Dan Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah selain hari-hari sepuluh pertama bulan Dzulhijjah.”
(HR. Bukhari)
Dengan demikian, setiap dzikir yang kita ucapkan, setiap doa yang kita panjatkan, dan setiap kesabaran kita dalam berpuasa akan dicatat sebagai amal yang besar nilainya, yang akan menjadi bekal terbaik kita kelak di hari perhitungan.
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Tahun ini, hari Tarwiyah jatuh pada hari Senin, 25 Mei 2026, dan hari Arafah pada hari Selasa, 26 Mei 2026. Mari kita manfaatkan dua hari mulia ini sebaik-baiknya. Perbanyaklah dzikir, basahi lidah dengan istighfar, penuhi hati dengan rasa syukur, dan angkat tangan memohon segala kebaikan kepada Sang Pemilik Alam Semesta. Mintalah ampun atas segala khilaf dan salah, karena ampunan-Nya adalah jalan menuju kesucian yang hakiki.
Semoga Allah SWT memberikan kita kesehatan lahir dan batin, melancarkan serta memudahkan setiap langkah kita dalam menjalankan puasa ini. Semoga kita termasuk golongan yang dosanya dihapuskan, derajatnya ditinggikan, doanya dikabulkan, dan selamat dari api neraka. Insya Allah, segala usaha dan ketaatan kita akan membawa berkah yang melimpah, baik di dunia maupun di akhirat.
“Ya Allah, terimalah amal ibadah kami, sucikanlah jiwa kami, dan jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang beruntung. Amin Ya Rabbal Alamin.”



