![]()

Opini: daeng Supriyanto SH MH pengamat timnas sepakbola Indonesia
Keputusan pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, dalam merumuskan skuad 24 pemain untuk menghadapi FIFA Series 2026 bukan sekadar proses seleksi rutin, melainkan sebuah cerminan dari kompleksitas tantangan yang dihadapi oleh seorang pelatih asing yang baru memikul tanggung jawab, di tengah keterbatasan waktu dan dinamika kompetisi lokal yang unik. Pengamat sepak bola nasional Weshley Hutagalung dengan tepat menyoroti bahwa pilihan Herdman tidak dapat dilepaskan dari konteks situasional yang melingkupinya: libur kompetisi Liga Indonesia akibat Hari Raya Idul Fitri 1447 H dan jadwal FIFA Series yang akan digelar pada 27 dan 31 Maret 2026, yang menyisakan jendela waktu yang sangat sempit bagi pelatih asal Inggris itu untuk membangun kesatuan tim, menanamkan filosofi permainan baru, dan melakukan persiapan yang matang. Dalam dunia sepak bola modern di mana identitas permainan dan sinkronisasi antar pemain membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk terbentuk, keterbatasan ini menciptakan sebuah paradoks: Herdman harus menampilkan tim yang kompetitif, namun belum memiliki ruang ideal untuk membangun fondasi permainan yang konsisten dan terintegrasi.
Fakta bahwa belum ada kepastian mengenai adanya laga uji coba sebelum turnamen semakin memperberat beban yang dipikul oleh Herdman. Tanpa kesempatan untuk menguji strategi, melihat interaksi antar pemain, dan menyesuaikan taktik dalam situasi pertandingan nyata, pelatih tersebut terpaksa mengambil pendekatan yang pragmatis dalam pemilihan pemain. Pragmatisme ini tercermin dalam kecenderungan untuk mengandalkan nama-nama yang dianggap sudah siap secara individu, yang memiliki pengalaman internasional atau kemampuan teknis yang sudah teruji, daripada mencoba eksperimen dengan pemain-pemain baru yang potensial namun membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Hal ini tentu saja menimbulkan konsekuensi, baik dalam bentuk absennya sejumlah nama yang pernah menjadi langganan Timnas Indonesia di masa lalu, maupun keputusan untuk tidak memasukkan pemain-pemain yang tengah tampil impresif di kompetisi lokal, seperti Ezra Walian.
Salah satu aspek yang paling menarik dari skuad pilihan Herdman adalah dominasi pemain diaspora yang masih terlihat sangat kuat. Dari 24 pemain yang dipilih, sebanyak 14 di antaranya berkarier di luar negeri, yang berarti sekitar 70,8 persen dari total skuad terdiri dari pemain yang berkompetisi di liga-liga asing. Angka ini menunjukkan bahwa kerangka dasar Timnas Indonesia masih sangat mirip dengan era pelatih sebelumnya, dan bahwa keseimbangan antara pemain lokal yang bermain di Super League 2025-2026 dan pemain yang berkompetisi di luar negeri masih menjadi isu yang terus diperdebatkan. Meskipun pemain diaspora membawa kualitas permainan dan pengalaman yang berharga dari liga-liga yang lebih kompetitif, namun dominasi mereka juga menimbulkan pertanyaan mengenai perkembangan pemain lokal dan apakah ada cukup kesempatan bagi mereka untuk membuktikan diri di tingkat internasional. Di sisi lain, keputusan untuk mempertahankan pemain seperti Mauro Zijlstra dari Persija Jakarta, yang masih dalam tahap beradaptasi di Liga Indonesia, menunjukkan bahwa Herdman juga mempertimbangkan potensi dan kemampuan adaptasi pemain, meskipun mereka belum memiliki pengalaman yang banyak di tingkat nasional.
Absennya nama-nama seperti Ricky Kambuaya, Egy Maulana Vikri, Marc Klok, dan Ernando Ari, serta Ezra Walian yang tengah tampil bagus di liga lokal, tentu saja mengecewakan sebagian penggemar dan pengamat sepak bola. Namun, jika dilihat dari perspektif keterbatasan waktu dan kebutuhan untuk menampilkan tim yang siap bertarung, keputusan ini dapat dipahami sebagai bagian dari strategi pragmatis yang diambil oleh Herdman. Pelatih harus membuat pilihan-pilihan sulit, mempertimbangkan tidak hanya kualitas individu pemain, tetapi juga kesesuaian mereka dengan gaya permainan yang ingin diterapkan, serta kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan cepat dalam tim yang baru dibentuk. Dalam situasi seperti ini, pengalaman dan kesiapan fisik serta mental seringkali menjadi faktor penentu, dan pemain-pemain yang sudah terbiasa dengan tekanan pertandingan internasional atau yang memiliki ritme permainan yang stabil mungkin lebih diutamakan.
Secara lebih luas, situasi yang dihadapi oleh Herdman ini juga merefleksikan tantangan yang lebih besar yang dihadapi oleh sepak bola Indonesia. Keterbatasan waktu persiapan untuk turnamen internasional, yang seringkali bertabrakan dengan jadwal kompetisi lokal atau peristiwa keagamaan, adalah masalah yang tidak unik bagi Timnas Indonesia, namun memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja tim. Selain itu, keseimbangan antara pemain diaspora dan pemain lokal adalah isu yang terus menjadi perhatian, karena kedua kelompok ini memiliki peran yang penting dalam perkembangan sepak bola nasional. Pemain diaspora membawa standar kualitas dan pengalaman dari luar negeri, sementara pemain lokal mewakili akar dan perkembangan sepak bola di dalam negeri, dan keseimbangan antara keduanya adalah kunci untuk membangun tim yang kuat dan berkelanjutan.
Meskipun keterbatasan waktu dan pendekatan pragmatis dalam pemilihan skuad mungkin membuat beberapa pihak kecewa, namun penting untuk memberikan kepercayaan kepada Herdman sebagai pelatih yang memiliki pengalaman dan pengetahuan dalam mengelola tim nasional. Tugasnya bukanlah hal yang mudah, dan ia membutuhkan waktu untuk memahami karakteristik pemain, membangun hubungan kerja yang baik, dan menanamkan filosofi permainan yang ingin ia terapkan. FIFA Series 2026 mungkin bukanlah ajang di mana Timnas Indonesia dapat menampilkan performa terbaiknya sesuai dengan visi jangka panjang Herdman, tetapi ini adalah langkah awal yang penting dalam perjalanan membangun tim yang lebih baik dan lebih kompetitif di masa depan.
Pada akhirnya, apa yang terjadi dalam pemilihan skuad Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026 adalah sebuah bukti bahwa sepak bola bukan hanya tentang kualitas individu pemain, tetapi juga tentang manajemen situasi, pengambilan keputusan yang tepat dalam kondisi yang terbatas, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. Meskipun terdapat kontroversi dan perdebatan mengenai pilihan pemain, namun yang paling penting adalah bagaimana tim dapat bersatu, memberikan yang terbaik di lapangan, dan menggunakan pengalaman ini sebagai pelajaran untuk perkembangan di masa depan. Bagi Herdman, ini adalah ujian pertama dalam karirnya bersama Timnas Indonesia, dan bagaimana ia mengelola tim dalam kondisi yang terbatas ini akan menjadi indikator awal dari kemampuannya untuk membawa sepak bola Indonesia menuju tingkat yang lebih tinggi.



