![]()

OPINI: Daeng Supriyanto SH MH selaku pengamat perang di Timur Tengah
Perang di Timur Tengah telah melampaui tataran konflik geopolitik konvensional yang hanya menyangkut kepentingan wilayah atau ideologi tertentu; ia telah bertransformasi menjadi ancaman eksistensial yang mengancam fondasi peradaban manusia modern itu sendiri. Dalam konteks yang penuh ketegangan ini, muncul pertanyaan filosofis dan praktis yang mendalam: apakah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Pemimpin Tertinggi Iran Mujtaba Khomeini yang secara simbolis dan substansial mengantikan ayahnya, Ayatollah Ruhollah Khomeini bersedia untuk mengesampingkan beban sejarah, dendam kollektif, dan kepentingan nasional yang diperketat, untuk kemudian duduk bersama di meja perundingan yang sama dan membicarakan langkah-langkah konkrit yang harus diambil masing-masing pihak dalam rangka mencapai gencatan senjata yang berkelanjutan atau bahkan menghentikan perang secara permanen? Pertanyaan ini tidak dapat dihindarkan, mengingat bahwa eskalasi konflik yang tak terkendali akan dengan sendirinya mengarah pada skala perang yang lebih luas—yakni Perang Dunia III—yang berpotensi membumihanguskan segala bentuk keberadaan manusia melalui penggunaan senjata pemusnah massal dengan hulu ledak nuklir, yang dampaknya tidak hanya akan memusnahkan jutaan nyawa dalam sekejap, tetapi juga akan mengganggu iklim global hingga puluhan tahun ke depan, merusak ekosistem yang kompleks, dan mengarah pada lintasan kepunahan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan di planet ini.
I. POSISI FILOSOFIS DAN STRATEGIS SETIAP PIHAK
Amerika Serikat di Bawah Kepemimpinan Donald Trump
Dari perspektif geopolitik yang luas, kepemimpinan Donald Trump di Amerika Serikat didasarkan pada doktrin luar negeri yang menekankan supremasi nasional, perlindungan kepentingan ekonomi dan keamanan AS, serta dukungan tak tergoyahkan terhadap sekutu utamanya di Timur Tengah, yaitu Israel. Trump telah menunjukkan pola berpikir yang pragmatis namun terkadang provokatif, di mana ia melihat negosiasi sebagai bentuk permainan kekuatan di mana setiap pihak harus mendapatkan manfaat yang nyata. Di satu sisi, ia menyadari bahwa perang dunia skala besar akan menghabiskan sumber daya nasional AS secara luar biasa, merusak ekonomi yang sudah rentan, dan menempatkan nyawa warga negara AS dalam bahaya yang tidak perlu. Di sisi lain, tekanan dari kelompok pendukung konservatif, industri pertahanan, dan komunitas Yahudi Amerika yang kuat telah membuatnya terpaku pada posisi keras terhadap Iran, yang dianggapnya sebagai ancaman utama bagi stabilitas wilayah dan keamanan Israel. Namun, secara intelektual, tidak dapat disangkal bahwa Trump memahami bahwa penggunaan senjata nuklir akan membawa konsekuensi yang tidak dapat diubah bagi seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat sendiri—dimana hujan nuklir, perubahan iklim ekstrem, dan kerusakan ekosistem akan mempengaruhi generasi mendatang bahkan di wilayah yang tidak terlibat langsung dalam konflik.
Israel di Bawah Kepemimpinan Benjamin Netanyahu
Untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, keamanan nasional Israel adalah prinsip yang tidak dapat dinegosiasikan, yang telah menjadi landasan kebijakan luar negeri negara tersebut sejak berdirinya. Netanyahu melihat Iran sebagai ancaman eksistensial yang tidak hanya memiliki ambisi untuk menghapus Israel dari peta dunia, tetapi juga sedang mengembangkan kapasitas militer yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Dari sudut pandangnya, langkah-langkah tegas terhadap Iran—baik melalui sanksi ekonomi maupun tindakan militer yang terbatas—adalah perlu untuk melindungi rakyat Israel dan wilayahnya. Namun, di balik sikap keras tersebut, terdapat pemahaman yang mendalam bahwa perang dunia ke III dengan penggunaan senjata nuklir akan menghancurkan Israel sendiri, mengingat wilayahnya yang kecil dan kepadatan penduduk yang tinggi. Selain itu, Netanyahu menyadari bahwa dampak lingkungan yang disebabkan oleh perang nuklir akan merusak lahan pertanian Israel yang sudah langka, sumber daya air, dan ekosistem yang mendukung kehidupan rakyatnya. Meskipun demikian, beban sejarah yang meliputi penganiayaan terhadap umat Yahudi sepanjang abad dan ancaman terus-menerus dari negara-negara sekitar telah membuatnya sangat hati-hati dalam melakukan kompromi, terutama dengan sebuah negara yang telah secara terbuka menyatakan permusuhannya terhadap Israel.
Iran di Bawah Kepemimpinan Mujtaba Khomeini
Sebagai penerus warisan ayahnya, Ayatollah Ruhollah Khomeini—yang dianggap sebagai bapak revolusi Islam Iran—Mujtaba Khomeini membawa beban sejarah yang dalam dan rasa kewajiban untuk melindungi kedaulatan Iran serta nilai-nilai Islam yang dianut oleh negara tersebut. Dari perspektifnya, Amerika Serikat dan Israel adalah kekuatan asing yang telah lama mencoba untuk menindas Iran, baik melalui campur tangan politik, sanksi ekonomi, maupun tindakan militer yang diduga. Ia melihat program nuklir Iran sebagai hak yang tidak dapat diambil alih untuk tujuan damai dan sebagai deterrensi yang diperlukan untuk melindungi negara dari agresi luar. Selain itu, kematian ayahnya yang disalahkan pada Israel dan Amerika Serikat telah menciptakan rasa dendam kollektif di antara rakyat Iran, yang membuatnya sulit bagi Mujtaba Khomeini untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap sebagai menyerah pada tekanan dari kedua negara tersebut. Namun, secara intelektual, ia tidak dapat mengabaikan fakta bahwa perang nuklir akan menghancurkan Iran secara total. Negara ini memiliki wilayah yang luas dengan berbagai ekosistem yang sensitif, dan penggunaan senjata pemusnah massal akan merusak lahan pertanian, sumber daya air, dan kesehatan rakyat Iran hingga beberapa generasi. Selain itu, sebagai pemimpin yang mengaku bertanggung jawab terhadap umat Islam dan dunia, ia menyadari bahwa perang dunia ke III akan membawa penderitaan yang luar biasa bagi seluruh umat manusia, yang bertentangan dengan ajaran agama yang ia anut.
II. FAKTOR-FAKTOR YANG MENDUKUNG DAN MENJADI HAMBAT UNTUK NEGOSIASI
Faktor Pendukung Negosiasi
Pertama dan utama adalah ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh Perang Dunia III dan penggunaan senjata nuklir. Tidak ada pihak yang akan keluar sebagai pemenang dalam perang semacam itu; semua akan menderita kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Dampak iklim global yang akan ditimbulkan—termasuk penurunan suhu global akibat awan debu nuklir, kerusakan lapisan ozon, kontaminasi air dan tanah, serta kepunahan banyak spesies makhluk hidup—adalah konsekuensi yang akan mempengaruhi seluruh planet, bukan hanya negara-negara yang terlibat dalam konflik. Kedua, terdapat kepentingan ekonomi yang jelas bagi setiap pihak untuk mengakhiri konflik. Perang menghabiskan sumber daya yang besar, mengalihkan anggaran dari pembangunan sosial dan ekonomi, dan merusak stabilitas pasar global. Amerika Serikat, Israel, dan Iran semuanya akan mendapatkan manfaat dari pengalihan sumber daya militer ke sektor-sektor yang lebih produktif, seperti pendidikan, kesehatan, dan pengembangan teknologi hijau. Ketiga, terdapat tekanan dari masyarakat internasional dan organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mencari solusi damai. Dunia telah melihat dampak buruk dari perang dunia sebelumnya, dan tidak ada negara yang ingin mengalami hal yang sama lagi.
Faktor Hambat Negosiasi
Salah satu hambatan terbesar adalah kurangnya kepercayaan antara pihak-pihak yang terlibat. Selama beberapa dekade, Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah saling menuduh satu sama lain melakukan tindakan yang tidak jujur dan merugikan kepentingan masing-masing. Ini telah menciptakan dinding ketidakpercayaan yang sulit untuk ditembus. Kedua, terdapat tekanan internal yang kuat pada setiap pemimpin. Donald Trump menghadapi tekanan dari partai Republik dan kelompok-kelompok konservatif yang mendukung sikap keras terhadap Iran. Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan dari kelompok nasionalis di Israel yang melihat setiap kompromi dengan Iran sebagai pengkhianatan terhadap keamanan negara. Mujtaba Khomeini menghadapi tekanan dari kelompok ekstremis Islam di Iran yang menginginkan balas dendam terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ketiga, terdapat perbedaan mendasar dalam pandangan tentang masa depan Timur Tengah. Amerika Serikat dan Israel ingin memelihara keseimbangan kekuatan yang menguntungkan mereka, sedangkan Iran ingin menjadi kekuatan utama di wilayah tersebut dan memiliki pengaruh yang lebih besar. Perbedaan ini membuat sulit untuk menemukan titik temu yang dapat diterima oleh semua pihak.
III. IMPLIKASI JIKA NEGOSIASI BERHASIL ATAU GAGAL
Jika Negosiasi Berhasil
Jika ketiga pemimpin tersebut bersedia untuk duduk bersama dan mencapai kesepakatan yang dapat diterima, dampaknya akan sangat besar. Gencatan senjata yang berkelanjutan akan menyelamatkan jutaan nyawa dan mengakhiri penderitaan rakyat di Timur Tengah. Selain itu, kesepakatan tersebut dapat membuka jalan bagi kerja sama ekonomi dan politik di wilayah tersebut, yang akan meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengurangi kemiskinan serta ketidakstabilan. Dari perspektif global, kesepakatan damai di Timur Tengah akan mengurangi risiko Perang Dunia III dan penggunaan senjata nuklir, yang akan memberikan keamanan yang lebih besar bagi seluruh umat manusia. Kerja sama juga dapat dilakukan dalam menangani masalah global seperti perubahan iklim, kepunahan spesies, dan penyakit menular, yang membutuhkan upaya bersama dari seluruh dunia.
Jika Negosiasi Gagal
Jika negosiasi gagal dan konflik meluas menjadi Perang Dunia III dengan penggunaan senjata nuklir, konsekuensinya akan menjadi bencana bagi manusia. Jutaan orang akan mati dalam serangan awal, dan jutaan lainnya akan menderita luka bakar, penyakit radiasi, dan kelaparan. Dampak lingkungan akan sangat parah: awan debu nuklir akan menutupi langit, menyebabkan penurunan suhu global yang disebut “musim dingin nuklir”, yang akan merusak tanaman pertanian dan menyebabkan kelaparan di seluruh dunia. Lapisan ozon akan rusak, menyebabkan peningkatan radiasi ultraviolet yang berbahaya bagi manusia, hewan, dan tumbuhan. Sumber daya air dan tanah akan terkontaminasi, membuatnya tidak dapat digunakan untuk generasi mendatang. Ekosistem akan hancur, dan banyak spesies makhluk hidup akan punah. Peradaban manusia modern yang telah dibangun selama ribuan tahun akan hancur dalam waktu singkat, dan masa depan umat manusia akan menjadi sangat tidak pasti.
KESIMPULAN
Perang di Timur Tengah bukan hanya masalah bagi negara-negara yang terlibat, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Apakah Presiden Donald Trump, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dan Pemimpin Tertinggi Mujtaba Khomeini bersedia untuk duduk bersama dan berdiskusi tentang gencatan senjata atau penghentian perang secara permanen adalah pertanyaan yang menentukan masa depan peradaban kita. Meskipun terdapat banyak hambatan dan tantangan, ada juga alasan yang kuat untuk berharap bahwa mereka akan memilih jalan damai. Ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh Perang Dunia III dan penggunaan senjata nuklir harus menjadi motivasi yang cukup bagi setiap pihak untuk mengesampingkan perbedaan mereka dan bekerja sama untuk mencapai perdamaian yang abadi. Kita tidak dapat membiarkan sejarah berulang dan mengulangi kesalahan yang telah menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi umat manusia. Waktunya telah tiba bagi pemimpin dunia untuk bertindak dengan bijak dan bertanggung jawab, untuk melindungi masa depan kita dan generasi mendatang.




