Perpecahan yang Menggoyahkan Fondasi Teluk: Eskalasi Ketegangan antara Arab Saudi dan UEA di Yaman Sebagai Manifestasi Persaingan Kekuasaan, Identitas Geopolitik, dan Dinamika Regional yang Mendalam”

Loading

Opini Daeng Supriyanto SH MH CMS.P

Pengamat Geopolitik Global

Pada hari Selasa (30/12/2025), Ketegangan yang telah mengendap antara dua raksasa energi Semenanjung Arab, Kerajaan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), meledak ke permukaan dengan intensitas yang mengejutkan, menandai titik balik yang krusial dalam dinamika hubungan regional yang selama ini dibangun di atas fondasi sekutu yang tampak kokoh. Langkah drastis Riyadh dalam mengeluarkan pernyataan keras yang menetapkan keamanan nasional sebagai “garis merah yang tak dapat dilanggar” serta memberikan tenggat waktu 24 jam bagi pasukan UEA untuk meninggalkan wilayah Yaman bukanlah tindakan yang diambil secara sepihak atau tanpa konteks; ia adalah hasil dari kumulasi perselisihan kepentingan yang berkepanjangan, perbedaan visi terkait masa depan Yaman, dan persaingan yang semakin memanas untuk membentuk tatanan kekuasaan di kawasan Teluk yang sedang dalam transformasi.

Eskalasi ini memperoleh momentum konkret hanya beberapa jam setelah koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara presisi terhadap pelabuhan Mukalla di Yaman Selatan, sebuah lokasi yang menjadi pusat perebutan kontrol antara otoritas pusat yang didukung Saudi dan Dewan Transisi Selatan (STC) yang dipercaya mendapatkan dukungan militer dari Abu Dhabi. Serangan tersebut ditujukan pada apa yang dinyatakan sebagai sarana dukungan militer asing bagi kelompok separatis, sebuah klaim yang kemudian diperkuat dengan pembatalan pakta pertahanan antara pemerintah Yaman yang didukung Saudi dan UEA oleh Presiden Rashad al-Alimi. Dalam pidato televisi nasional yang tegas, Alimi secara terbuka menuduh Abu Dhabi telah melakukan tindakan yang memicu perpecahan internal di Yaman, menyatakan bahwa “UEA telah menekan dan mengarahkan STC untuk merusak dan memberontak terhadap otoritas negara melalui eskalasi militer”. Pernyataan ini tidak hanya mempertegas posisi Riyadh dan pemerintah yang mereka dukung, tetapi juga menandai akhir dari fase kerjasama yang telah berlangsung sejak tahun 2014 dalam upaya bersama melawan gerakan Houthi yang bersekutu dengan Iran.

Untuk memahami kedalaman konflik ini, kita harus menyelami akar sejarah dan geografis yang melatarbelakangi perselisihan. Provinsi Hadramout, wilayah timur Yaman yang menjadi pusat perebutan kekuasaan, bukan hanya memiliki nilai strategis karena posisinya yang berbatasan langsung dengan tanah air Saudi, tetapi juga membawa muatan identitas budaya dan sejarah yang kuat. Banyak tokoh terkemuka di Kerajaan berasal dari wilayah ini, menjadikannya bukan hanya area yang perlu dijaga untuk keamanan perbatasan, tetapi juga bagian yang tak terpisahkan dari narasi identitas nasional Saudi. Ketika STC mengklaim kontrol luas atas wilayah selatan Hadramout beberapa waktu lalu, hal ini dilihat oleh Riyadh bukan hanya sebagai tantangan terhadap otoritas pemerintah Yaman yang sah, tetapi juga sebagai ancaman langsung terhadap keamanan dan integritas wilayah yang memiliki hubungan sejarah yang erat dengan kerajaan.

Pemicu langsung dari serangan udara dan pemberlakuan tenggat waktu pengusiran adalah kedatangan dua kapal dari pelabuhan Fujairah milik UEA di pelabuhan Mukalla pada akhir pekan lalu. Menurut klaim koalisi Saudi, kedua kapal tersebut memasuki perairan Yaman tanpa otoritas resmi, mematikan sistem pelacakan internasional, dan melakukan pembongkaran muatan senjata serta kendaraan tempur dalam jumlah besar yang diperuntukkan bagi pasukan STC. Serangan udara yang kemudian dilakukan di daerah dermaga tersebut, yang dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa, dapat dilihat sebagai tindakan yang dirancang untuk memberikan pesan yang kuat tanpa memperluas skala konflik secara tidak perlu. Sebagai respons lanjutan, pemerintah Yaman yang didukung Saudi memberlakukan zona larangan terbang serta blokade laut dan darat selama 72 jam di seluruh pelabuhan dan penyeberangan, dengan pengecualian hanya untuk pengiriman yang telah mendapatkan izin resmi dari koalisi. Langkah ini menunjukkan bahwa Riyadh dan sekutunya berkomitmen untuk menutup ruang bagi intervensi eksternal yang tidak diinginkan dalam urusan Yaman.

Namun, konflik ini tidak dapat dipahami hanya dari perspektif dinamika bilateral antara Saudi dan UEA atau bahkan dari konteks Yaman semata. Ia terjadi di tengah peta geopolitik regional dan global yang semakin kompleks dan penuh ketegangan. Pada hari sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberikan peringatan bahwa AS siap mendukung serangan besar lainnya terhadap Iran, sebuah perkembangan yang menambah tekanan pada kawasan yang sudah berada di bawah bayangan konflik dengan kekuatan regional lainnya. Meskipun Saudi dan UEA awalnya bersatu dalam tujuan untuk menahan pengaruh Iran di Yaman melalui penindasan gerakan Houthi, perbedaan dalam pendekatan strategis dan kepentingan nasional masing-masing negara telah menyebabkan perpecahan yang tak terhindarkan. Saudi cenderung fokus pada pemulihan stabilitas melalui penguatan otoritas pusat yang sah di Yaman, sementara UEA dipercaya memiliki visi yang lebih terpusat pada pengendalian wilayah tertentu yang memiliki nilai strategis dan ekonomi, termasuk akses ke jalur pelayaran penting dan potensi sumber daya alam yang belum tereksplorasi.

Perpecahan antara kedua negara ini juga memiliki implikasi yang luas bagi struktur kekuasaan di kawasan Teluk secara keseluruhan. Sebagai dua kekuatan utama dalam Liga Negara Arab Teluk (GCC), Saudi dan UEA telah lama menjadi pilar stabilitas dan kerjasama ekonomi di kawasan. Eskalasi konflik terbuka di Yaman berpotensi merusak fondasi kerjasama ini, mempengaruhi kerja sama di bidang energi, perdagangan, dan keamanan yang telah dibangun selama beberapa dekade. Selain itu, hal ini juga dapat memberikan kesempatan bagi kekuatan eksternal lainnya untuk memperluas pengaruh mereka di kawasan, sebuah kemungkinan yang tentunya akan menjadi perhatian utama bagi kedua negara meskipun mereka sedang terlibat dalam perselisihan.

Sampai saat ini, Kementerian Luar Negeri UEA belum memberikan tanggapan resmi terhadap tuntutan pengusiran dan tuduhan yang diajukan oleh Saudi serta pemerintah Yaman yang mereka dukung. Keterlambatan dalam memberikan respons ini dapat diartikan sebagai bentuk refleksi terhadap langkah drastis yang diambil oleh Riyadh atau sebagai upaya untuk menyusun strategi tanggapan yang komprehensif dan tidak akan memperparah konflik lebih lanjut. Namun, tidak dapat disangkal bahwa hubungan antara kedua raksasa minyak Teluk telah memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian, di mana masa depan kerja sama regional dan stabilitas Yaman akan sangat bergantung pada keputusan yang diambil oleh kedua belah pihak dalam jam-jam dan hari-hari mendatang.

Secara keseluruhan, eskalasi ketegangan antara Arab Saudi dan UEA di Yaman adalah peringatan akan kompleksitas dinamika kekuasaan di kawasan Teluk yang terus berkembang. Ia menunjukkan bahwa bahkan sekutu lama dengan tujuan yang sama dapat terpecah karena perbedaan kepentingan nasional dan visi strategis, terutama ketika berada di tengah medan perang yang rumit seperti Yaman. Untuk mencapai stabilitas yang abadi di kawasan, diperlukan lebih dari sekadar tindakan militer atau ultimatum; ia membutuhkan dialog yang jujur, pengakuan terhadap kepentingan masing-masing pihak, dan komitmen bersama untuk membangun masa depan Yaman yang damai dan stabil, di mana hak dan kedaulatan rakyatnya dihormati oleh semua pihak.

Daeng Supriyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Melebihi Dua Pilihan Biner: Perdebatan Pilkada Sebagai Cerminan Kesenjangan Antara Retorika Otonomi dan Realitas Tata Kelola Pemerintahan yang Mendalam"

Rab Des 31 , 2025
Opini daeng Supriyanto SH MH. CMS.P Pengamat politik nasional Perdebatan yang tengah menggeliat seputar sistem pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Indonesia telah lama terjebak dalam ranah diskursus yang sempit dan reduksionis, terfokus pada perbandingan biner antara mekanisme pemilihan langsung versus tidak langsung, serta pertimbangan teknokratis seputar besaran biaya politik yang […]

Breaking News

Kategori Berita

BOX REDAKSI