![]()

Opini: daeng Supriyanto SH MH selaku pengamat Geopolitik Global
Pada tanggal 25 Maret 2026, CNBC Indonesia melaporkan hasil survei Reuters/Ipsos yang menunjukkan tingkat persetujuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump merosot menjadi 36%, turun dari 40% pada pekan sebelumnya dan mencapai titik terendah sejak ia kembali menjabat di Gedung Putih. Fenomena ini tidak bisa dilihat sebagai sekadar fluktuasi biasa dalam siklus popularitas kepemimpinan, melainkan sebagai manifestasi dari kompleksitas masalah yang melanda bangsa Amerika Serikat, yang melibatkan dinamika ekonomi, keputusan geopolitik, dan ekspektasi publik yang semakin tidak terpenuhi. Di balik angka-angka tersebut terdapat narasi yang mendalam tentang bagaimana kebijakan pemerintah tidak lagi sejalan dengan penderitaan dan harapan masyarakat sipil, serta bagaimana konflik internasional dan tantangan domestik saling terkait dalam membentuk opini publik.
Dinamika Ekonomi Sebagai Pemicu Utama Ketidakpuasan Publik
Salah satu faktor paling krusial yang menyebabkan penurunan persetujuan adalah ketidakpuasan terhadap penanganan ekonomi dan kenaikan biaya hidup. Hanya 25% responden yang menyatakan puas dengan cara Trump menangani biaya hidup, sementara tingkat persetujuan atas kebijakan ekonominya hanya mencapai 29% – angka terendah sepanjang masa jabatannya dan bahkan lebih rendah dibandingkan pendahulunya, Joe Biden. Data ini menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antara narasi pemerintah tentang pertumbuhan ekonomi dan realitas yang dialami oleh sebagian besar warga AS di tingkat bawah dan menengah. Lonjakan harga bahan bakar, yang terjadi setelah serangan militer terkoordinasi AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, menjadi pemicu langsung dari ketidakpuasan ini. Dilaporkan bahwa harga bensin di AS melonjak sekitar US$1 per galon sejak perang dimulai, sebuah kenaikan yang tidak hanya membebani anggaran rumah tangga tetapi juga berpotensi menekan perekonomian lebih luas melalui peningkatan biaya produksi dan distribusi barang serta jasa.
Secara teoritis, kepemimpinan yang efektif diharapkan mampu menyelaraskan kebijakan ekonomi dengan kebutuhan masyarakat, terutama dalam menghadapi guncangan eksternal seperti konflik yang berdampak pada pasokan energi. Namun, dalam kasus ini, kebijakan yang diambil tampaknya lebih fokus pada dinamika geopolitik daripada pada perlindungan kesejahteraan domestik. Survei mencatat bahwa 63% warga AS menilai kondisi ekonomi saat ini “agak lemah” atau “sangat lemah”, dengan rincian 40% pemilih Partai Republik, 66% independen, dan 84% Demokrat. Angka ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap ekonomi tidak lagi menjadi masalah yang bersifat partai, melainkan menjadi kekhawatiran yang meliputi seluruh lapisan masyarakat. Meskipun Partai Republik masih sedikit lebih dipercaya dalam mengelola ekonomi (38% dibandingkan 34% yang memilih Demokrat), keunggulan ini sangat tipis dan bisa dengan cepat menghilang jika pemerintah tidak mampu menunjukkan perbaikan yang nyata dalam kondisi ekonomi.
Konflik Geopolitik dengan Iran sebagai Beban Tambahan bagi Citra Trump
Dari sisi geopolitik, perang dengan Iran juga memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan rating persetujuan. Hanya 35% warga AS yang menyetujui serangan ke Iran, sementara 61% menyatakan tidak setuju – sebuah perbandingan yang menunjukkan bahwa keputusan militer tersebut tidak mendapatkan dukungan mayoritas publik. Lebih jauh lagi, sekitar 46% responden menilai perang tersebut akan membuat Amerika Serikat kurang aman dalam jangka panjang, sedangkan hanya 26% yang melihatnya akan meningkatkan keamanan nasional. Persepsi ini mencerminkan pemahaman masyarakat bahwa tindakan militer yang tidak diimbangi dengan strategi diplomasi yang matang dan pertimbangan mendalam tentang konsekuensi jangka panjang cenderung membawa lebih banyak risiko daripada manfaat.
Pernyataan bahwa Washington berencana mengirim ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah di tengah eskalasi konflik semakin memperdalam kekhawatiran publik tentang potensi perluasan perang dan dampaknya terhadap sumber daya negara serta keselamatan prajurit AS. Selain itu, penolakan Iran terhadap adanya negosiasi seperti yang diklaim Trump menunjukkan bahwa pendekatan pemerintah dalam menangani konflik kurang fleksibel dan tidak mampu membuka ruang untuk solusi damai. Dalam konteks teori hubungan internasional, tindakan militer yang tidak didukung oleh legitimasi domestik dan internasional cenderung sulit mencapai tujuan yang diinginkan dan justru bisa memperparah isolasi negara di panggung dunia. Hal ini tidak hanya berdampak pada citra internasional Amerika Serikat tetapi juga dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bekerja sama dengan negara lain dalam menangani masalah global lainnya, seperti perubahan iklim, kejahatan terorganisir, dan pandemi.
Implikasi Politik untuk Masa Depan Partai Republik dan Pemilihan Paruh Waktu
Penurunan rating Trump memiliki implikasi politik yang signifikan, terutama dalam menghadapi pemilihan paruh waktu yang akan datang. Doug Farrar, ahli strategi dari Partai Demokrat, menyatakan bahwa situasi ini “memberikan peluang besar bagi Demokrat untuk membuat kemajuan besar dalam pemilihan paruh waktu”. Hal ini masuk akal mengingat bahwa ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinan saat ini cenderung menguntungkan pihak oposisi, terutama jika mereka mampu menyajikan alternatif yang jelas dan menarik bagi masyarakat. Namun, Partai Demokrat juga perlu berhati-hati agar tidak hanya bergantung pada kelemahan lawan, melainkan juga mampu menyajikan program dan kebijakan yang dapat menangani akar masalah yang menyebabkan ketidakpuasan publik.
Di sisi lain, Partai Republik menghadapi tantangan untuk mempertahankan dukungan pemilihnya, terutama pemilih independen yang cenderung lebih peka terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan luar negeri yang tidak populer. Amanda Makki, ahli strategi politik dari Partai Republik, menyatakan bahwa “penting bagi masyarakat untuk mengetahui bahwa presiden merasakan penderitaan mereka dan bantuan sedang dalam perjalanan”. Namun, pernyataan semacam ini perlu diimbangi dengan tindakan konkret yang dapat dilihat dan dirasakan oleh masyarakat. Jika tidak, maka upaya untuk membangun kembali kepercayaan publik akan sulit terwujud dan Partai Republik berisiko kehilangan posisinya di parlemen serta mempengaruhi prospek mereka dalam pemilihan umum berikutnya.
Refleksi Terhadap Model Kepemimpinan dan Ekspektasi Masyarakat
Secara lebih luas, penurunan rating Trump dapat dilihat sebagai refleksi dari perubahan dalam harapan masyarakat terhadap kepemimpinan. Di era informasi yang cepat dan transparansi yang semakin tinggi, warga negara tidak lagi puas dengan retorika politik semata, melainkan mengharapkan hasil yang nyata dan tanggung jawab yang jelas dari para pemimpin mereka. Kesenjangan antara janji yang dibuat selama kampanye dengan realitas yang dihadapi setelah menjabat menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kecewa publik. Selain itu, kemampuan pemimpin untuk berkomunikasi secara efektif dengan masyarakat dan menunjukkan empati terhadap penderitaan mereka juga menjadi faktor kunci dalam membangun dan memelihara dukungan publik.
Dalam konteks ini, penting bagi pemerintah AS untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap kebijakan yang telah diambil dan mengidentifikasi area-area di mana perbaikan dapat dilakukan. Hal ini tidak hanya melibatkan penyesuaian kebijakan ekonomi untuk mengatasi kenaikan biaya hidup dan memperkuat perekonomian, tetapi juga pendekatan yang lebih cermat dan terkoordinasi dalam menangani konflik geopolitik dengan Iran, termasuk upaya untuk mencari solusi damai melalui jalur diplomasi. Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan transparansi dalam pengambilan keputusan dan memperkuat komunikasi dengan masyarakat agar mereka merasa terdengar dan diperhatikan.
Kesimpulan
Penurunan rating persetujuan Donald Trump ke level terendah sejak ia kembali menjabat merupakan peringatan yang jelas tentang kompleksitas tantangan yang dihadapi Amerika Serikat saat ini. Faktor ekonomi dan geopolitik saling terkait dalam membentuk opini publik, dan kepemimpinan yang efektif diperlukan untuk menyelaraskan kebijakan dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Meskipun situasi ini memberikan peluang bagi pihak oposisi, namun bagi seluruh bangsa Amerika Serikat, yang paling penting adalah menemukan cara untuk mengatasi masalah yang ada dan membangun masa depan yang lebih baik. Apakah pemerintah akan mampu merespons dengan tepat terhadap ketidakpuasan publik dan melakukan perubahan yang diperlukan, ataukah situasi akan terus memburuk dan berdampak lebih jauh pada stabilitas politik dan ekonomi negara – hanya waktu yang akan memberitahu.



