![]()

OPINI: Daeng Supriyanto SH MH Alumni pondok pesantren Sufi Baron Nganjuk Jawa Timur
Pada momen kemenangan spiritual yang kita rayakan setiap tahun dalam Hari Raya Idul Fitri, terdapat dimensi mendalam yang seringkali terpinggirkan oleh hiruk-pikuk rangkaian acara kemasyarakatan dan kedekatan lahiriah. Saling memaafkan dan meminta maaf bukanlah sekadar ritual sosial yang dijalankan dengan ucapan “maafkan lahir dan batin” yang terlontar secara mekanis, melainkan merupakan salah satu pilar fundamental dalam merealisasikan tujuan hakiki dari ibadah puasa Ramadhan – yaitu menyucikan diri dari segala bentuk kedzaliman, kesalahan, dan kekhilafan yang telah mengotori keutuhan jiwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wata’ala telah menjelaskan dengan gamblang tentang pentingnya memaafkan sebagai wujud dari ketaatan kepada-Nya dan sebagai jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Firman-Nya dalam Surat An-Nisa’ ayat 149: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu orang-orang fasik dengan suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan mereka dengan benar yang menjadikan kamu menyesal atas apa yang telah kamu kerjakan.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap kesalahan yang kita lakukan terhadap sesama makhluk tidak hanya merusak hubungan antarindividu, melainkan juga berpotensi merusak keharmonisan seluruh komunitas – dan oleh karena itu, usaha untuk memperbaiki hubungan melalui maaf dan pembaikan memiliki urgensi yang tak terbantahkan. Lebih lanjut, dalam Surat Ali ‘Imran ayat 134, Allah berfirman: “Orang-orang yang memberi sedekah di waktu mudah dan waktu susah, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Ayat ini menegaskan bahwa kemampuan untuk memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan ciri khas orang-orang yang dicintai oleh Allah – mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsu dan melihat hubungan sesama manusia dengan perspektif yang lebih luas, yaitu sebagai saudara-saudara yang sama-sama dipercayakan untuk menjaga keharmonisan alam semesta yang telah dirancang dengan sempurna oleh Sang Pencipta.
Sang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah memberikan teladan dan petunjuk yang sangat jelas tentang makna hakiki saling memaafkan, terutama dalam konteks Hari Raya Idul Fitri. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah sampai datang hari raya bagi salah seorang di antara kamu padahal dia masih memiliki dendam terhadap saudaranya.” Hadits ini bukan hanya sebuah larangan, melainkan sebuah peringatan yang penuh kasih sayang – bahwa kebahagiaan dan kemurnian ibadah puasa tidak akan dapat dirasakan secara utuh jika masih terdapat beban dendam dan kesalahpahaman dalam hati kita terhadap sesama. Selain itu, dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam saja; barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia menghormati tetangganya; barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia memaafkan orang yang berbuat salah kepadanya.” Hadits ini mengkaitkan secara intrinsik antara kemampuan untuk memaafkan dengan tingkat keimanan seseorang – karena hanya orang yang benar-benar menyadari keesaan Allah dan tujuan akhir dari kehidupan ini yang mampu melihat bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh sesama adalah bagian dari keterbatasan makhluk yang sama seperti kita sendiri, yang juga sedang dalam perjalanan untuk mencari kebenaran dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Ketika kita menghadapi keluarga, sanak saudara, sahabat karib, maupun rekan kerja dalam momen saling meminta maaf di Hari Raya Idul Fitri, kita harus menyadari bahwa tindakan ini memiliki dimensi yang sangat mendalam. Setiap ucapan maaf yang keluar dari hati yang tulus adalah bentuk pengakuan bahwa kita sebagai manusia memiliki banyak kekurangan dan kesalahan – baik yang disengaja maupun tidak disengaja – yang telah menyakiti perasaan, merusak kepercayaan, atau menghambat perkembangan hubungan yang saling menguntungkan. Tidak ada satu pun di antara kita yang bebas dari kesalahan; bahkan, semakin kita mendekatkan diri kepada Allah dan semakin dalam pemahaman kita tentang ajaran-Nya, semakin kita menyadari bahwa jumlah kesalahan yang telah kita lakukan jauh lebih banyak dari yang kita sadari. Oleh karena itu, meminta maaf bukanlah sebuah bentuk penghinaan diri, melainkan sebuah wujud dari kesadaran akan kebenaran bahwa kita semua adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan bantuan serta pengampunan dari Tuhan dan sesama.
Begitu pula dengan tindakan memaafkan – ketika kita menerima permintaan maaf dari orang lain dengan hati yang lapang dan tulus, kita tidak hanya memberikan kebebasan bagi orang tersebut dari beban rasa bersalah, melainkan juga membersihkan diri kita sendiri dari beban rasa dendam dan kemarahan yang dapat merusak kesehatan jiwa dan tubuh kita. Dalam konteks tujuan puasa yang ingin mengembalikan kita kepada kesucian seperti bayi yang baru lahir, tindakan memaafkan dan meminta maaf adalah salah satu cara paling efektif untuk membersihkan hati dari segala bentuk kotoran yang telah menumpuk selama setahun lamanya. Bayi yang baru lahir datang ke dunia dengan hati yang bersih dan suci, tanpa ada rasa dendam, kebencian, atau kesalahpahaman – dan melalui ibadah puasa serta tindakan saling memaafkan, kita diharapkan dapat kembali kepada kondisi semacam itu, sehingga kita dapat menjalankan misi kedamaian dan kemanusiaan dengan hati yang benar-benar bersih dan penuh kasih sayang.
Urgensi dari tindakan saling maaf memaafkan di Hari Raya Idul Fitri juga terletak pada kenyataan bahwa kehidupan ini sangat singkat dan tidak ada yang tahu kapan ajal akan menjemput kita. Kita tidak boleh menunda-nunda untuk memperbaiki hubungan dengan sesama karena kita tidak pernah tahu apakah kita akan memiliki kesempatan lagi untuk melakukannya. Selain itu, dalam pandangan agama Islam, keharmonisan antarumat manusia adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dihargai oleh Allah SWT – karena dengan menjaga hubungan yang baik dengan sesama, kita turut menjaga keharmonisan alam semesta yang telah dirancang oleh-Nya dengan penuh kebijaksanaan. Setiap hubungan yang diperbaiki melalui maaf dan pembaikan adalah sebuah kontribusi nyata terhadap terwujudnya kedamaian dunia, yang pada gilirannya akan membantu kita semua untuk lebih fokus dalam mengingat keesaan Allah SWT dan menjalankan perintah-Nya dengan lebih baik.
Oleh karena itu, mari kita jadikan momen Hari Raya Idul Fitri ini sebagai titik balik yang benar-benar berarti dalam kehidupan kita. Jangan biarkan saling meminta maaf dan memaafkan hanya menjadi formalitas yang berlalu seiring dengan berakhirnya hari raya. Sebaliknya, mari kita jadikan tindakan ini sebagai awal dari perubahan yang mendalam dalam pola pikir dan perilaku kita terhadap sesama manusia – yaitu melihat setiap orang sebagai saudara yang sama-sama membutuhkan kasih sayang, pengertian, dan pengampunan; sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki martabat yang sama tinggi; dan sebagai mitra dalam menjalankan misi kedamaian dan kemanusiaan yang telah dipercayakan kepada kita semua. Dengan begitu, ibadah puasa kita akan benar-benar mencapai tujuan hakikinya – yaitu menyucikan diri dan kembali kepada Allah SWT dengan hati yang bersih, jiwa yang damai, dan semangat yang penuh untuk menjalankan perintah-Nya serta menjaga keharmonisan sesama makhluk-Nya.




