![]()

Oleh Daeng Supriyanto SH MH
Alumni santri pondok pesantren sufi
Pengertian Umum dan Cakupan
Agama, dalam kerangka teoretis antropologis dan sosiologis, merupakan sistem kultural yang kompleks yang mengatur kepercayaan, praktik, dan tradisi yang menghubungkan manusia dengan tatanan kehidupan yang lebih luas, baik dalam ranah fisik maupun metafisik. Menurut Clifford Geertz, agama adalah “sistem simbol yang bekerja untuk membangun keyakinan yang kuat, terstruktur, dan merendahkan rasa takut yang menentukan makna hidup”. Cakupannya sangat luas, mencakup berbagai aliran dan keyakinan yang ada di seluruh dunia, masing-masing dengan ciri khas sendiri, seperti agama-agama besar seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan juga kepercayaan-kepercayaan lokal yang lebih kecil.
Kapitayan adalah salah satu agama kuno yang berasal dari masyarakat pulau Jawa, terutama di antara orang Jawa sejak era paleolitik, mesolitik, neolitik, dan megalit. Ia dianggap sebagai bentuk monoteisme asli Jawa yang dianut dan dijalankan secara turun temurun. Kapitayan memiliki ciri khas yang membedakannya dari kejawen, yang merupakan agama Jawani lainnya yang bersifat non-monoteistik.
Sunda Wiwitan, di sisi lain, adalah agama atau kepercayaan yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda di provinsi Banten dan Jawa Barat. Secara harfiah, Sunda Wiwitan berarti “Sunda permulaan”, “Sunda sejati”, atau “Sunda asli”. Ia berakar pada pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur (animisme dan dinamisme), meskipun terdapat pihak yang berpendapat bahwa ia juga memiliki unsur monoteisme purba.
Konsep Ketuhanan
Dalam agama-agama besar yang lebih dikenal, konsep ketuhanan bervariasi. Beberapa agama beragama tunggal, seperti Islam, Kristen, dan Yudaisme, mempercayai pada keberadaan Tuhan yang tunggal, maha kuasa, maha pengetahuan, dan maha baik. Agama-agama ini biasanya memiliki kitab suci yang dianggap sebagai wahyu dari Tuhan yang menjelaskan sifat-sifat dan ajaran-Nya.
Di Kapitayan, konsep ketuhanan terpusat pada sang Hyang Taya. Kata “Taya” berarti “tak terbayangkan”, “tak terlihat”, atau “mutlak” secara harfiah. Sang Hyang Taya adalah entitas yang abstrak, tidak bisa digambarkan, dan tidak dapat dilihat, dipikirkan, atau dihayati oleh panca indra duniawi manusia. Untuk bisa disembah, sang Hyang Taya mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut “tu” atau “to”, yang bermakna “daya gaib” yang bersifat adikodrati. “Tu” atau “to” adalah tunggal dalam dzat dan memiliki dua sifat, yaitu kebaikan dan kejahatan. Tu yang bersifat kebaikan disebut sang Hyang Wenang, sedangkan tu yang bersifat kejahatan disebut sang Manik Maya. Kedua sifat ini pada hakikatnya adalah bagian dari sang Hyang Tunggal.
Dalam Sunda Wiwitan, konsep ketuhanan juga memiliki sisi monoteistik, di mana di atas para dewata dan hyang dalam pantheonnya terdapat dewa tunggal tertinggi maha kuasa yang tak berwujud yang disebut sang Hyang Kersa atau Nu Ngersakeun. Sang Hyang Kersa juga disebut sebagai Batara Tunggal (Tuhan yang maha esa), Batara Jagat (penguasa alam), dan Batara Seda Niskala (yang gaib). Ia bersemayam di Buana Nyung Cung, yang merupakan lapisan alam paling atas. Meskipun demikian, Sunda Wiwitan juga masih memelihara pemujaan terhadap arwah leluhur dan kekuatan alam, yang menunjukkan unsur animisme dan dinamisme yang masih kuat.
Kosmologi
Kosmologi adalah studi tentang asal-usul, struktur, dan evolusi alam semesta. Dalam berbagai agama, kosmologi biasanya dijelaskan melalui mitologi dan keyakinan tentang alam yang berbeda.
Dalam agama-agama besar, kosmologi juga bervariasi. Misalnya, dalam Islam, alam semesta dianggap telah diciptakan oleh Allah dan terdiri dari dunia yang terlihat dan dunia yang tidak terlihat. Dunia yang terlihat adalah tempat tinggal manusia dan makhluk lainnya, sedangkan dunia yang tidak terlihat adalah tempat tinggal malaikat, setan, dan arwah orang yang telah meninggal.
Di Kapitayan, informasi tentang kosmologinya yang rinci kurang banyak tersedia dibandingkan dengan Sunda Wiwitan. Namun, dari beberapa sumber, diketahui bahwa Kapitayan memiliki pandangan tentang alam semesta yang terstruktur, di mana sang Hyang Taya adalah penguasa dan pencipta segala sesuatu. Kekuatan sang Hyang Taya diwujudkan dalam berbagai tempat, seperti batu, monumen, dan pohon, yang kemudian menjadi tempat persembahan untuk mencerminkan kesetiaan kepada sang Hyang Taya.
Dalam Sunda Wiwitan, kosmologi sangat terstruktur dan rinci. Alam semesta dipercaya terbagi menjadi tiga macam alam, yaitu Buana Nyung Cung, Buana Panca Tengah, dan Buana Larang. Buana Nyung Cung adalah tempat bersemayam sang Hyang Kersa, yang letaknya paling atas. Buana Panca Tengah adalah tempat berdiam manusia dan makhluk lainnya, letaknya di tengah. Buana Larang adalah neraka, letaknya paling bawah. Antara Buana Nyung Cung dan Buana Panca Tengah terdapat 18 lapis alam yang tersusun dari atas ke bawah. Lapisan teratas bernama Bumi Suci Alam Padang atau Alam Kahyangan atau Mandala Hyang, sedangkan lapisan kedua tertinggi merupakan tempat tinggal Nyi Pohaci Sanghyang Asri dan Sunan Ambu.
Ajaran Moral dan Nilai Hidup
Ajaran moral dan nilai hidup adalah bagian penting dari setiap agama, yang memberikan pedoman bagi perilaku manusia dalam masyarakat.
Dalam agama-agama besar, ajaran moral dan nilai hidup biasanya diambil dari kitab suci dan ajaran para nabi atau pemimpin agama. Misalnya, dalam Islam, ajaran moral berdasarkan Al-Quran dan Hadis, yang menekankan pada kebaikan, keadilan, kasih sayang, dan penghormatan kepada orang lain.
Di Kapitayan, ajaran moral dan nilai hidup juga penting, meskipun tidak sebanyak yang tercatat dalam kitab suci agama-agama besar. Ajaran Kapitayan menekankan pada pentingnya hidup yang harmonis dengan alam dan sesama manusia, serta penghormatan kepada leluhur. Penganut Kapitayan juga diperintahkan untuk melakukan kebaikan dan menghindari kejahatan, serta untuk memelihara kebersihan batin dan jasmani.
Dalam Sunda Wiwitan, ajaran moral dan nilai hidup terkandung dalam kitab Sanghyang Siksakanda ng Karesian, yang merupakan kitab yang berasal dari zaman kerajaan Sunda yang berisi ajaran keagamaan dan tuntunan moral, aturan, dan pelajaran budi pekerti. Ajaran Sunda Wiwitan juga menekankan pada pentingnya hidup yang harmonis dengan alam dan sesama manusia, serta penghormatan kepada leluhur. Prinsip-prinsip utama dalam Sunda Wiwitan antara lain welas asih, undak usuk, tata krama, budi bahasa, dan budaya, serta wiwaha yudha naradha. Selain itu, terdapat juga prinsip cara ciri bangsa, yang merupakan unsur pembeda manusia seperti rupa, adat, bahasa, aksara, dan budaya.
Praktik Keagamaan
Praktik keagamaan adalah cara-cara di mana penganut agama mengekspresikan keyakinan dan ajaran mereka. Praktik keagamaan ini dapat mencakup ritual, ibadah, peringatan hari raya, dan aktivitas sosial lainnya.
Dalam agama-agama besar, praktik keagamaan biasanya sangat terstruktur dan teratur. Misalnya, dalam Islam, penganutnya diwajibkan untuk melakukan shalat lima kali sehari, puasa di bulan Ramadhan, zakat, haji, dan umrah. Selain itu, terdapat juga peringatan hari raya seperti Idul Fitri dan Idul Adha.
Di Kapitayan, praktik keagamaan juga meliputi ritual dan persembahan kepada sang Hyang Taya. Persembahan biasanya diberikan di tempat-tempat yang dianggap suci, seperti batu, monumen, dan pohon, yang dianggap sebagai tempat di mana kekuatan sang Hyang Taya diwujudkan. Selain itu, penganut Kapitayan juga melakukan ritual untuk merayakan acara-acara penting dalam kehidupan, seperti kelahiran, perkawinan, dan kematian.
Dalam Sunda Wiwitan, praktik keagamaan juga meliputi ritual dan persembahan kepada sang Hyang Kersa, arwah leluhur, dan kekuatan alam. Ritual-ritual ini dapat dilakukan di tempat-tempat suci seperti kabuyutan, punden berundak, atau di rumah tangga. Selain itu, penganut Sunda Wiwitan juga merayakan acara-acara penting dalam kehidupan, seperti kelahiran, perkawinan, dan kematian, dengan melakukan ritual yang khusus. Salah satu ritual yang paling terkenal dalam Sunda Wiwitan adalah Seren Taun, yang merupakan perayaan tahunan untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen.
Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah cara di mana agama diatur dan dikelola. Struktur organisasi ini dapat bervariasi tergantung pada jenis agama dan konteks budaya serta sosialnya.
Dalam agama-agama besar, struktur organisasi biasanya sangat terstruktur dan hierarkis. Misalnya, dalam Katolik Roma, terdapat struktur organisasi yang terdiri dari Paus, Uskup Agung, Uskup, dan Pastor. Selain itu, terdapat juga lembaga-lembaga keagamaan yang bertugas untuk mengelola dan mengatur aktivitas keagamaan.
Di Kapitayan, struktur organisasi kurang terstruktur dan hierarkis dibandingkan dengan agama-agama besar. Penganut Kapitayan biasanya diatur dalam komunitas-komunitas kecil yang dipimpin oleh seorang pemimpin adat atau sesepuh yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam ajaran Kapitayan. Pemimpin adat ini bertugas untuk memimpin ritual dan ibadah, serta memberikan bimbingan dan nasihat kepada penganutnya.
Dalam Sunda Wiwitan, struktur organisasi juga kurang terstruktur dan hierarkis dibandingkan dengan agama-agama besar. Penganut Sunda Wiwitan biasanya diatur dalam komunitas-komunitas adat yang dipimpin oleh seorang pemimpin adat atau sesepuh yang disebut “Rama Pupu Adat”. Selain itu, terdapat juga “Girang Pangaping” yang berfungsi sebagai pendamping atau pengurus komunitas. Pemimpin adat ini bertugas untuk memimpin ritual dan ibadah, serta memberikan bimbingan dan nasihat kepada penganutnya.
Dari analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa agama, Kapitayan, dan Sunda Wiwitan memiliki perbedaan yang signifikan dalam hal pengertian umum dan cakupan, konsep ketuhanan, kosmologi, ajaran moral dan nilai hidup, praktik keagamaan, serta struktur organisasi. Meskipun demikian, semuanya memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia, serta memberikan kontribusi yang berharga terhadap keberagaman dan keunikan bangsa.




