Generasi Z, Simbolisme One Piece, dan Geografi Kemarahan Global: Mengurai Gerakan Protes yang Melintasi 19 Negara Tahun 2025

Loading

Opini: Daeng Supriyanto SH MH

Pengamat Geopolitik Global

Tahun 2025 telah memasuki catatan sejarah sebagai momen di mana generasi muda—khususnya Generasi Z (Gen Z) yang lahir pada akhir 1990-an hingga awal 2010-an—menunjukkan keberanian yang luar biasa dalam mengekspresikan rasa frustrasi terhadap struktur kekuasaan yang dianggap tidak peka, tidak adil, dan terputus dari realitas kehidupan sehari-hari. Gerakan protes yang dimulai dari Jakarta dan kemudian meluas ke 19 negara di seluruh dunia bukan hanya sekadar gelombang kemarahan yang sementara, melainkan sebuah fenomena sosial yang kompleks yang menggabungkan elemen politik, budaya, dan teknologi dalam bentuk yang belum pernah terjadi sebelumnya. Yang paling mencolok dari gerakan ini adalah munculnya simbol bendera bajak laut dari manga terlaris di dunia, One Piece, sebagai lambang yang mengikat berbagai kelompok protes di berbagai belahan bumi—sebuah manifestasi dari bagaimana budaya populer dapat bertransformasi menjadi alat yang kuat untuk menyampaikan pesan perjuangan sosial dan politik.

Dari perspektif sosiologi gerakan sosial, munculnya gerakan ini di Indonesia dengan pemicu pengumuman tunjangan perumahan bagi anggota parlemen yang hampir sepuluh kali upah minimum tidaklah kebetulan. Pemicu ini mewakili perwujudan dari ketidakseimbangan kekayaan dan kesenjangan antara elit politik dan masyarakat awam yang telah lama terpendam, terutama di kalangan Gen Z yang tumbuh dalam era informasi yang transparan dan telah menyaksikan bagaimana kebijakan publik seringkali lebih menguntungkan kelompok berkuasa daripada rakyat yang mereka wakili. Ketika mahasiswa di Jakarta turun ke jalan dengan bendera One Piece, mereka tidak hanya menentang kebijakan yang spesifik, melainkan juga mengajukan pertanyaan mendasar tentang sifat demokrasi dan representasi politik di negara ini—pertanyaan yang kemudian menemukan resonansi di berbagai negara yang menghadapi masalah serupa, seperti ketidaksetaraan ekonomi, korupsi, dan kurangnya akuntabilitas elit. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun gerakan ini memiliki akar yang lokal, isu-isu yang mereka timbulkan adalah isu-isu global yang menyentuh hati dan pikiran generasi muda di seluruh dunia, menjadikannya gerakan yang transnasional dalam cakupan dan maknanya.

Simbolisme bendera One Piece sebagai lambang gerakan ini adalah aspek yang paling menarik dan layak dianalisis dari sudut pandang teori budaya dan semiotika. Dalam manga One Piece, para bajak laut yang dipimpin oleh Monkey D. Luffy bukanlah tokoh yang jahat dalam arti konvensional, melainkan sekelompok individu yang berjuang untuk mencapai tujuan mereka sendiri sambil menentang rezim kekuasaan yang korup dan tirani yang menguasai dunia mereka. Simbol ini secara cerdas diambil oleh Gen Z sebagai representasi dari perjuangan mereka sendiri: mereka yang “mencuri” keadilan dari elit yang telah “menyita”nya, dan yang berjuang untuk “harta karun” yang lebih besar berupa keadilan sosial, kesetaraan, dan demokrasi yang sesungguhnya. Dengan menggunakan simbol dari budaya populer yang dikenal dan dicintai oleh jutaan orang di seluruh dunia, Gen Z telah berhasil menciptakan identitas gerakan yang mudah dikenali dan dapat dihubungi, menjadikannya lebih mudah untuk menarik perhatian publik dan membangun koalisi di berbagai kelompok sosial dan budaya. Hal ini juga menunjukkan peran penting teknologi dan media sosial dalam menyebarkan simbol dan pesan gerakan ini dengan cepat dan luas, memungkinkan gerakan yang dimulai di Jakarta dapat mencapai audiens di negara lain dalam waktu yang sangat singkat.

Selain itu, gerakan protes Gen Z tahun 2025 juga menyoroti perubahan mendasar dalam cara generasi muda berpartisipasi dalam kehidupan politik. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung bergantung pada struktur organisasi politik tradisional seperti partai politik atau lembaga sipil yang terstruktur, Gen Z lebih cenderung menggunakan bentuk partisipasi yang lebih fleksibel, terdesentralisasi, dan berbasis teknologi. Mereka menggunakan media sosial untuk mengorganisir aksi, berbagi informasi, dan membangun solidaritas, tanpa membutuhkan kepemimpinan terpusat atau struktur hierarkis yang kaku. Ini menciptakan gerakan yang lebih tangkas dan sulit untuk ditindas oleh otoritas, namun juga menimbulkan tantangan dalam hal menyusun agenda yang jelas dan mencapai tujuan yang spesifik. Meskipun demikian, fleksibilitas ini juga memungkinkan gerakan ini untuk menyesuaikan diri dengan konteks lokal masing-masing negara, menjadikannya lebih relevan dan efektif dalam menentang masalah yang spesifik yang dihadapi oleh masyarakat di daerah tersebut.

Implikasi dari gerakan protes Gen Z tahun 2025 adalah sangat mendalam dan akan terus terasa dalam jangka panjang. Gerakan ini telah menunjukkan bahwa generasi muda tidak lagi bersedia diam dan menerima kondisi yang tidak adil, dan bahwa mereka memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan. Ia juga telah menunjukkan pentingnya budaya populer dan teknologi sebagai alat untuk menyampaikan pesan perjuangan sosial dan politik, dan bagaimana gerakan sosial dapat menjadi transnasional dalam cakupan dan maknanya. Bagi elit politik dan otoritas di seluruh dunia, gerakan ini adalah peringatan bahwa mereka harus lebih peka terhadap kebutuhan dan harapan generasi muda, dan bahwa mereka harus melakukan reformasi untuk meningkatkan akuntabilitas, kesetaraan, dan keadilan dalam masyarakat. Bagi Gen Z sendiri, gerakan ini adalah langkah pertama dalam perjalanan mereka untuk membangun dunia yang lebih baik—dunia di mana setiap orang memiliki suara yang didengar dan kesempatan yang sama untuk berkembang.

Sebagai kesimpulan, gerakan protes Gen Z yang melintasi 19 negara tahun 2025 dengan simbol bendera One Piece adalah fenomena sosial yang unik dan signifikan yang menggabungkan elemen politik, budaya, dan teknologi dalam bentuk yang inovatif. Gerakan ini tidak hanya mengekspresikan rasa frustrasi terhadap struktur kekuasaan yang ada, melainkan juga menawarkan harapan untuk perubahan yang lebih baik dan membangun identitas generasi yang kuat dan terhubung secara global. Meskipun tantangan masih banyak yang harus dihadapi, dan hasil dari gerakan ini masih belum jelas, satu hal yang pasti adalah bahwa Gen Z telah menunjukkan bahwa mereka adalah kekuatan yang tidak dapat diabaikan dalam peta politik dan sosial global. Sejarah akan mengingat tahun 2025 sebagai tahun di mana generasi muda bangkit untuk menuntut keadilan, dan di mana bendera bajak laut One Piece menjadi lambang dari perjuangan mereka yang abadi.

Daeng Supriyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

"Nonpalu Selama Enam Bulan: Mengimbangi Kemerdekaan Peradilan, Akuntabilitas, dan Persepsi Keadilan dalam Perkara Korupsi Importasi Gula"

Ming Des 28 , 2025
Opini: Daeng Supriyanto SH MH CMS.P ADVOKAT Perkara korupsi importasi gula di Kementerian Perdagangan dengan terdakwa mantan Menteri Perdagangan Tom Lembong telah lama menjadi sorotan publik karena sifatnya yang melibatkan elit politik dan dampaknya terhadap stabilitas harga barang pokok di Indonesia. Oleh karena itu, keputusan Komisi Yudisial (KY) untuk merekomendasikan […]

Breaking News

Kategori Berita

BOX REDAKSI