DI ANTARA MEDAN PERJUANGAN DAN HIASAN ALAM: FILSAFAT SPORT TOURISM DALAM PON XXII/2028 NUSA TENGGARA BARAT

Loading

Oplus_131072

Oleh: Daeng Supriyanto DH MH – Pelaku Olahraga

Sebagai seseorang yang telah lama mengarungi dunia olahraga, menyelami hakikatnya bukan sekadar sebagai kompetisi fisik melainkan sebagai perwujudan keseimbangan jiwa, raga, dan lingkungan, saya menyambut baik pemberitaan yang dimuat oleh Kabarindo.com pada laporan bertajuk “Intip Kesiapan PON XXII/2028, Ketum KONI Pusat Puji Potensi Sport Tourism NTB”. Ketika Letjen TNI Purn Marciano selaku Ketua Umum KONI Pusat menyampaikan harapannya agar para peserta PON XXII/2028 Nusa Tenggara Barat tidak hanya berlaga di venue yang telah disiapkan, melainkan juga “disuguhkan dengan keindahan alam pada beberapa destinasi wisata” serta berkeinginan agar “Sport Tourism akan semakin maju”, maka kita sedang berdiri di persimpangan dua realitas yang selama ini sering dianggap terpisah: pencapaian prestasi dan kelestarian ruang hidup manusia.

Dalam pandangan filsafat olahraga, kita kerap diajarkan bahwa olahraga lahir dari keselarasan manusia dengan alam. Sejak zaman kuno, ajang pertandingan bukan sekadar menguji kekuatan dan kecepatan, melainkan bentuk syukur terhadap anugerah alam yang memberikan tenaga dan ruang untuk berkarya. Maka, ketika PON XXII/2028 merancang Teras Udayana di Kota Mataram sebagai tempat pertandingan cabang bela diri, memanfaatkan ruang berkualitas di Hotel Merumatta Senggigi untuk biliar dan Pickleball, serta menjadikan Aruna Grand Ballroom untuk Dancesport sambil tetap melingkupi keseluruhan rangkaian ini dengan keindahan alam NTB, hal itu bukan sekadar strategi pengelolaan acara, melainkan upaya mengembalikan olahraga ke pangkal hakikat keberadaannya.

Saya melihat makna mendalam dalam ungkapan Ketum KONI Pusat tersebut: “olahraga mampu memberikan kebahagiaan dan juga nilai tambah bagi perekonomian”. Di sinilah konsep Sport Tourism menemukan landasan filosofisnya yang kokoh. Jika selama ini banyak yang memandang pariwisata hanya sebagai aktivitas menikmati keindahan pemandangan, dan olahraga sebagai persaingan ketat menuju kemenangan, maka PON XXII/2028 NTB berusaha meruntuhkan batas pemisah itu. Ia mengajarkan bahwa keindahan alam yang melingkupi arena pertandingan tidak berfungsi sekadar sebagai latar belakang visual, melainkan sebagai elemen penyempurna yang membentuk karakter peserta dan pengalaman penonton.

Secara ontologis, ruang yang dihuni oleh ajang olahraga tidak bersifat netral. Ketika seorang atlet berlaga di Teras Udayana yang telah menjadi tempat berkumpul dan berolahraga masyarakat setempat selama ini, dikelilingi oleh tatanan alam dan suasana sosial yang hidup, maka semangat bertandingnya akan bertaut dengan semangat tempat itu sendiri. Demikian pula, ketika para peserta dapat menyaksikan hamparan keindahan alam Lombok di sela-sela kesibukan pertandingan, mereka sedang mengalami proses penyeimbangan batin yang sangat dibutuhkan dalam setiap perjuangan. Olahraga yang terasing dari lingkungan alaminya cenderung berubah menjadi persaingan yang keras dan kering, namun olahraga yang bersatu dengan keindahan alam akan melahirkan kemenangan yang utuh, meliputi keunggulan teknis sekaligus kedamaian jiwa.

Harapan agar Sport Tourism semakin maju mengandung makna dialektis yang mendalam. Ia memadukan dua nilai yang sama pentingnya: nilai intrinsik olahraga sebagai sarana pembentukan manusia, dan nilai ekstrinsiknya sebagai penggerak roda kehidupan masyarakat. NTB telah menunjukkan kesiapan yang patut diapresiasi: menyediakan venue yang memadai, memanfaatkan akomodasi yang telah terbukti kualitasnya, sekaligus mempertahankan keunikan lanskap alamnya sebagai daya tarik utama. Ini membuktikan bahwa pembangunan fasilitas olahraga tidak harus mengorbankan keaslian lingkungan, melainkan justru dapat melestarikannya dengan memberikan fungsi baru yang bermanfaat.

Bagi saya selaku pelaku olahraga, konsep ini membawa pesan moral yang jelas: keberhasilan suatu ajang olahraga nasional tidak hanya diukur dari jumlah rekor yang terpecahkan atau medali yang diperebutkan, melainkan dari seberapa besar ia mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi tuan rumah dan membangun kesadaran akan keutuhan hubungan manusia dengan alam. Ketika Sport Tourism berkembang, maka keindahan alam NTB tidak lagi dilihat sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi semata, melainkan sebagai warisan yang dijaga agar terus dapat memberikan inspirasi bagi generasi atlet mendatang.

Sebagai penutup pemikiran ini, PON XXII/2028 Nusa Tenggara Barat telah membuka babak baru dalam perjalanan olahraga Indonesia. Ia mengingatkan kita bahwa kemajuan olahraga nasional seharusnya berjalan beriringan dengan kemajuan kesejahteraan dan kelestarian lingkungan. Semoga harapan yang disampaikan oleh pimpinan KONI Pusat ini tidak sekadar menjadi ucapan seremonial, melainkan menjadi benih yang tumbuh menjadi budaya baru, di mana setiap langkah atlet, setiap sorakan penonton, dan setiap keindahan alam bersatu dalam satu harmoni yang luhur.

Sumber berita lengkap dapat dibaca di: https://www.kabarindo.com/olahraga/4032809359/intip-kesiapan-pon-xxii2028-ketum-koni-pusat-puji-potensi-sport-tourism-ntb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori Berita

BOX REDAKSI