Antara Kejadian Geologis dan Kehendak Ilahi: Memahami Berapa Kali Dunia Mengalami Kiamat

Loading

Opini oleh Daeng Supriyanto SH MH

Dalam perjalanan pemikiran manusia sepanjang sejarah, tidak ada topik yang lebih memikat dan memicu pemikiran intelektual daripada pertanyaan tentang akhir zaman. Kata “kiamat” itu sendiri membawa muatan makna yang mendalam, melampaui batasan bahasa dan budaya, yang masing-masing menawarkan interpretasi yang unik berdasarkan kerangka pandang yang mereka anut. Ketika kita mencoba menjawab pertanyaan “berapa kali dunia telah mengalami kiamat”, kita terjun ke dalam ranah yang kompleks, di mana sains dengan keakuratannya yang berbasis bukti fosil bertemu dengan ajaran agama yang penuh dengan kebenaran ilahi. Kedua ranah ini, meskipun tampak saling bertentangan, sebenarnya saling melengkapi dalam memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang makna “kehancuran” dan “kedaulatan” dalam tatanan alam semesta.

Dari perspektif sains, “kiamat” didefinisikan sebagai kepunahan massal, yaitu kejadian di mana sekitar 75% spesies di Bumi punah dalam waktu geologis yang singkat (kurang dari 2,8 juta tahun). Ini adalah konsep yang berdasarkan analisis empiris, di mana ilmuwan menggunakan bukti fosil dan metode penanggalan karbon untuk melacak perubahan populasi spesies sepanjang milyaran tahun sejarah Bumi. Berdasarkan data yang tersedia, terdapat setidaknya lima kepunahan massal utama yang telah terjadi sejak 500 juta tahun lalu. Kejadian pertama adalah pada akhir Periode Ordovician (sekitar 444 juta tahun lalu), di mana perubahan iklim ekstrem menyebabkan kepunahan sebagian besar spesies laut. Kemudian, pada akhir Periode Devonian (sekitar 360 juta tahun lalu), ledakan gunung berapi dan perubahan kualitas air laut menyebabkan kepunahan banyak spesies ikan dan hewan laut lainnya. Kejadian yang paling parah adalah pada akhir Periode Permian (sekitar 250 juta tahun lalu), yang dikenal sebagai “Great Dying”, di mana 96% spesies laut dan 70% spesies darat punah. Setelah itu, pada akhir Periode Triassic (sekitar 200 juta tahun lalu), lagi-lagi perubahan iklim dan ledakan gunung berapi menyebabkan kepunahan banyak spesies, termasuk sebagian besar reptil purba. Yang terakhir adalah pada akhir Periode Cretaceous (sekitar 65 juta tahun lalu), di mana tabrakan asteroid dengan Bumi menyebabkan kepunahan dinosaurus dan banyak spesies lainnya. Beberapa penelitian juga mengusulkan adanya kepunahan massal keenam pada periode Capitanian (sekitar 262 juta tahun lalu), meskipun masih diperdebatkan apakah itu kejadian global atau regional. Saat ini, banyak ilmuwan juga menyatakan bahwa Bumi sedang memasuki kepunahan massal keenam yang dipicu oleh aktivitas manusia, seperti perubahan iklim, deforestasi, polusi, dan perusakan habitat alam.

Dari perspektif agama, definisi dan jumlah “kiamat” berbeda-beda tergantung pada ajaran masing-masing agama. Namun, dalam konteks ini, kita akan fokus pada ajaran Islam, yang memberikan penjelasan yang rinci tentang kiamat dan apa yang akan terjadi pada hari itu. Dalam Islam, kiamat disebut Yaumul Qiyamah, yaitu hari akhir kehidupan dunia, di mana semua makhluk akan dibangkitkan kembali dan dihisab amalannya oleh Allah SWT. Menurut ajaran Islam, kiamat adalah suatu kebenaran yang pasti dan tidak dapat dihindari, dan hanya Allah SWT yang mengetahui kapan ia akan terjadi. Meskipun demikian, Al-Qur’an dan Hadits telah memberikan petunjuk tentang tanda-tanda kiamat dan gambaran yang akan terjadi ketika hari itu datang.

Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang menjelaskan tentang kiamat dan keputusasaan alam semesta. Misalnya, dalam Surah Ad-Dukhan ayat 41, Allah SWT berfirman: “يَوۡمَ لَا يُغۡنِ ىۡ مَوۡلًى عَنۡ مَّوۡلًى شَيۡــًٔا وَّلَا هُمۡ يُنۡصَرُوۡنَۙ” (Artinya: “Yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikit pun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan.”). Ayat ini menunjukkan bahwa pada hari kiamat, tidak ada seorang pun yang dapat membantu orang lain, dan setiap orang akan dihisab berdasarkan amalannya sendiri. Selain itu, dalam Surah Al-Qariah ayat 1-5, Allah SWT berfirman: “ٱلْقَارِعَةُ . مَا ٱلْقَارِعَةُ . وَمَا ٓ أَدْرَىٰ كَ مَا ٱلْقَارِعَةُ . يَوْمَ يَكُونُ ٱلنَّاسُ كَ ٱلْفَرَا شِ ٱلْمَبْثُوثِ . وَتَكُونُ ٱلْجِ بَالُ كَ ٱلْعِهْنِ ٱلْ مَن فُ وشِ .” (Artinya: “Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihamburkan.”). Ayat ini menggambarkan keserakahan dan kehancuran yang akan terjadi pada hari kiamat, di mana manusia akan terpisah satu sama lain dan gunung-gunung akan hancur menjadi debu.

Selain ayat-ayat Al-Qur’an, terdapat juga banyak Hadits yang menjelaskan tentang kiamat dan tanda-tandanya. Misalnya, Rasulullah SAW bersabda: “أ Aku diutus (oleh Allah) dan jarak nya dengan kiamat itu bagai dua jari ini. (Beliau bersabda demikian sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya).” (Riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Anas). Hadits ini menunjukkan bahwa kiamat adalah sesuatu yang dekat dan akan segera terjadi. Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda: “إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لَأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ ، وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرَجُ ، وَالْهَرَجُ : الْقَتْلُ .” (Riwayat Al-Bukhari dari Abu Musa dan ‘Abdullah bin Mas’ud) (Artinya: “Sesungguhnya sebelum hari kiamat datang, ada hari-hari di mana kebodohan akan marak, ilmu akan menghilang, dan pembunuhan merajalela.”). Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu tanda-tanda kiamat adalah maraknya kebodohan dan hilangnya ilmu, yang akan menyebabkan terjadinya kekacauan dan pembunuhan di dunia.

Mengenai berapa kali dunia telah mengalami kiamat menurut ajaran Islam, terdapat perdebatan antara ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa kiamat hanya akan terjadi sekali, yaitu pada hari Yaumul Qiyamah, di mana dunia dan segala isinya akan dihancurkan dan kemudian dibangkitkan kembali. Namun, sebagian ulama lain berpendapat bahwa terdapat juga kiamat kecil yang terjadi sepanjang sejarah manusia, seperti bencana alam, wabah penyakit, perang, dan kematian individu. Kiamat kecil ini dianggap sebagai tanda-tanda bahwa kiamat besar akan segera terjadi, dan sebagai pengingat bagi manusia untuk selalu beribadah kepada Allah SWT dan melakukan kebaikan.

Dalam konteks ini, kita dapat melihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara definisi “kiamat” menurut sains dan agama. Dari perspektif sains, “kiamat” adalah kepunahan massal yang terjadi akibat faktor alamiah, sedangkan dari perspektif agama, “kiamat” adalah akhir kehidupan dunia yang ditentukan oleh kehendak ilahi. Namun, meskipun ada perbedaan ini, kedua perspektif ini sebenarnya saling melengkapi dalam memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang makna “kehancuran” dan “kedaulatan” dalam tatanan alam semesta. Dari perspektif sains, kita dapat memahami bagaimana alam semesta bekerja dan bagaimana perubahan alamiah dapat menyebabkan kepunahan massal. Dari perspektif agama, kita dapat memahami makna spiritual dari kehancuran dan bagaimana manusia harus bersikap menghadapinya.

Sebagai kesimpulan, pertanyaan tentang berapa kali dunia telah mengalami kiamat adalah sebuah pertanyaan yang kompleks dan membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang kedua perspektif sains dan agama. Dari perspektif sains, terdapat setidaknya lima kepunahan massal utama yang telah terjadi sejak 500 juta tahun lalu, dan kemungkinan besar kita sedang memasuki kepunahan massal keenam yang dipicu oleh aktivitas manusia. Dari perspektif agama, terutama Islam, kiamat adalah akhir kehidupan dunia yang pasti dan tidak dapat dihindari, dan hanya Allah SWT yang mengetahui kapan ia akan terjadi. Meskipun ada perbedaan antara definisi “kiamat” menurut sains dan agama, kedua perspektif ini sebenarnya saling melengkapi dalam memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang makna “kehancuran” dan “kedaulatan” dalam tatanan alam semesta. Oleh karena itu, kita harus mempelajari dan memahami kedua perspektif ini dengan terbuka dan objektif, dan menggunakan pengetahuan yang kita peroleh untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia, dan terhadap alam semesta yang kita huni.

Daeng Supriyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Zaman Nabi Nuh: Antara Kejadian Ilahi, Interpretasi Kiamat, dan Jejak Fisik yang Dipecahkan

Sab Des 13 , 2025
Opini: Oleh Daeng Supriyanto SH MH Dalam khazanah pemikiran manusia, tidak ada kisah yang lebih melampaui batasan waktu dan kepercayaan daripada kisah Nabi Nuh dan bahtera yang menjadi pelindungnya dari banjir besar. Kisah ini tidak hanya tercatat dalam teks suci agama-agama Semitik—Islam, Kristen, dan Yudaisme—tetapi juga muncul sebagai legenda dalam […]

Kategori Berita

BOX REDAKSI