BRI dan Kemenpora Berikan Literasi Keuangan bagi Atlet SEA Games 2025: Menciptakan Fondasi Ekonomi yang Kokoh sebagai Investasi Strategis bagi Masa Depan Olahraga Nasional

Loading

Oleh Daeng Supriyanto SH MH
Advokat

Kolaborasi antara Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dalam memberikan program literasi keuangan bagi atlet yang akan mewakili Indonesia pada SEA Games 2025 bukanlah sekadar inisiatif sosial atau kegiatan pendukung yang bersifat formalistis. Sebaliknya, ia merupakan sebuah langkah visioner yang menyentuh inti dari tantangan struktural yang telah lama menghadapi dunia olahraga nasional—yaitu bagaimana memastikan bahwa prestasi atlet di medan pertandingan dapat diimbangi dengan kualitas kehidupan yang sejahtera dan keberlanjutan setelah masa karier olahraganya usai. Secara epistemologis, inisiatif ini mencerminkan pergeseran paradigma dari pandangan yang menganggap atlet hanya sebagai instrumen untuk meraih prestasi dan kebanggaan negara, menuju pandangan yang lebih holistik yang mengakui bahwa atlet adalah individu yang memiliki hak untuk membangun kehidupan yang mandiri dan berkualitas, baik selama maupun setelah masa mereka berkarier di dunia olahraga.

Untuk memahami signifikansi dari program literasi keuangan ini, kita perlu menempatkannya dalam konteks realitas yang dihadapi oleh banyak atlet Indonesia, baik yang telah pensiun maupun yang masih aktif dalam kompetisi. Sejak masa lalu, kita seringkali menyaksikan fenomena di mana atlet yang pernah membawa nama baik negara di kancah internasional harus menghadapi kesulitan ekonomi setelah masa kariernya berakhir. Beberapa di antaranya bahkan terpaksa hidup dalam kondisi yang tidak layak, meskipun mereka telah memberikan kontribusi yang besar bagi kebanggaan bangsa. Fenomena ini tidak hanya menjadi sebuah tragedi personal bagi atlet tersebut, melainkan juga memiliki implikasi yang lebih luas terhadap citra dunia olahraga nasional dan minat generasi muda untuk terlibat dalam olahraga sebagai karier. Faktor utama yang menyebabkan kondisi ini adalah kurangnya pemahaman dan keterampilan dalam mengelola keuangan pribadi, yang membuat atlet sulit untuk merencanakan masa depan mereka dengan baik dan mengelola pendapatan yang mereka peroleh selama masa karier olahraga.

Dalam konteks SEA Games 2025 yang akan menjadi ajang bagi atlet muda Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka, program literasi keuangan yang diberikan oleh BRI dan Kemenpora memiliki nilai yang sangat strategis. Atlet yang akan berpartisipasi dalam ajang ini sebagian besar adalah generasi muda yang mungkin baru saja memasuki dunia olahraga profesional atau mulai menerima pendapatan yang signifikan dari hasil prestasi mereka. Pada tahap ini, pemahaman yang benar tentang bagaimana mengelola uang, melakukan investasi yang tepat, membangun aset, serta merencanakan masa depan secara finansial akan menjadi pondasi yang krusial untuk mencegah mereka terjebak dalam siklus kesulitan ekonomi di kemudian hari. Selain itu, dengan memiliki kemampuan untuk mengelola keuangan dengan baik, atlet juga dapat lebih fokus pada pengembangan prestasi mereka tanpa harus terganggu oleh kekhawatiran ekonomi, yang pada gilirannya akan berdampak positif terhadap kinerja mereka di medan pertandingan.

Secara konseptual, program literasi keuangan bagi atlet tidak hanya mencakup pembekalan pengetahuan tentang produk keuangan seperti tabungan, deposito, investasi saham atau reksa dana, maupun perlindungan asuransi. Lebih dari itu, ia juga harus mencakup pembekalan tentang konsep-konsep dasar seperti perencanaan keuangan jangka panjang, manajemen utang, pemahaman tentang risiko dan peluang dalam pengelolaan keuangan, serta pentingnya membangun sumber daya ekonomi yang beragam agar tidak terlalu bergantung pada pendapatan dari olahraga saja. Dalam hal ini, peran BRI sebagai lembaga keuangan yang memiliki jaringan dan pengalaman luas dalam memberikan layanan keuangan bagi berbagai lapisan masyarakat menjadi sangat penting, karena mereka dapat menyediakan produk dan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi khusus dari para atlet.

Selain aspek keuangan pribadi, program ini juga memiliki dimensi yang lebih luas terkait dengan pengembangan ekosistem olahraga nasional yang berkelanjutan. Ketika atlet memiliki pemahaman yang baik tentang pengelolaan keuangan, mereka tidak hanya dapat membangun kehidupan yang sejahtera bagi diri mereka sendiri, tetapi juga dapat berkontribusi pada pengembangan olahraga di daerah mereka masing-masing setelah pensiun. Misalnya, atlet yang memiliki kemampuan keuangan yang baik dapat mendirikan akademi olahraga, klub olahraga, atau menjadi pengelola acara olahraga yang profesional, yang pada gilirannya akan membantu dalam mengembangkan talenta muda dan meningkatkan kualitas olahraga di tingkat lokal dan nasional. Dengan demikian, program literasi keuangan ini bukan hanya berinvestasi pada masa depan individu atlet, tetapi juga berinvestasi pada masa depan keseluruhan dunia olahraga nasional.

Peran Kemenpora dalam inisiatif ini juga tidak dapat diabaikan, karena mereka berperan sebagai fasilitator dan koordinator yang memastikan bahwa program ini dapat menjangkau atlet yang membutuhkan dan diimplementasikan dengan baik. Selain itu, Kemenpora juga memiliki peran penting dalam mengintegrasikan konsep literasi keuangan ke dalam program pembinaan atlet yang sudah ada, sehingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan atlet secara holistik. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah telah menyadari bahwa pembangunan atlet tidak hanya melibatkan aspek fisik dan teknis, tetapi juga aspek psikologis dan ekonomi yang sama pentingnya. Dengan demikian, program ini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas hidup atlet dan menciptakan sistem pembinaan atlet yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Namun demikian, untuk memastikan bahwa program literasi keuangan ini memberikan dampak yang nyata dan berkelanjutan, perlu diperhatikan beberapa aspek krusial. Pertama, program harus dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan khusus dari para atlet, yang mungkin memiliki pola pendapatan yang tidak tetap dan jadwal yang sangat padat karena harus berlatih dan berkompetisi di berbagai tempat. Oleh karena itu, metode penyampaian materi harus fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi atlet, misalnya melalui penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang memungkinkan atlet untuk mengikuti pelatihan kapan saja dan di mana saja. Kedua, program harus menyediakan dukungan yang berkelanjutan setelah pelatihan selesai, seperti akses ke konsultan keuangan yang berpengalaman atau pembentukan komunitas atlet yang dapat saling berbagi pengalaman dan dukungan dalam mengelola keuangan mereka.

Tantangan lainnya adalah bagaimana mengubah paradigma yang selama ini berkembang di kalangan atlet dan masyarakat bahwa prestasi olahraga adalah satu-satunya tujuan yang penting, sementara pengelolaan keuangan adalah hal yang sekunder atau dapat ditangani nanti. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya sosialisasi yang masif dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya literasi keuangan bagi atlet, baik bagi atlet itu sendiri, keluarga mereka, pelatih, maupun pengurus organisasi olahraga. Selain itu, perlu juga adanya contoh nyata dari atlet yang telah berhasil mengelola keuangan mereka dengan baik dan membangun kehidupan yang sejahtera setelah masa kariernya berakhir, yang dapat menjadi inspirasi bagi atlet muda lainnya.

Sebagai seorang advokat yang juga memperhatikan perkembangan dunia olahraga nasional, saya melihat bahwa inisiatif dari BRI dan Kemenpora ini merupakan langkah yang sangat positif dan perlu didukung oleh semua pihak terkait. Kita harus menyadari bahwa atlet adalah aset berharga bagi negara yang telah memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan citra dan kebanggaan bangsa di kancah internasional. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bersama untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan perlindungan dan dukungan yang cukup untuk membangun kehidupan yang baik, baik selama maupun setelah masa karier olahraganya. Program literasi keuangan ini adalah salah satu bentuk dukungan yang paling penting, karena ia memberikan kepada atlet alat dan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk mengendalikan masa depan ekonomi mereka sendiri.

Dalam konteks yang lebih luas, program ini juga merupakan contoh yang baik dari kolaborasi antara sektor publik dan swasta dalam mengatasi masalah sosial dan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat. BRI sebagai lembaga keuangan swasta menunjukkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab sosial yang besar terhadap perkembangan bangsa, sementara Kemenpora sebagai lembaga pemerintah menunjukkan kemampuannya untuk bekerja sama dengan pihak swasta dalam menjalankan tugasnya untuk mengembangkan olahraga dan kesejahteraan pemuda. Kolaborasi semacam ini seharusnya menjadi contoh bagi sektor lain untuk bekerja sama dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi oleh negara kita.

Kesimpulannya, program literasi keuangan bagi atlet SEA Games 2025 yang diberikan oleh BRI dan Kemenpora adalah sebuah inisiatif yang visioner dan memiliki nilai strategis yang sangat besar bagi masa depan atlet dan dunia olahraga nasional. Ia bukan hanya tentang memberikan pengetahuan tentang pengelolaan uang, tetapi juga tentang memberikan kekuatan kepada atlet untuk membangun kehidupan yang mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan. Dengan mendukung dan mengembangkan program ini secara berkelanjutan, kita tidak hanya akan memiliki atlet yang sukses di medan pertandingan, tetapi juga akan memiliki generasi pemimpin dan pelopor yang mampu berkontribusi pada pembangunan bangsa dengan cara yang lebih luas dan bermakna.

Daeng Supriyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Contempt of Court: Menyelami Esensi Konsep Hukum yang Menjaga Martabat dan Integritas Sistem Peradilan Sebagai Fondasi Kedaulatan Hukum

Ming Jan 11 , 2026
Oleh Daeng Supriyanto SH MH Advokat Konsep Contempt of Court (Penyalahgaan terhadap Pengadilan) bukanlah sebuah konstruksi hukum yang muncul secara sepihak atau sebagai instrumen untuk memelihara dominasi institusi peradilan atas masyarakat. Sebaliknya, ia merupakan manifestasi dari pemahaman mendalam bahwa sistem peradilan—sebagai salah satu pilar utama negara hukum—memerlukan perlindungan khusus terhadap […]

Breaking News

Kategori Berita

BOX REDAKSI