Evaluasi Resolusi Diri Di Akhir Tahun 2021,

 325 total views,  2 views today

Opini Oleh : Daeng Supriyanto

 

Tak terasa bergulirnya waktu demi waktu telah membawa kita pada pengujung tahun 2021 dan memasuki tahun 2022. Kini pantaslah jika kiranya kita mau meluangkan waktu sejenak untuk merenung atas perjalanan hidup kita. Baik secara individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sebagai rakyat biasa, pejabat atau yang diamanahi memimpin negara.

Jika boleh ditamsilkan, perjalanan hidup kita ibarat seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan jauh dan sangat meletihkan. Perjalanan yang sangat mungkin tidak mulus, harus mendaki, menurun, berliku-liku penuh onak dan duri dengan berbagai rintangan.

Di tengah perjalanan si musafir mencoba berhenti sejenak, duduk di bawah sebuah pohon yang rindang. Kemudian, ia mencoba merenung dan bertanya pada dirinya sendiri, “Sudah berapa jauhkah perjalanan yang telah dilaluinya, dan masih berapa jauh lagi perjalanan yang harus ditempuhnya?”

Pada satu titik kulminasi perenungannya, pada gilirannya musafir tadi timbul keinginan untuk mau mempertanyakan kepada dirinya tentang: “Apakah selama ini ia telah menempuh jalan yang benar ataukah ia telah mengambil jalan yang sesat, sehingga sebenarnya ia tidak akan pernah sampai kepada titik tujuan yang menjadi cita-citanya?”

Bila saja tamsil ini dinisbatkan pada kehidupan, maka pantas bahkan tepat sekali rasanya bila pada akhir 2021 memasuki 2022 kita sudah selayaknya mau mencoba merenung, bertafakur dan bertadzakkur, mencoba untuk “Muhasabah an nafs”, introspeksi diri kita masing-masing: “Telah seberapa jauhkah perjalanan hidup yang telah kita tempuh, dan masih berapa jauh lagi perjalanan hidup yang harus kita lalui?”

Namun, yang terpenting tentunya kita harus mau secara jujur mempertanyakan pada diri kita masing-masing. Sebagaimana yang ditanyakan musafir tersebut pada dirinya: “Apakah selama sekian puluh tahun kita hidup di alam dunia ini, baik secara individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, kita telah menempuhnya dengan jalan yang benar menurut petunjuk Allah dan Rasul-Nya? Ataukah malah kita telah meniti jalan yang salah sehingga titik tujuan terakhir dari perjalanan hidup kita untuk mencapai “Mardhatillah” (Ridha Allah SWT) masih harus kita pertanyakan kembali kepada diri kita masing-masing?”

Jawaban dari beberapa pertanyaan di atas, tentu ada pada diri kita masing-masing untuk dapat dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya nanti. Andaikata, semua pertanyaan yang diajukan kepada diri kita masing-masing dalam renungan bertepatan pengujung tahun 2021 ini kita jawab dengan benar, maka Alhamdulillah.

Namun, jika beberapa pertanyaan tersebut dengan jujur kita jawab, belum benar, atau bahkan tidak benar, maka mari mengingatkan diri kita masing-masing atas adanya peringatan Allah SWT dalam firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian menyatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak melakukannya (lain yang di hati, lain yang diucapkan dan lain pula yang diperbuat). Betapa besarnya rasa benci dan murka Allah bilamana kalian mengatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak melakukannya” (QS ash Shaff:2-3).

Tahun baru sudah di pelupuk mata, tinggal menghitung hari saja. Sebagian orang telah ancang-ancang menyiapkan segala sesuatu demi menyongsong Tahun Baru. Sebagian yang lain menyikapinya dengan biasa-biasa saja, seperti tidak ada yang spesial dengan tahun baru. Ada pula yang berdebat mengenai boleh dan tidaknya merayakan tahun baru.

Apakah anda termasuk pada golongan orang pertama, kedua, ataupun ketiga, tidak menjadi masalah. Selama kita bisa hidup damai dan saling menghargai satu sama lain, selama itu pula hidup kita bisa penuh dengan kebahagiaan. Namun, sebaiknya bagaimana sikap kita dalam menyongsong tahun baru 2022

Cara terbaiknya adalah dengan introspeksi diri. Melihat kepada diri sendiri, merenungkan seluruh kegiatan kita selama setahun belakang. Selain merefleksikan perbuatan diri, kita juga bisa belajar dari para ulama dalam melakukan introspeksi diri.

Dalam kitab Tanbih al-Ghafilin, Abu al-Laits Nashr bin Muhammad al-Samarqand, menerangkan bahwa ada tujuh sikap atau amal yang sia-sia karena tidak dibarengi dengan tujuh sikap lainnya. Bagi penulis, hal ini bisa dijadikan bahan refleksi akhir tahun sekaligus cara menyongsong tahun baru agar apa yang kita rencanakan bisa lebih maksimal dalam pelaksanaannya.

 

Pertama, menyatakan diri memiliki rasa khauf tetapi tanpa dibarengi dengan sikap hadzar. Maksudnya, pernyataan diri semisal “aku takut siksa Allah Swt,” tetapi tidak menghindar dari perbuatan dosa, maka khaufnya itu hanyalah sia-sia.

Kedua, merasa punya sifat raja’ tetapi tidak disertai dengan sikap thalab. Dalam arti seseorang mengatakan “aku berharap pahala dari Allah Swt,” tetapi tidak disertai dengan usaha beramal saleh, maka raja’nya itu hanya ilusi.

Ketiga, melakukan perbuatan saleh dengan niat, tetapi tidak disertai qasd. Perumpamaan ini seperti orang yang telah niat berbuat baik dan ketaatan, tetapi dirinya tidak bergerak untuk memulai perbuatan itu sama sekali, maka niatnya tidak begitu berarti.

Keempat, Selesaikan Tujuan Kamu yang Masih Tertunda, Selama tahun 2021, kamu memiliki beberapa tujuan yang masih belum terselesaikan. Bisa saja karena kamu tidak sempat mengerjakan atau gagal mewujudkannya. Tak masalah apabila gagal, kamu dapat mengusahakan lagi untuk periode selanjutnya, namun jika tertunda, segeralah selesaikan tujuan kamu itu.

Jika bukan sekarang, lantas kapan lagi. Menunggu pergantian tahun justru kamu sudah mempunyai banyak tujuan yang harus dicapai. Pikirkan untuk tujuan kamu di tahun 2021 ini untuk bisa terwujud, perasaan kamu akan jauh lebih bahagia apabila tujuan tersebut telah selesai dikerjakan, buat list tujuan mana yang bisa kamu selesaikan dan tidak.

Kelima, Persiapkan Rencana untuk Tahun Depan, Pergantian tahun hanya tinggal menghitung hari yang berlalu dengan cepat. Setelah kamu menyelesaikan beberapa tujuan di tahun 2021, bersiaplah untuk merencanakan resolusi tahun berikutnya. Sekali lagi, tidak masalah jika belum semuanya terwujud, apapun pencapaian yang kamu lakukan itu sudah cukup.

Tuliskan apa saja rencana kamu untuk tahun 2022, siapkan pula strategi yang kamu nilai cukup efektif untuk bisa merealisasikan rencana kamu itu. Dengan begitu, kamu paham bagaimana harus menjalani satu per satu keinginan tersebut.

Keenam, Renungkan Pencapaian Kamu di Tahun 2021, Sudahkah kamu bersyukur atas berbagai pencapaian kamu di tahun 2021? Baik itu pencapaian yang kecil maupun besar, kamu patut bersyukur karena terdapat hikmah dibalik setiap hasilnya.

 

Luangkan waktumu, kamu pantas untuk mendapat self reward dari segala upaya yang sudah kamu lakukan. Supaya di kemudian hari kamu bisa semangat lagi untuk membuat pencapaian baru.

Ketujuh, Hindari Mengulang Kegagalan di Masa Lalu, Apapun masalah yang menyebabkan kamu gagal di masa lalu, jadikan sebagai pelajaran dan pengalaman. Evaluasi setiap pekerjaan atau tugas yang telah kamu selesaikan. Siapkan juga rencana dan strategi apabila kamu mendapati masalah yang tak terduga.

Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana kondisi waktu yang akan datang. Sangat penting untuk mengantisipasi kegagalan di masa lalu akibat kurang persiapan. Pertimbangkan pemecahan masalah mana yang kamu anggap lebih layak untuk diterapkan.

Kedelapan, Perbarui Motivasi Demi Membangkitkan Semangat, Motivasi berguna untuk membangun rasa percaya diri agar semangat bangkit kembali. Dengan motivasi, kamu tidak mudah menyerah dalam mewujudkan beberapa resolusi sebelum pergantian tahun.

Kesembilan, berdoa tanpa disertai usaha. Orang yang terus menerus berdoa kepada Allah Swt, tetapi tidak disertai kerja nyata untuk merealisasikan doa-doa. Maka segala hajatnya itu sulit untuk terkabul.

Kesepuluh, melafalkan istighfar untuk meminta ampun atas perbuatan dosanya, tetapi tidak terbersit sama sekali rasa penyesalan. Maka, bacaan istighfarnya hanya sampai di mulut saja.

Kesebelas, sengaja menampakkan amal saleh secara terang-terangan (al-‘alaniyyah), padahal perbuatannya bisa saja dilakukan dengan rahasia (al-sarirah). Maka perbuatannya itu, bisa jadi menjerumuskannya ke dalam sifat riya’ (ingin dilihat orang lain).

Keduabelas, berbuat amal saleh dengan sungguh-sungguh (al-kad), tetapi tanpa disertai rasa ikhlas mengharapkan rida Allah Swt.

Beberapa resolusi yang belum bisa tercapai terkadang membuat kamu tidak nyaman atau gelisah. It’s Okay, tetap tenang, kamu bisa menyelesaikan resolusi yang mudah terlebih dulu. Sedangkan yang lainnya perlu waktu dan proses yang panjang untuk bisa tercapai. Percayalah selalu jika akan ada saatnyakamu bisa mencapai resolusi tersebut. Tetap semangat!

Demikian cara menutup 2021 dengan baik, melakukan refleksi diri atau merenungkan sejenak perlu dilakukan supaya kamu dapat mengevaluasi berbagai pencapaian yang sudah dilakukan. Waktu dan perjuangan masih panjang, karena 2021 bukanlah akhir dari segala resolusi kamu yang belum tercapai, masih ada tahun berikutnya untuk bersiap, mari kita tutup tahun 2021 dengan baik.

Oleh karenanya, dalam menyikapi pergantian tahun ini, kiranya kita tidak perlu ber-euforia secara berlebihan. Apalagi saat ini banyak saudara kita sebangsa yang sedang terdampak bencana alam. Alangkah lebih baik, apa yang kita punya sebagai rejeki lebih, kita sumbangkan kepada korban bencana. Semoga dapat membantu kita menyambut hari-hari ke depan menjadi lebih baik lagi. Wallahu A’lam.

Daeng Supriyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Gelar Rakerda, Komitmen Tingkatkan Prestasi Melalui Program DBON

Sel Des 28 , 2021
 326 total views,  3 views today PALEMBANG-(detik news Tv) Gubernur Sumsel H Herman Deru memuji prestasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Sumatera Selatan yang telah mengantarkan Sumsel pada perbaikan peringkat prestasi secara masif pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua November 2021 lalu. Sumsel sukses setelah sempat terperosok di peringkat ke […]

Kategori Berita

BOX REDAKSI