Terakhir di Kediaman yang Dibom Zionis: Mengenang Keteguhan Ayatollah Khomeini Melawan Israel dan AS di Tengah Lunturnya Semangat Islam

Loading

Oleh: Daeng Supriyanto, SH, MH
Pengamat Geopolitik Global

Dalam lembaran sejarah geopolitik dunia yang penuh dengan liku-liku dan seringkali diwarnai oleh pengkhianatan serta kompromi, terdapat peristiwa dan sosok yang meninggalkan jejak yang begitu dalam dan tak terhapuskan. Salah satu momen yang paling menyayat hati dan sekaligus menjadi simbol perjuangan yang tak kenal menyerah adalah saat pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, menghembuskan napas terakhirnya di kediamannya sendiri yang menjadi sasaran pemboman oleh kekuatan zionis. Peristiwa ini bukan sekadar sebuah insiden militer atau berita kematian seorang pemimpin, melainkan sebuah titik kulminasi dari perjuangan panjang yang penuh dengan pengorbanan, sebuah bukti nyata bahwa keyakinan dan prinsip kadang harus dibayar dengan harga yang paling mahal, yaitu nyawa. Mengenang sosok Ayatollah Khomeini dalam konteks akhir hayat beliau yang tragis ini membawa kita pada refleksi mendalam tentang keteguhan hati yang luar biasa dalam memerangi zionisme Israel dan hegemoni Amerika Serikat, sebuah perjuangan yang beliau jalankan dengan konsisten, bahkan ketika arus zaman di kawasan Timur Tengah sedang bergerak ke arah yang berlawanan.

Ayatollah Khomeini dikenal secara universal sebagai sosok yang sangat konsisten dan tak kenal lelah dalam memerangi zionisme Israel. Bagi beliau, keberadaan entitas zionis di tanah Palestina bukanlah sekadar masalah politik atau batas wilayah, melainkan sebuah pelanggaran mendasar terhadap keadilan, hak asasi manusia, dan nilai-nilai luhur agama. Perjuangan melawan zionisme bukanlah retorika semata, melainkan menjadi landasan ideologis yang membentuk arah kebijakan negara Iran di bawah kepemimpinan beliau. Ayatollah Khomeini tidak pernah ragu untuk menyuarakan kebenaran, menegaskan bahwa Israel adalah entitas yang ilegal dan merupakan ancaman bagi perdamaian dunia. Sikap tegas ini menjadikan beliau sebagai target utama bagi kekuatan zionis, yang melihat sosok beliau sebagai penghalang utama bagi ekspansi dan dominasi mereka di kawasan. Pemboman terhadap kediaman beliau, yang akhirnya mengakibatkan gugurnya sang pemimpin, adalah bukti nyata betapa kekuatan zionis merasa terancam oleh keteguhan dan pengaruh Ayatollah Khomeini, serta upaya putus asa untuk memadamkan api perlawanan yang beliau nyalakan.

Selain perjuangan melawan zionisme, Ayatollah Khomeini juga merupakan tokoh yang paling vokal dan konsisten dalam menentang hegemoni dan campur tangan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dan dunia Islam. Beliau memandang Amerika Serikat sebagai kekuatan imperialis yang berusaha menguasai sumber daya alam dan menentukan nasib bangsa-bangsa di dunia Islam demi kepentingan sendiri. Di bawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini, Iran melakukan revolusi yang mengubah tatanan politik negara, menggulingkan rezim pro-Barat yang dianggapnya sebagai boneka Amerika, dan mendirikan Republik Islam yang berlandaskan pada prinsip-prinsip kemandirian dan kedaulatan. Salah satu tindakan simbolis dan mendasar dari revolusi ini adalah pengusiran pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat dari tanah Iran, sebuah langkah berani yang menunjukkan tekad bulat negara ini untuk tidak mau dijajah atau didikte oleh kekuatan asing mana pun.

Kontras yang sangat mencolok dan menjadi sorotan tajam dalam analisis geopolitik adalah perbedaan sikap antara Iran di bawah Ayatollah Khomeini dengan banyak negara Islam lainnya di kawasan Timur Tengah pada masa yang sama. Sementara Ayatollah Khomeini dengan tegas menegakkan panji-panji Islam dan memimpin perjuangan melawan musuh-musuh umat Islam, bahkan hingga tetes darah terakhir di kediamannya yang dibom, banyak negara Islam lain di kawasan tersebut justru sedang menjalin hubungan yang sangat mesra dan akrab dengan zionisme Israel. Hubungan ini tidak hanya terbatas pada aspek diplomatik, tetapi juga meluas ke bidang-bidang ekonomi, militer, dan keamanan. Selain itu, banyak dari negara-negara ini juga memberikan tempat dan fasilitas yang luas bagi pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka. Keberadaan pangkalan militer AS ini tidak hanya menjadi simbol ketergantungan dan kurangnya kedaulatan, tetapi juga seringkali menjadi sumber ketidakstabilan dan konflik di kawasan, karena keberadaannya seringkali dilihat sebagai bentuk penjajahan modern dan campur tangan dalam urusan internal negara-negara tuan rumah.

Dalam situasi yang demikian, di mana semangat perjuangan dan kebanggaan identitas Islam seolah-olah mulai luntur di banyak tempat, Ayatollah Khomeini berdiri tegak sebagai mercusuar yang memberikan arah dan inspirasi, bahkan hingga akhir hayat beliau yang tragis. Beliau membuktikan bahwa adalah mungkin bagi sebuah negara untuk berdiri di atas kakinya sendiri, menegakkan nilai-nilai agama dan keadilan, dan menolak untuk tunduk pada kekuatan-kekuatan besar yang berusaha mendominasi dunia. Perjuangan beliau dalam menegakkan panji-panji Islam bukan hanya berupa retorika, melainkan diwujudkan dalam kebijakan-kebijakan nyata yang memprioritaskan kemandirian, solidaritas dengan sesama umat Islam yang tertindas, dan penolakan terhadap segala bentuk penindasan dan ketidakadilan, baik yang datang dari zionisme Israel maupun hegemoni Amerika Serikat.

Mengenang Ayatollah Khomeini hari ini, terutama dengan mengingat cara beliau gugur di kediamannya yang dibom oleh zionis, bukan hanya sekadar menghormati sosok pemimpin besar di masa lalu, tetapi juga sebuah panggilan untuk merefleksikan kembali prinsip-prinsip yang beliau perjuangkan dengan darah dan nyawa. Di tengah dunia yang semakin kompleks dan penuh dengan tantangan, di mana kepentingan seringkali menempati posisi teratas dan nilai-nilai seringkali dikompromikan, keteguhan dan konsistensi Ayatollah Khomeini menjadi sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya memegang teguh prinsip dan berani membela kebenaran, meskipun harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang tampaknya tidak terkalahkan. Warisan perjuangan beliau melawan zionisme dan Amerika Serikat, serta keteguhan beliau dalam menegakkan panji-panji Islam di saat banyak negara lain sedang melangkah ke arah yang berlawanan, akan terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi mendatang yang percaya pada keadilan, kemerdekaan, dan martabat umat manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Gawang Perdamaian di Tengah Medan Perang: Refleksi atas Partisipasi AS dan Iran di Piala Dunia Saat Konflik Berkecamuk

Jum Mar 13 , 2026
Oleh: Daeng Supriyanto, SH, MH Ketua Umum Asosiasi Pelaku Olahraga Nasional Di tahun ini, dunia kembali disatukan oleh semangat dan euforia yang luar biasa dari ajang olahraga paling bergengsi di muka bumi, yaitu Piala Dunia sepak bola. Miliaran mata dari berbagai penjuru dunia tertuju pada pertandingan-pertandingan yang mempertemukan negara-negara terbaik […]

Kategori Berita

BOX REDAKSI