![]()

OPINI: Daeng Supriyanto SH MH Pelaku dan pemerhati olahraga prestasi
Dalam kerangka tata kelola olahraga nasional yang berkelanjutan dan berorientasi pada pengembangan potensi manusia, muncul imperatif mendasar yang menuntut pengurus cabang olahraga (cabor) dan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) untuk merancang dan melaksanakan pola perlakuan yang tidak hanya relevan dengan dinamika perkembangan olahraga kontemporer, tetapi juga disajikan dengan keanggunan yang mencerminkan martabat atlet sebagai agen penting bagi kemajuan bangsa, serta dijalankan dengan urgensi yang sesuai dengan kebutuhan mendesak dari kedua kelompok atlet yang berbeda namun sama-sama krusial: mereka yang telah menorehkan prestasi gemilang dan mereka yang masih dalam perjuangan untuk meraih pencapaian yang setinggi mungkin. Tanpa kerangka perlakuan yang terstruktur dengan baik, kita berisiko menghancurkan motivasi para pejuang masa depan sekaligus mengabaikan kontribusi yang telah diberikan oleh para pelopor prestasi, sehingga mengganggu ekosistem olahraga yang seharusnya bersifat sinergis dan berkelanjutan.
Pertama-tama, kita harus mengakui bahwa perlakuan terhadap atlet yang telah menorehkan prestasi memerlukan kedalaman pemahaman tentang makna intrinsik dari kontribusi mereka bagi bangsa. Para atlet yang telah membawa pulang medali dari ajang internasional atau mencatatkan prestasi bersejarah bukan hanya sekadar individu yang berhasil mencapai target pribadi, melainkan juga figur yang telah menjadi simbol kemampuan bangsa untuk bersaing dan unggul di kancah global. Dalam konteks ini, perlakuan yang relevan harus mencakup dua dimensi yang saling melengkapi: penghargaan yang sesuai dengan prestasi yang diraih, serta pengelolaan kelanjutan dari kontribusi mereka bagi pengembangan olahraga nasional. Dari sisi penghargaan, hal ini tidak hanya terbatas pada pemberian hadiah materiil semata, melainkan juga harus mencakup pengakuan yang mendalam dalam tataran institusional – seperti penetapan gelar kehormatan, penyertaan dalam struktur pengambilan keputusan olahraga, serta pemberian akses terhadap fasilitas pendidikan dan pengembangan karir yang dapat memastikan kesejahteraan mereka setelah masa karir atlet berakhir.
Keanggunan dalam perlakuan terhadap para atlet berprestasi terwujud dalam cara kita menghormati perjalanan yang mereka lalui, bukan hanya hasil akhir yang mereka capai. Ini berarti kita harus menghindari sikap yang hanya mengangkat mereka sebagai bintang saat mereka sedang unggul namun mengabaikannya ketika usia atau kondisi fisik tidak lagi memungkinkan mereka untuk bersaing di tingkat tertinggi. Sebaliknya, kita harus menyusun mekanisme yang elegan untuk mengintegrasikan mereka ke dalam ekosistem olahraga sebagai pelatih, konsultan teknis, atau duta olahraga yang dapat berbagi pengalaman dan wawasan mereka dengan generasi muda. Selain itu, perlakuan yang elegan juga mencerminkan dalam cara kita mengelola citra mereka sebagai tokoh publik – dengan memberikan dukungan yang tepat untuk membangun profil mereka sebagai figur yang tidak hanya hebat dalam olahraga, tetapi juga memiliki integritas dan kontribusi positif bagi masyarakat luas. Urgensi dalam hal ini sangat krusial karena setiap hari yang berlalu tanpa adanya kebijakan yang jelas berpotensi membuat para atlet berprestasi merasa tidak dihargai, sehingga mengurangi kemungkinan mereka untuk terus berkontribusi pada pengembangan olahraga nasional, sekaligus memberikan contoh yang kurang baik bagi atlet muda yang sedang berjuang.
Di sisi lain, perlakuan terhadap atlet yang masih berjuang meraih prestasi membutuhkan pendekatan yang sama sekali berbeda namun tidak kalah pentingnya. Para atlet muda atau yang masih dalam tahap pembinaan adalah investasi masa depan bangsa dalam olahraga, dan perlakuan yang relevan terhadap mereka harus berfokus pada pemberian dukungan komprehensif yang dapat membantu mereka mengembangkan potensi maksimal mereka. Ini mencakup tidak hanya fasilitas latihan yang memadai dan akses terhadap pelatih berkualitas, tetapi juga dukungan dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan psikologis. Dalam konteks olahraga modern yang semakin kompetitif, tidak cukup hanya untuk memberikan pelatihan fisik semata – kita harus juga membangun atlet yang memiliki kecerdasan emosional, pemahaman yang baik tentang strategi kompetisi, serta pengetahuan yang memadai untuk mengelola diri mereka sendiri sebagai profesional olahraga.
Keanggunan dalam perlakuan terhadap para atlet yang sedang berjuang terwujud dalam cara kita melihat mereka bukan sebagai “produk” yang harus segera menghasilkan hasil, melainkan sebagai individu yang sedang dalam proses pertumbuhan dan pengembangan. Ini berarti kita harus memiliki kesabaran untuk memberikan waktu yang cukup bagi mereka untuk berkembang, sekaligus memberikan umpan balik yang konstruktif dan dukungan yang konsisten saat mereka menghadapi tantangan dan kegagalan. Perlakuan yang elegan juga mencerminkan dalam cara kita menghormati pilihan mereka untuk mengejar prestasi olahraga, bahkan ketika jalan yang ditempuh tidak selalu mulus atau menghasilkan hasil yang diharapkan. Kita harus menghindari sikap yang hanya menghargai kemenangan dan mengabaikan nilai dari proses belajar dan pertumbuhan yang terjadi selama perjuangan tersebut.
Urgensi dalam menangani kebutuhan atlet yang masih berjuang adalah hal yang tidak dapat ditunda lagi. Di era di mana negara lain secara agresif menginvestasikan sumber daya dalam pembinaan talenta muda, kita tidak dapat lagi bersikap pasif atau tergesa-gesa dalam mengelola potensi atlet kita. Setiap tahun yang berlalu tanpa adanya program pembinaan yang terstruktur dan dukungan yang memadai berpotensi membuat kita kehilangan bakat-bakat luar biasa yang bisa saja membawa nama baik bangsa di masa depan. Selain itu, urgensi ini juga terkait dengan tanggung jawab kita sebagai negara untuk memberikan kesempatan yang sama bagi semua individu yang memiliki bakat dan kemauan untuk berprestasi dalam olahraga, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau geografis mereka.
Untuk memastikan bahwa perlakuan terhadap kedua kelompok atlet ini dapat dijalankan dengan baik, pengurus cabor dan KONI perlu mengembangkan kerangka kebijakan yang komprehensif dan terintegrasi. Hal ini harus mencakup beberapa elemen kunci: pertama, penetapan standar nasional yang jelas mengenai penghargaan dan dukungan bagi atlet berprestasi, yang dijalankan secara konsisten di seluruh cabor dan wilayah; kedua, pembangunan sistem pembinaan talenta yang berkelanjutan, mulai dari tingkat dasar hingga elit, dengan fokus pada pengembangan holistik atlet; ketiga, penyusunan mekanisme pemantauan dan evaluasi yang objektif untuk memastikan bahwa kebijakan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan aktual atlet dan kondisi perkembangan olahraga nasional; dan keempat, pembangunan kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil, untuk mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung program-program tersebut.
Selain itu, perlakuan yang relevan, elegan, dan berurgensi juga memerlukan perubahan paradigma dalam cara pengurus olahraga melihat peran mereka – bukan sebagai penguasa yang mengendalikan proses olahraga, melainkan sebagai fasilitator yang bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi atlet untuk berkembang dan berprestasi. Ini berarti mereka harus memiliki kemampuan untuk mendengarkan suara atlet, memahami kebutuhan dan harapan mereka, serta mengambil tindakan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Mereka juga harus mampu mengkomunikasikan visi dan misi pengembangan olahraga nasional dengan jelas kepada semua pemangku kepentingan, sehingga mendapatkan dukungan yang luas untuk pelaksanaan kebijakan tersebut.
Dalam konteks yang lebih luas, perlakuan yang tepat terhadap atlet – baik yang sudah berprestasi maupun yang sedang berjuang – memiliki implikasi yang jauh melampaui batas olahraga itu sendiri. Para atlet adalah contoh nyata dari nilai-nilai seperti kerja keras, ketekunan, disiplin, dan semangat juang yang sehat, yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan bangsa. Dengan memberikan perlakuan yang sesuai kepada mereka, kita tidak hanya mendukung perkembangan olahraga nasional, tetapi juga membangun masyarakat yang menghargai prestasi, menghormati pengorbanan, dan memiliki semangat untuk terus berkembang dan bersaing di tingkat global.
Dalam kesimpulan, perlakuan yang relevan, elegan, dan memiliki urgensi yang tepat terhadap atlet yang telah menorehkan prestasi dan atlet yang masih berjuang meraih prestasi adalah kewajiban yang tidak dapat diabaikan oleh pengurus cabor dan KONI. Hal ini memerlukan pemahaman yang mendalam tentang makna kontribusi masing-masing kelompok atlet, serta komitmen yang kuat untuk merancang dan melaksanakan kebijakan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang menghormati martabat mereka sebagai individu dan sebagai agen penting bagi kemajuan bangsa. Tanpa langkah-langkah yang tegas dan terencana dengan baik dalam hal ini, kita berisiko gagal dalam membangun ekosistem olahraga nasional yang berkelanjutan dan mampu bersaing di tingkat internasional, serta kehilangan kesempatan untuk menginspirasi generasi muda melalui contoh nyata dari prestasi dan perjuangan yang penuh dengan nilai-nilai positif.




