![]()

Opini : Daeng Supriyanto SH MH
Kabid Humas KONI Sumsel
Dalam kerangka dinamika pengembangan olahraga nasional yang kompleks dan multilevel, muncul pertanyaan mendasar terkait kesetaraan apresiasi yang seharusnya diberikan oleh kepemimpinan negara terhadap berbagai aktor yang berperan dalam meraih prestasi di ajang internasional seperti Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games). Saat presiden dengan teratur mengungkapkan apresiasi kepada Komite Olimpiade Indonesia (KOI) sebagai lembaga yang bertugas mengantarkan atlet ke kejuaraan internasional, terasa terdapat celah epistemologis dan praktis dalam pengakuan terhadap peran yang lebih mendasar dari Komite Olahraga Nasional (KONI) dan Pengurus Besar Cabang Olahraga (PB Cabor) yang ada di panggung nasional. Tidaklah berlebihan jika kita menyatakan bahwa tanpa landasan yang kokoh yang dibangun oleh KONI dan PB Cabor, peran KOI sebagai “pengantar” akan menjadi hal yang fiktif dan tidak memiliki substansi yang melekat.
Pertama-tama, kita perlu memahami dengan mendalam struktur hierarkis dan fungsi yang saling berkaitan antara ketiga lembaga tersebut. KOI, berdasarkan mandatnya yang ditetapkan dalam peraturan internasional dan nasional, memang memiliki peran krusial sebagai perantara antara olahraga nasional dan ajang internasional yang diakui oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC). Namun, peran tersebut hanyalah bagian dari rantai nilai yang lebih luas, di mana titik awal dan titik terpenting terletak pada upaya pengembangan yang berkelanjutan di tingkat nasional. Di sinilah KONI berperan sebagai lembaga koordinator dan pengatur kebijakan olahraga nasional secara keseluruhan, menyusun rencana jangka panjang, mengalokasikan sumber daya, dan menciptakan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang atlet dan cabor-cabor. Tanpa keberadaan KONI yang efektif dalam menyeimbangkan kepentingan berbagai cabor, menentukan standar seleksi, dan memastikan penerapan prinsip-prinsip olahraga yang adil dan profesional, tidak akan ada atlet yang layak untuk dikirimkan oleh KOI ke ajang internasional apapun.
Lebih jauh lagi, peran PB Cabor sebagai aktor yang paling dekat dengan atlet dan proses pelatihan menjadi fondasi ontologis dari semua prestasi yang dicapai. Setiap PB Cabor memiliki tanggung jawab untuk mengidentifikasi bakat muda, menyediakan pelatih yang memenuhi syarat, menyusun program pelatihan yang terstruktur dan ilmiah, serta memastikan kesejahteraan atlet baik secara fisik maupun psikologis. Ini adalah tingkat di mana transformasi dari individu biasa menjadi atlet yang berprestasi terjadi – melalui proses yang membutuhkan dedikasi, keahlian, dan perhatian terhadap detail yang tak terhitung banyaknya. Ketika atlet berdiri di atas panggung SEA Games dan meraih medali, apa yang terlihat oleh publik adalah hasil akhir dari rangkaian upaya yang dilakukan oleh PB Cabor selama bertahun-tahun, bukan hanya tindakan KOI yang mengirim mereka ke sana. Oleh karena itu, mengapresiasi hanya KOI tanpa menyertakan PB Cabor adalah bentuk reduksionisme yang tidak adil dan tidak sesuai dengan realitas empiris dari proses pembentukan atlet.
Kita juga perlu mempertimbangkan aspek kebijakan dan sumber daya yang menjadi landasan dari semua aktivitas ini. KONI dan PB Cabor seringkali menghadapi tantangan yang signifikan dalam mendapatkan dukungan keuangan, fasilitas pelatihan, dan akses ke teknologi terbaru. Meskipun KOI juga memiliki peran dalam mencari pendanaan untuk kejuaraan internasional, sebagian besar upaya pengumpulan sumber daya untuk pengembangan jangka panjang dilakukan oleh KONI dan PB Cabor. Ketika presiden hanya mengapresiasi KOI, hal ini berpotensi menciptakan persepsi bahwa hanya lembaga yang berhubungan langsung dengan ajang internasional yang layak mendapatkan perhatian dan dukungan. Hal ini dapat berdampak negatif pada motivasi KONI dan PB Cabor, serta pada kemampuan mereka untuk menarik bakat baru dan memelihara program pelatihan yang berkualitas. Sebaliknya, memberikan apresiasi yang setara kepada ketiga lembaga akan menciptakan sinyal yang jelas bahwa setiap tingkatan dalam rantai pengembangan olahraga nasional memiliki nilai yang sama dan berperan penting dalam meraih prestasi.
Selain itu, ada aspek simbolis yang tidak boleh diabaikan dalam apresiasi yang diberikan oleh presiden. Sebagai kepala negara, presiden memiliki kekuatan simbolis yang besar dalam membentuk pandangan publik terhadap olahraga nasional. Dengan mengapresiasi hanya KOI, presiden berpotensi menciptakan kesalahpahaman di kalangan masyarakat bahwa prestasi di ajang internasional hanya bergantung pada kemampuan untuk mengirim atlet ke sana, bukan pada upaya pengembangan yang mendasar. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya perhatian terhadap pengembangan olahraga di tingkat dasar, yang pada gilirannya akan berdampak negatif pada kualitas atlet yang dihasilkan di masa depan. Sebaliknya, dengan memberikan apresiasi yang luas kepada KONI, PB Cabor, dan KOI, presiden dapat menanamkan kesadaran bahwa olahraga nasional adalah sistem yang terintegrasi, di mana setiap bagian memiliki peran yang penting dan saling bergantung.
Kita juga tidak boleh melupakan kontribusi KONI dan PB Cabor dalam mempromosikan nilai-nilai olahraga seperti sportivitas, kerja sama, disiplin, dan kejuaraan yang adil. Ini adalah nilai-nilai yang tidak hanya penting untuk keberhasilan atlet di panggung, tetapi juga untuk membentuk karakter generasi muda dan menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan produktif. KONI dan PB Cabor berperan aktif dalam mempromosikan olahraga di tingkat sekolah, kampus, dan masyarakat, menciptakan kesempatan bagi semua orang untuk berpartisipasi dalam olahraga, bukan hanya mereka yang memiliki bakat untuk berprestasi di tingkat internasional. Hal ini adalah aspek yang seringkali terlupakan ketika kita hanya berfokus pada prestasi di ajang internasional, tetapi yang sebenarnya menjadi inti dari pengembangan olahraga nasional yang sehat dan berkelanjutan.
Dalam konteks SEA Games yang baru saja berlalu, di mana Indonesia telah meraih prestasi yang gemilang, menjadi lebih penting bagi presiden untuk memberikan apresiasi yang setara kepada semua aktor yang terlibat. Setiap medali yang diraih adalah hasil dari kerja sama antara KONI yang mengkoordinasikan, PB Cabor yang melatih, dan KOI yang mengantarkan. Mengabaikan salah satu dari mereka adalah bentuk tidak menghargai upaya yang telah dilakukan oleh banyak orang yang bekerja keras di balik layar. Oleh karena itu, seharusnya presiden tidak hanya mengucapkan terima kasih kepada KOI, tetapi juga kepada KONI dan semua PB Cabor yang telah memberikan kontribusinya dalam meraih prestasi tersebut.
Kesimpulannya, apresiasi yang diberikan oleh presiden terhadap prestasi olahraga nasional di SEA Games haruslah komprehensif dan memasukkan semua lembaga yang berperan penting dalam proses tersebut. KOI memang memiliki peran yang krusial sebagai pengantar atlet ke ajang internasional, tetapi peran tersebut tidak dapat dipisahkan dari upaya yang dilakukan oleh KONI dan PB Cabor di tingkat nasional. Dengan memberikan apresiasi yang setara kepada ketiga lembaga ini, presiden tidak hanya melakukan hal yang adil dan sesuai dengan realitas, tetapi juga menciptakan dasar yang kuat untuk pengembangan olahraga nasional yang lebih baik di masa depan. Hanya dengan cara ini kita dapat memastikan bahwa Indonesia akan terus meraih prestasi di ajang internasional, sambil juga mempromosikan olahraga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang sehat dan produktif.




