Harmoni Silaturahmi dan Visi Strategis: Momen Halal Bihalal Pengurus KONI Sumsel Sebagai Katalis Perkembangan Olahraga Sumatera Selatan

Loading


Palembang – Di tengah suasana kemenangan spiritual yang masih melingkupi tanah Sumatera Selatan pasca Idul Fitri 1447 Hijriah, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Sumsel menggelar acara halal bihalal pengurus pada hari kamis , 3 April 2026, bertempat di Aula Utama Kantor KONI Sumsel, Palembang. Acara yang dihadiri oleh seluruh jajaran pengurus mulai dari tingkat pusat cabang olahraga hingga struktur pengurus provinsi ini bukan sekadar tradisi tahunan yang mengedepankan ritual saling memaafkan semata, melainkan sebuah manifestasi filosofis dari konsep “ukhuwah islamiyah” yang diintegrasikan dengan visi kolaboratif dalam membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan dan berprestasi.

  1. Dalam kerangka epistemologi keolahragaan, halal bihalal ini dapat diartikan sebagai sebuah “ruang dialogis” di mana berbagai perspektif, pengalaman, dan aspirasi antar pengurus menemukan titik temu yang konstruktif. Sebagaimana konsep “habitus” yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu, interaksi yang terjadi dalam acara ini tidak hanya membentuk pola pikir kolektif tetapi juga menciptakan struktur sosial yang kuat sebagai dasar untuk menggerakkan roda pembangunan olahraga di Sumsel. Setiap ucapan maaf yang diucapkan dan diterima menjadi simbolik dari penghapusan hambatan-hambatan komunikasi dan kolaborasi, sekaligus menjadi modal intelektual untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks di kancah olahraga nasional maupun internasional.

  2. H. M. Aliandra Pati Gantada, S.H., M.H., yang akrab disapa Anta, dalam sambutannya mengemukakan pandangan mendalam terkait esensi dari acara halal bihalal ini. “Secara ontologis, momen halal bihalal ini bukanlah sekadar peristiwa sosial yang bersifat sementara, melainkan sebuah konstruksi normatif yang mengakar pada nilai-nilai luhur bangsa dan agama,” ujarnya. Sebagai sosok yang telah berpengalaman luas di dunia politik dan organisasi kemasyarakatan—sebelumnya menjabat sebagai Ketua DPRD Sumsel dan Ketua Umum Pengprov PTMSI Sumsel—Aliandra menekankan bahwa sinergi antar pengurus adalah kunci utama dalam mewujudkan prestasi olahraga yang berkelanjutan.

    “Kita hidup dalam era di mana keberhasilan olahraga tidak lagi ditentukan oleh faktor individu semata, melainkan oleh kemampuan kita untuk menyatukan berbagai potensi, sumber daya, dan keahlian dalam sebuah sistem yang terintegrasi,” lanjutnya. Menurutnya, momentum halal bihalal ini harus dijadikan sebagai titik awal untuk melakukan “rekonstruksi strategis” dalam pengelolaan organisasi, mulai dari pembinaan atlet muda hingga pengoptimalan kerja sama dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat. “Kita harus mampu mengubah dinamika politik dalam organisasi menjadi energi positif yang menggerakkan perubahan, sebagaimana yang telah kita buktikan selama masa jabatan di DPRD Sumsel, di mana berbagai kepentingan dapat diakomodir dengan mulus dan aman,” tambahnya dengan tegas.

    Tubagus Sulaiman, Sekretaris Umum KONI Sumsel, yang baru-baru ini memberikan tanggapan terkait polemik dana hibah KONI Muba tahun 2026, menyampaikan pandangan yang sangat struktural terkait pentingnya sinergi dalam acara halal bihalal ini. “Dari perspektif manajemen organisasi, halal bihalal ini merupakan sebuah proses ‘consolidasi institusional’ yang bertujuan untuk memperkuat koordinasi dan sinkronisasi antara berbagai elemen dalam KONI Sumsel,” paparnya.

    Menurut Tubagus, tantangan utama yang dihadapi oleh KONI Sumsel saat ini adalah bagaimana mengelola dinamika antara aturan teknis dan tanggung jawab untuk mencetak prestasi. “Sebagaimana yang telah kita pahami bersama, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan telah menetapkan bahwa pendanaan olahraga adalah tanggung jawab kolektif,” jelasnya. “Namun, dalam tataran implementasi, kita dihadapkan pada kompleksitas teknis yang membutuhkan pemahaman bersama dan kerja sama yang erat antara semua pihak.”

    Ia juga menekankan bahwa acara halal bihalal ini menjadi kesempatan yang berharga untuk mengevaluasi dan menyelaraskan program kerja antar struktur organisasi. “Kita harus memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil selaras dengan visi besar pembangunan olahraga Sumsel, mulai dari identifikasi bibit unggul hingga persiapan menghadapi berbagai ajang kompetisi tingkat nasional,” ujarnya. Sebagai seorang yang pernah menangani kasus miskomunikasi dalam penjemputan atlet dayung Sumsel yang meraih emas di PON Aceh-Sumut tahun 2024, Tubagus menekankan bahwa komunikasi yang efektif adalah dasar dari setiap keberhasilan organisasi.

    Daeng Supriyanto SH, MH, sebagai Kepala Bidang Humas KONI Sumsel yang juga dikenal dengan tulisan-tulisannya yang penuh dengan pemikiran filosofis tentang olahraga, menyampaikan perspektif yang sangat mendalam terkait makna dari acara halal bihalal ini dalam konteks budaya dan peradaban olahraga. “Dalam semesta olahraga yang mempertemukan antara kekuatan fisik, ketangkasan mental, dan sinkronisasi kelompok, halal bihalal ini merupakan sebuah bentuk ‘ritual kolektif’ yang memiliki makna simbolis yang sangat dalam,” ujarnya.

    Menurut Daeng, olahraga pada hakikatnya bukanlah sekadar aktivitas fisik semata, melainkan sebuah sistem filsafat yang mengkristalisasikan nilai-nilai luhur bangsa. “Begitu pula dengan acara halal bihalal ini—ia bukan hanya tentang saling memaafkan, tetapi juga tentang membangun hubungan sosial yang berdasarkan pada rasa hormat, empati, dan pemahaman bersama,” jelasnya. Sebagai seorang yang sering menulis tentang filosofi berbagai cabang olahraga seperti pencak silat, hapkido, dan hoki, Daeng melihat bahwa semangat yang terkandung dalam halal bihalal ini sejalan dengan esensi dari olahraga itu sendiri—yaitu untuk menyatukan manusia dalam sebuah tujuan yang lebih besar.

    “Kita harus mampu mengkomunikasikan makna yang dalam dari acara ini kepada masyarakat luas, sehingga olahraga tidak hanya dianggap sebagai sarana untuk meraih prestasi semata, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun karakter bangsa dan memperkuat ikatan sosial,” tambahnya. Ia juga menekankan bahwa peran humas dalam konteks ini adalah untuk menjadi jembatan antara KONI Sumsel dengan masyarakat, sehingga setiap langkah dan program yang dilakukan dapat mendapatkan dukungan dan apresiasi yang maksimal.

    Acara halal bihalal pengurus KONI Sumsel tahun ini diakhiri dengan doa bersama dan sesi foto kelompok, dengan harapan bahwa semangat silaturahmi dan kolaborasi yang terjalin dapat menjadi landasan yang kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan dan meraih prestasi yang gemilang bagi olahraga Sumatera Selatan di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori Berita

BOX REDAKSI