![]()

Oleh: Daeng Supriyanto
Alumni Pondok Pesantren Sufi Baron, Nganjuk, Jawa Timur
Pendahuluan: Jebakan Perbandingan yang Menghilangkan Esensi
Sejak masa menuntut ilmu di teras pesantren, saya diajarkan bahwa kehidupan bukanlah sebuah lintasan lurus yang seragam, melainkan sebuah perjalanan ruhani yang memiliki dimensi, irama, dan tujuan yang unik bagi setiap jiwa. Namun dalam realitas zaman modern ini, manusia sering terperangkap dalam ilusi yang merusak: memandang pencapaian orang lain sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan dirinya sendiri. Kita sering lupa bahwa apa yang tampak sebagai “puncak keberhasilan” di mata orang lain sesungguhnya hanyalah sepotong kecil dari keseluruhan perjalanan yang panjang, penuh liku, dan tersembunyi dari pandangan.
Ungkapan yang menyatakan: “Sudahi melihat pencapaian orang lain. Setiap kita punya garis start dan finish yang berbeda; fokuslah mematangkan proses dan menghargai setiap langkah kecil pertumbuhan anda hari ini,” bukan sekadar nasihat sederhana, melainkan sebuah prinsip filosofis yang dalam, berakar pada pemahaman tentang keadilan Ilahi, hakikat waktu, dan makna pertumbuhan manusia. Dalam pandangan tasawuf dan filsafat Islam, perjalanan hidup ibarat sebuah perjalanan menuju Allah; setiap pejalan memiliki bekal, medan jalan, dan waktu kedatangan yang tidak dapat disamakan satu sama lain.
I. Keadilan Ilahi: Berbeda Bukan Berarti Tidak Adil
Salah satu kesalahan mendasar dalam berpikir adalah menganggap bahwa perbedaan posisi, waktu, dan pencapaian sebagai bentuk ketidakadilan. Padahal, Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa penciptaan perbedaan merupakan bagian dari hikmah dan keadilan Allah. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32).
Dalam pandangan filsafat sufistik, perbedaan garis awal (start) disebabkan oleh banyak faktor: bekal fitrah, lingkungan tumbuh, ujian yang harus dilalui, serta takdir yang telah ditetapkan Sang Pencipta sebagai sarana pemurnian jiwa. Seseorang yang dilahirkan dalam kondisi yang tampak lebih mudah, tidak berarti ia memiliki keunggulan mutlak; begitu pula sebaliknya, seseorang yang memulai dari titik yang berat tidak berarti ia tertinggal selamanya. Sebagaimana diajarkan di Pesantren Baron, setiap jiwa ditempa dengan cara yang berbeda agar mampu mencapai derajat kesucian yang sesuai dengan potensi yang dikandungnya.
Demikian pula dengan garis akhir (finish). Jika kita memandang hidup hanya sampai dunia, maka ukurannya memang dangkal: harta, jabatan, atau nama. Namun jika kita memahami bahwa tujuan akhir hakiki adalah meraih keridaan Allah dan kesempurnaan akhlak, maka garis akhirnya pun menjadi sangat pribadi. Kemenangan sejati bukanlah siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang sampai dengan membawa bekal ketakwaan dan keikhlasan. Membandingkan perjalanan kita dengan orang lain sama seperti membandingkan perjalanan benih padi dengan pohon kelapa; keduanya tumbuh, namun memiliki waktu dan hasil yang berbeda sesuai dengan kodratnya masing-masing.
II. Proses Sebagai Sekolah Pemurnian Jiwa
Di tengah budaya instan yang mengagungkan hasil akhir, seringkali kita melupakan bahwa proses adalah inti dari pendidikan ruhani. Dalam tradisi tasawuf, istilah suluk atau perjalanan tidak berfokus pada seberapa cepat seseorang sampai, melainkan pada seberapa matang dan bersih jiwanya selama perjalanan itu. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim). Hal ini menunjukkan bahwa nilai sebuah perbuatan tidak hanya terletak pada hasilnya, melainkan pada bagaimana proses itu dilalui.
Melihat pencapaian orang lain secara berlebihan membuat kita kehilangan kesabaran. Kita ingin menuai padahal belum selesai menanam, ingin berdiri tegak padahal belum kuat berjalan. Padahal, setiap langkah kecil—meskipun terlihat tidak berarti di mata dunia—memiliki nilai yang luar biasa di sisi Allah. “Janganlah engkau meremehkan kebaikan meskipun kecil, kendati hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim). Langkah kecil itu adalah fondasi; jika fondasi dipaksakan terburu-buru, bangunan yang didirikan akan mudah runtuh.
Mematangkan proses berarti menerima setiap kesulitan sebagai guru, setiap kegagalan sebagai koreksi, dan setiap keterlambatan sebagai kesempatan untuk memperbaiki kualitas. Di pesantren, kami diajarkan bahwa kesabaran bukanlah menunggu tanpa usaha, melainkan terus berusaha sambil meyakini bahwa Allah mengatur waktu yang paling tepat. Seseorang yang memfokuskan diri pada proses tidak akan merasa rendah diri ketika melihat orang lain melaju cepat, karena ia memahami bahwa ia sedang membangun kekuatan yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka yang berjalan tergesa-gesa.
III. Menghargai Langkah Kecil: Seni Bersyukur dan Menumbuhkan Diri
Seringkali kita terjebak dalam logika: “Jika belum setinggi orang lain, maka belum berharga.” Pandangan ini lahir dari ketidakmampuan melihat nilai dari perjalanan sendiri. Dalam filsafat Islam, pertumbuhan adalah proses yang bertahap dan berkelanjutan. Sebagaimana matahari tidak terbit sekaligus dalam sekejap, demikian pula kematangan jiwa tidak datang secara instan.
Menghargai langkah kecil berarti memiliki kesadaran intelektual bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan ikhlas meninggikan derajat manusia. Setiap kali kita mampu menahan amarah, setiap kali kita memilih kejujuran meski merugi, setiap kali kita bangkit setelah terjatuh—itulah pertumbuhan yang sesungguhnya. Ini adalah kemenangan yang tidak terlihat oleh mata kasar, namun tercatat dan memiliki bobot yang berat di sisi Sang Pencipta.
Imam Al-Ghazali pernah menuliskan bahwa kebahagiaan dan kedamaian hati lahir dari dua hal: bersyukur atas apa yang dimiliki dan berusaha memperbaiki diri tanpa membandingkan dengan orang lain. Ketika kita berhenti memandang keberhasilan orang lain sebagai standar, kita akan mulai melihat potensi diri sendiri. Kita akan menyadari bahwa perjalanan hidup ini bukanlah perlombaan untuk mengalahkan orang lain, melainkan sebuah perjuangan untuk mengalahkan kelemahan diri sendiri dan mendekatkan diri kepada Allah.
Penutup: Kembali ke Jalan Sendiri
Akhirnya, setelah menempuh perjalanan panjang menuntut ilmu dan merenungi makna kehidupan, saya menyimpulkan bahwa kedamaian hakiki hanya dapat dicapai ketika kita berani berhenti meniru langkah orang lain. Setiap manusia membawa misi dan potensi yang unik. Garis awal yang berbeda bukanlah alasan untuk berputus asa, melainkan tanda bahwa Allah memberikan kesempatan yang spesifik bagi setiap jiwa untuk membuktikan ketaatan dan kesabaran.
Fokuslah pada proses, karena di situlah karakter ditempa. Hargailah setiap langkah kecil, karena ia adalah batu bata yang membangun masa depan. Ingatlah bahwa tujuan akhir kita bukanlah berada di posisi yang sama dengan orang lain, melainkan sampai di hadapan Allah dengan jiwa yang bersih, akhlak yang mulia, dan amal yang diterima.
Maka, sudahlah memandang pencapaian orang lain dengan mata iri atau rendah diri. Alihkanlah pandangan itu ke dalam diri sendiri: lihatlah seberapa jauh kita telah tumbuh dari hari kemarin, dan teruslah berjalan dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang bersabar dan ikhlas.
“Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’”
— (QS. At-Taubah: 105)




