Srikandi Bumi Sriwijaya: AKBP Yenny Diarty, “Ketika Jemari Penembak Jitu Merajut Damai di Bojonegoro Bumi Angling Dharma”

Loading

Detiknews.tv – Bojonegoro | Matahari Bojonegoro belum sepenuhnya terik, namun lembaran sejarah baru telah resmi tertulis. Lewat Surat Telegram Kapolri nomor ST/1336/VI/KEP/2026, AKBP Yenny Diarty, S.I.K., M.H., resmi mengemban amanah sebagai Kapolres Bojonegoro. Penunjukan ini bukan sekadar mutasi biasa, melainkan sebuah tonggak sejarah: Yenny adalah polwan pertama yang memimpin kepolisian di kabupaten tersebut.

Bagi Yenny, bertarung dengan tantangan bukanlah hal baru. Lahir di Palembang 25 Juni 1980, ia merupakan buah hati pasangan Idham Basin dan Hermina yang berasal dari Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan. Kota yang dikenal dengan julukan “Bumi Besemah” di kaki Gunung Dempo populer dengan sebutan Kota Seribu Air Terjun.

Yenny memulai perjalanannya dari korps bintara pada tahun 1998. Setahun berselang, ia langsung mencuri perhatian dengan menyabet predikat peringkat pertama kemampuan menembak, sebuah prestasi yang membawanya dipercaya menjadi instruktur menembak di lembaga pendidikan Polri.

Namun, Yenny tidak lekas puas. Didorong semangat untuk terus berkembang, ia menempuh jalur seleksi Akademi Kepolisian (Akpol) dan sukses lulus sebagai perwira pada tahun 2005.

Langkah kakinya kini bersiap menapak tanah Jawa Timur, membawa pundak yang sarat akan pengalaman. Sebelum Yenny resmi mengemban amanat baru di Bojonegoro, ia telah menenun portofolio karier yang kokoh di Sumatra Selatan. Bukan perjalanan singkat, melainkan sebuah penempaan kepemimpinan yang merentang panjang dari urusan operasional hingga strategi komunikasi publik.

Perjalanan itu dimulai dari ring satu Korps Bhayangkara, saat Yenny dipercaya menjadi staf pribadi pimpinan tertinggi kepolisian. Di posisi inilah intuisi kepemimpinannya mulai terasah, mengamati langsung bagaimana keputusan-keputusan besar tingkat nasional dirumuskan.

Ujian kepemimpinan yang sesungguhnya kemudian berlanjut di lapangan. Sebagai Wakapolres Banyuasin, Yenny dituntut prima dalam mengasah kemampuan manajerial kewilayahan. Ia harus memetakan potensi konflik, merangkul masyarakat lokal, sekaligus memastikan internal organisasi bergerak seirama.

Medan pengabdiannya lalu bergeser ke ranah digital dan ruang pemberitaan saat ia menjabat sebagai Kasubbid Penmas Polda Sumsel. Di era keterbukaan informasi, Yenny menjadi jembatan krusial yang mengelola komunikasi publik dan kemitraan media. Ia adalah wajah institusi yang memastikan setiap informasi tersampaikan secara jernih, akurat, dan menyejukkan ke tengah masyarakat.

Tak lama berselang, Yenny kembali ke jalur operasional yang sibuk dan dinamis. Kali ini tugasnya tidak main-main: menjabat sebagai Kasatlantas Polrestabes Palembang. Kota metropolitan yang padat, riuh, dan penuh tantangan mobilitas. Di bawah kendalinya, urat nadi lalu lintas kota besar ini diatur agar tetap mengalir aman. Ia akrab dengan aspal jalanan, debu kota, dan manajemen kemacetan yang menguras energi setiap hari.

Sebelum akhirnya bersiap angkat koper ke Bojonegoro, Yenny menyelesaikan babak terakhirnya di Bumi Sriwijaya sebagai Kasubdit Regident Ditlantas Polda Sumsel. Jabatan strategis ini menyempurnakan keahliannya dalam bidang administrasi kendaraan dan pelayanan publik yang transparan.

Kini, seluruh jengkal pengalaman di Sumatra Selatan itu telah bertransformasi menjadi modal berharga. Menuju Jawa Timur, Yenny tidak hanya membawa seragam, tetapi juga kepemimpinan yang matang dan siap diuji di tempat yang baru.

Kini, seluruh pengalaman di bidang lalu lintas, humas, dan operasional tersebut menjadi bekal berharga untuk memimpin Polres Bojonegoro. Masyarakat kini menanti inovasi dan sentuhan humanisnya dalam meningkatkan pelayanan kepolisian.

Di balik seragam dinasnya yang tegas, Yenny adalah sosok yang hangat. Publik sempat dihebohkan oleh video viral pada tahun 2023 yang merekam momen manis saat ia digendong oleh sang suami usai upacara kenaikan pangkat.

Momen yang mencuri perhatian netizen tersebut rupanya merupakan bagian dari tradisi internal Polri. Sebuah bentuk penghormatan sekaligus simbol dukungan keluarga yang menjadi pilar penting di balik ketangguhan sang perwira dalam menapaki karier hingga ke puncak komando.

Penulis: Meli Azhar | Editor: Markopik

Redaksi Detiknews.tv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori Berita

BOX REDAKSI