![]()

Opini: Daeng Supri Yanto SH MH
Banjir yang melanda Sumatera, bukan sekadar fenomena alamiah yang tak terhindarkan, melainkan sebuah tragedi ekologis yang memilukan. Bencana ini adalah manifestasi nyata dari pembangunan yang selama ini kita agung-agungkan, namun sayangnya, dilakukan dengan mengabaikan prinsip-prinsip keberlanjutan dan keseimbangan ekosistem. Sumatera, dengan kekayaan alamnya yang melimpah, kini menjadi saksi bisu dari ironi pembangunan yang buta terhadap harmoni ekologis.
1. Degradasi Lingkungan dan Hilangnya Fungsi Ekologis
Banjir di Sumatera adalah konsekuensi logis dari degradasi lingkungan yang masif dan sistematis. Alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan skala besar, pertambangan yang rakus, dan infrastruktur yang ambisius telah menghilangkan fungsi ekologis hutan sebagai penyangga air dan penahan erosi. Hutan yang seharusnya menjadi “paru-paru” pulau, kini tinggal kenangan, digantikan oleh lanskap monokultur yang rentan terhadap bencana.
2. Tata Ruang yang Amburadul dan Minim Pengawasan
Tata ruang yang amburadul dan minim pengawasan menjadi katalisator utama dalam memperparah dampak banjir. Izin-izin pembangunan yang dikeluarkan tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan, serta lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan, telah menciptakan kondisi yang sangat rentan terhadap bencana. Sungai-sungai yang seharusnya menjadi jalur alami aliran air, kini terhimpit oleh bangunan-bangunan ilegal dan sampah yang menumpuk, menyebabkan air meluap dan merendam pemukiman.
3. Paradigma Pembangunan yang Keliru dan Berorientasi Ekonomi Semata
Banjir Sumatera adalah cermin dari paradigma pembangunan yang keliru dan berorientasi ekonomi semata. Pembangunan yang hanya mengukur keberhasilan dari pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan per kapita, tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan, adalah pembangunan yang cacat dan tidak berkelanjutan. Kita telah lama terjebak dalam ilusi bahwa alam adalah sumber daya yang tak terbatas dan dapat dieksploitasi tanpa batas.
4. Dampak Sosial dan Ekonomi yang Merugikan Masyarakat
Banjir Sumatera tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang sangat merugikan masyarakat. Ribuan rumah terendam, infrastruktur rusak parah, lahan pertanian gagal panen, dan aktivitas ekonomi lumpuh total. Masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya pada alam, kini kehilangan mata pencaharian dan terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Bencana ini tidak hanya menghancurkan harta benda, tetapi juga merenggut harapan dan masa depan generasi muda.
5. Perlunya Perubahan Paradigma dan Aksi Nyata
Banjir Sumatera adalah momentum penting untuk melakukan perubahan paradigma dan aksi nyata dalam pembangunan. Kita harus beralih dari pembangunan yang eksploitatif dan merusak lingkungan, menuju pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan antara lain:
– Evaluasi dan Revisi Tata Ruang: Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang yang ada, dan merevisinya dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan risiko bencana.
– Penegakan Hukum yang Tegas: Menegakkan hukum secara tegas terhadap pelaku perusakan lingkungan, tanpa pandang bulu.
– Restorasi Ekosistem: Melakukan restorasi ekosistem yang rusak, melalui reboisasi, penghijauan, dan konservasi lahan.
– Pengembangan Ekonomi Hijau: Mengembangkan ekonomi hijau yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan dan ramah lingkungan.
– Peningkatan Kesadaran Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian alam.
Kesimpulan
Banjir Sumatera adalah tragedi yang seharusnya tidak perlu terjadi jika kita lebih bijak dalam mengelola alam dan lingkungan. Bencana ini adalah panggilan mendesak untuk melakukan perubahan paradigma dan aksi nyata dalam pembangunan. Kita harus belajar dari kesalahan masa lalu, dan membangun masa depan yang lebih baik, di mana pembangunan dan pelestarian lingkungan berjalan seiring sejalan. Hanya dengan menghormati alam dan menjaga keseimbangan ekosistem, kita dapat mewujudkan Sumatera yang lestari dan sejahtera bagi generasi mendatang.



