Tradisi Selendang Mudawaroh atau Kain Kelengkang Kini Diminati Orang luar

 3,345 total views,  2 views today

Tradisi Memakai Selendang Mudawaroh atau Kain Kelengkang

Detiknews.tv – Palembang, Selendang Mudawaroh atau sering disebut dengan Kain kelengkang muncul pada masa Kerajaan Palembang Darussalam, namun mirisnya saat ini keberadaan kain kelengkang ini sudah nyaris punah, menurut  Dra. Isnayanti Syafrida M. Si Alumni FKIP UNSRI Jurusan Sejarah dan juga sebagai Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia kota Palembang ( MSI), saat dihubungi Detiknews.tv melalui jaringan telepon, Rabu 08/04/2020.

Isnayanti menambahkan ia sangat peduli akan tradisi pemakaian selendang mudawaroh atau kain kelengkang ini, ‘’selain mempercantik si pemakai, juga memiliki Sejarah karena dipakai saat masa Kesultanan Palembang Darussalam yang kental nuansa adat dan agama’’,  kata Isnayanti.

Insert : Budayawan Palembang Yudhy Syarofie Saat Dihubungi Rabu 08/04/2020 melalui whatsapp. (foto : dokumentasi Yudhy Syarofie)

Budayawan Palembang Yudhy Syarofie menanggapi hal ini dengan khawatir, ‘’Kini keberadaan kain kelengkang tidak begitu menjadi perhatian bagi masyarakat kota Palembang’’, ‘’ini tugas Pemerintah melalui dinas terkait’’ balas Yudhy, saat dihubungi Rabu 08/04/2020 melalui whatsapp.

Tradisi memakai kain Kelengkang biasanya dipakai oleh orang yang sudah haji, ‘’pas pulang haji’’,  ‘’baik yang baru pulang, maupun si penyambut orang pulang haji’’, orang biasa tidak diperkenankan jelas Yudhy.

Kelengkang sebenarnya adalah nama benang  yang dipakai untuk me-nyulam, adapun jenis dari warna bermacam-macam, ada warna emas dan perak.

Sedangkan sebutan “Mudawaroh” adalah nama selendangnya, jadi mudawaroh ini sebutan untuk nama “Selendang”.

Selendang mudawaroh Atau Kain kelengkang identik dengan penghargaan sosial seseorang, tidak ada hubungannya dengan strata sosial seseorang tetapi jelasnya lagi, pada zaman bingen (Zaman Dulu), mudawaroh atau kelengkang juga simbol identitas.

‘’Contoh Kalau Laki-Laki memakai kopiah putih merupakan simbolnya  ‘’sudah pergi haji’’,

‘’Sedangkan kalau wanita telah memakai selendang mudawaroh, simbolnya wanita tersebut akan menghadiri suatu acara adat, misalnya acara pernikahan, atau untuk mempelai wanita saat melangsungkan akad nikah akan dipakaikan kerudung atau selendang mudawaroh untuk menutupi bagian kepala’’, terang Yudhy lagi.

‘’Masih bersyukur, saat ini tradisi mamakai kain Kelengkang masih dilestarikan orang-orang Kayuagung’’.

Kini kain kelengkang ternyata lebih diminati kalangan orang-orang luar negeri terutama dari negara tetangga dan juga tradisi haji yang memakai mudawaroh kelengkan, justru dilakukan orang-orang Malaysia, mirisnya mereka banyak membeli kain kelengkang tersebut pada pengerajin di kota Palembang, tulis Yudhy.

Diharapkan sesuai Tupoksi Dinas Kebudayaan Kota Palembang,  salah satunya adalah menggali dan melestarikan sekaligus mensosialisasikan kebudayaan khususnya semua kebudayaan yang berada di Kota Palembang, baik yg bersifat tangible maupun intangible, ‘’Sangat disayangkan jikalau nantinya bisa kebudayaan asli dari Kota Palembang ini sampai diakui atau diambil pihak luar’’, Yudhy berharap ‘’hendaknya Dinas Kebudayaan Kota Palembang atau Instansi terkait mengenai hal ini, lebih proaktif dan peduli terhadap budaya kito’’.

Insert : Muttaqin SH Kasi Tradisi & Adat Dinas Kebudayaan Kota Palembang (foto : Detiknews.tv)

Saat dijumpai Detiknews.tv Muttaqin SH Kasi Tradisi & Adat Dinas Kebudayaan Kota Palembang, membenarkan hal ini, ‘’Masyarakat kota Palembang  apalagi kaum milenialnya saat ini sudah tidak begitu banyak lagi yang tahu dan mengenal, apalagi memakai kain kelengkang’’. kata Muttaqin.

‘’Ya memang Keberadaan selendang mudawaroh saat ini sudah langka, satu-satunya yang masih terus memproduksinya adalah home industri (dikelola Cek Tah atau Siti Zainab), yang berada di 11 Ulu’’ ini sudah kita data dan seterusnya akan kita bina ujar Muttaqin.

Insert : Hj. Zanariah S.Ip., M.Si Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang (foto : Detiknews.tv)

Saat dikonfirmasi Detiknews.tv Hj. Zanariah S.Ip., M.Si Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, menjelaskan bahwa Dinas Kebudayaan Kota Palembang bersama-sama masyarakat, menggali sekaligus melestarikan budaya Palembang khususnya,  agar tidak musnah.

‘’Kami melalui Bidang Sejarah mendata mana-mana yang belum didaftarkan menjadi WBTB (Warisan Budaya Tak Benda) Palembang’’, ‘’Jadi kami mulai dari sosialisasi pelaku-pelaku atau pengerajin selendang mudawaroh ini, dan atas saran dari Wakil Walikota Fitrianti Agustinda untuk membantu modal usaha mereka yang bersumberkan dari Bank Palembang’’, ‘’sifatnya tanpa bunga dengan pendaftaran di Bank tersebut untuk penambahan modal’’, kata Zanariah.

‘’Para pengerajin ini juga kami daftarkan di WBTB Kementerian, dan kami akan bicarakan dengan Walikota Harnojoyo untuk memakai selendang ini dihari-hari tertentu’’, tutup Zanariah. (HN)

Redaksi Detiknews.tv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bagikan Masker dan Sembako Kepada Wartawan, Langkah Pemprov Diapresiasi IWO Sumsel

Kam Apr 9 , 2020
 3,346 total views,  3 views today PALEMBANG, Detiknews.TV – Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Wartawan Online (IWO) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sangat mengapresiasi apa yang di lakukan oleh Gubernur Sumsel, H Herman Deru yang dinilai sangat memperhatikan keselamatan dan kebutuhan wartawan di tengah-tengah pandemi Corona Virus COVID 19 yang saat ini sedang mewabah. […]

Kategori Berita

BOX REDAKSI